Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Kemenag Terbitkan 40 Buku Digital PAI untuk Siswa PAUD hingga Mahasiswa
- Investasi 6 Perusahaan TPT Berpotensi Ciptakan Hampir 10.000 Lapangan Kerja
- Bos Toyota: Solusi Atasi Krisis Iklim Bisa Dari Lingkungan Sekitar
- Transjakarta Gandeng APKI-PERDOKI, Perkuat Standar Kesehatan Pramudi
- Umuh Muchtar Optimistis Maung Bandung Makin Kuat
MBG Dan Masa Depan Generasi Indonesia, Cerita Sarapan Pagi Anak Papua
Sabtu, 1 Agustus 2026 11:21 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
RM.id Rakyat Merdeka - Masa depan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan agar anggarannya dipisahkan dari anggaran pendidikan.
Putusan itu tentu harus kita hormati. Karena bersifat final dan mengikat, pemerintah pasti memiliki jalan terbaik untuk menata kembali sumber pembiayaannya agar program ini tetap dapat berjalan tanpa mengurangi kebutuhan penting lainnya di dunia pendidikan.
Satu hal yang harus kita pahami bersama adalah bahwa anak-anak Indonesia membutuhkan pendidikan yang baik, guru yang berkualitas, buku yang memadai, sekolah yang layak, dan makanan bergizi agar tubuh serta pikirannya dapat tumbuh dengan sehat. Kita tidak perlu mempertentangkan makanan dengan pendidikan karena keduanya sama-sama menentukan masa depan anak negeri.
Saya sangat memahami arti Program MBG bagi anak-anak dari keluarga miskin dan tidak mampu. Saya lahir di Fakfak, sebuah daerah yang sangat jauh dari Jakarta, dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Ketika pergi ke sekolah, sarapan pagi merupakan kemewahan yang tidak selalu dapat kami rasakan.
Saya pernah menjadi anak sekolah yang duduk di kelas dengan perut kosong. Tubuh berada di sekolah, tetapi pikiran sulit menerima pelajaran karena rasa lapar terus berkecamuk.
Karena itu, ketika Presiden Prabowo Subianto menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis, saya melihatnya lebih dari sekadar program pemerintah. Saya melihat tangan negara menjangkau anak-anak yang selama ini menjalani pengalaman hidup seperti yang pernah saya alami.
Orang yang setiap pagi dapat memilih menu sarapan mungkin sulit memahami betapa berharganya sepiring makanan bagi seorang anak. Namun, bagi anak-anak di kampung, daerah terpencil, wilayah perbatasan, dan tanah Papua, makanan yang disediakan di sekolah dapat menjadi sesuatu yang mereka tunggu setiap hari.
Baca juga : Transformasi Pariwisata Kalsel Diarahkan Jadi Penggerak Ekonomi Banua
"Banyak komentar mengenai MBG justru datang dari orang-orang yang mungkin belum pernah merasakan laparnya perut ketika sedang bersekolah."
Kita terlalu mudah memperdebatkan angka ketika hidup kita telah berkecukupan. Kita mudah berbicara soal efisiensi saat anak-anak kita tidak pernah berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar.
Kita bahkan dapat mencibir satu porsi makanan karena kita tidak pernah berada dalam posisi harus memilih siapa di dalam keluarga yang boleh makan lebih dahulu. Pilihan sebagian masyarakat bukan lagi makan atau tidak makan, melainkan makanan apa yang mereka sukai atau tidak sukai.
Ada seorang sahabat yang menceritakan masa lalunya. Ia berkisah bahwa setelah ayahnya mengalami kebangkrutan, keluarganya hanya dapat makan satu kali dalam sehari.
Makanan yang sedikit harus lebih dahulu cukup untuk ibu dan adik-adik perempuannya. Anak-anak laki-laki dalam keluarga itu mulai bekerja sejak SMP dan SMA agar kehidupan mereka tetap berjalan.
Keluarga itu berjuang selama bertahun-tahun. Perlahan keadaan mereka membaik. Tiga dari empat bersaudara akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana. Anak yang paling kecil mampu membangun usahanya sendiri meskipun hanya menyelesaikan pendidikan hingga SMA.

Pengalaman seperti inilah yang membuat kita memahami satu perkara penting. Orang yang pernah merasakan lapar tidak akan mudah meremehkan sepiring makanan. Orang yang pernah hidup dalam kesusahan akan mengerti bahwa perhatian negara dapat mengubah arah kehidupan sebuah keluarga.
Baca juga : Golkar Jatim Prioritaskan Peran Anak Muda Dalam Kepengurusan
Presiden Prabowo Subianto memahami persoalan ini. Beliau memilih menjalankan kebijakan yang mungkin lebih mudah diperdebatkan oleh kalangan elite daripada dirasakan oleh mereka yang hidup serba berkecukupan. Namun, bagi jutaan keluarga miskin, MBG memberi pesan bahwa negara melihat mereka, mendengar kesulitan mereka, dan tidak membiarkan anak-anak mereka belajar dengan perut kosong.
Inilah keberanian seorang pemimpin. Presiden tidak hanya menghitung popularitas jangka pendek, tetapi juga memikirkan generasi yang akan hidup jauh setelah masa pemerintahannya berakhir. Anak-anak yang hari ini memperoleh makanan bergizi akan tumbuh menjadi generasi Indonesia pada masa mendatang.
Program sebesar MBG tentu harus terus diperbaiki. Pengawasan wajib diperketat. Penambahan dapur semestinya diprioritaskan di Papua dan daerah yang masih minim layanan, bukan hanya di wilayah yang sudah memiliki banyak fasilitas. Kualitas makanan harus terus dijaga.
Penyalurannya harus tepat sasaran dan setiap rupiah anggarannya wajib dipertanggungjawabkan. Dukungan terhadap program ini tidak berarti kita menutup mata terhadap kekurangannya. Justru karena program ini sangat penting, tata kelolanya harus semakin baik.
Putusan Mahkamah Konstitusi seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk memperkuat dasar anggaran MBG. Pendidikan tetap memperoleh dukungan yang layak, sementara Program Makan Bergizi Gratis mendapatkan sumber pembiayaan yang jelas, kuat, dan berkelanjutan.
Jangan sampai kita memaksa bangsa ini memilih antara isi kepala dan isi perut anak-anaknya. Negara sebesar Indonesia harus mampu mencerdaskan sekaligus menyehatkan generasinya.
Sekolah yang baik akan kehilangan banyak makna apabila anak datang dalam keadaan lapar. Sebaliknya, makanan bergizi juga harus diikuti dengan pembelajaran yang bermutu agar anak memiliki masa depan yang lebih baik.
Baca juga : Shin Tae-yong Doakan Timnas Indonesia Juara Piala AFF 2026
Saya percaya Presiden Prabowo menjalankan program ini dengan ketulusan untuk mengurus rakyat miskin dan tidak mampu. Beliau telah menyelesaikan banyak urusan pribadinya. Kini tenaga, pikiran, dan keberaniannya dicurahkan untuk mengurus republik yang indah ini, negeri yang saya sebut sebagai patahan surga yang jatuh ke bumi.
Indonesia merupakan negara yang penuh berkah. Dalam setiap masa yang sulit, Tuhan selalu menghadirkan orang-orang yang bersedia mengambil tanggung jawab besar. Mereka datang membawa keberanian, bekerja dengan hati, dan memikirkan nasib rakyat yang jauh dari pusat kekuasaan.
Saya percaya Tuhan tidak pernah tidur. Dia selalu hadir pada waktu yang tepat. Pertolongan-Nya dapat datang melalui seorang guru, melalui orang tua yang bekerja tanpa mengenal lelah, melalui makanan yang diberikan kepada seorang anak, maupun melalui kebijakan negara yang dibuat dengan hati yang tulus.
MBG harus terus berjalan. Pendidikan harus terus diperkuat. Keduanya merupakan investasi bagi anak-anak negeri yang kelak menerima estafet kepemimpinan bangsa.
Presiden Prabowo sedang menanam sesuatu yang hasilnya mungkin baru kita lihat bertahun-tahun kemudian. Ketika anak-anak dari Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, dan seluruh pelosok Indonesia tumbuh sehat, cerdas, serta percaya diri, saat itulah kita akan memahami bahwa sepiring makanan yang diberikan hari ini ternyata ikut menentukan masa depan Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya