Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- PMI Manufaktur Juli Kembali Ekspansi, Kadin Minta Tren Positif Dijaga
- Taipei Open 2026, Kalahkan Malaysia, Ganda Garuda Juara
- Kapal Pertamina Patra Niaga Selamatkan 17 Korban KMP Mutiara Sentosa 2
- Jasaraharja Putera Pastikan Perlindungan Bagi Korban KMP Mutiara Sentosa II
- Kasus Bupati Pemalang, KPK Sita Moge hingga Emas dari Penggeledahan
ASEAN di Simpul Multipolarisme: Kepemimpinan Indonesia, Keseimbangan Dinamis, dan Kebangkitan BRICS
Senin, 3 Agustus 2026 19:19 WIB
Adri Arlan Sinaga
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
RM.id Rakyat Merdeka - Posisi strategis kawasan Asia Tenggara dalam lanskap tatanan dunia baru senantiasa menggeliat. Selama beberapa dekade, Amerika Serikat dan negara-negara Barat telah menjadi jangkar utama dalam arsitektur ekonomi dan tata kelola kawasan. Namun, kebangkitan kelompok Global South, yang secara menonjol terepresentasikan oleh koalisi BRICS, menyajikan realitas geopolitik yang tak lagi tunggal. Sebagai kumpulan kekuatan menengah (middle powers), ASEAN kini dihadapkan pada peluang krusial untuk merangkul multipolarisme secara pragmatis, membuka ruang kolaborasi yang lebih luas tanpa harus mengorbankan otonomi dan jati dirinya sebagai penjaga gawang stabilitas Asia Tenggara (Porca-Konjikusic, Hudson Jr., & Jain, 2024; Lee, Sims, & Lee, 2025).
Dalam menavigasi pusaran ini, peran kepemimpinan Indonesia tidak dapat dikesampingkan, baik secara historis maupun kalkulasi kuantitatif. Sebagai negara terbesar di kawasan, fondasi politik luar negeri bebas-aktif Indonesia selalu menempatkan stabilitas Asia Tenggara sebagai kepentingan nasional tertinggi (Darwis & Setiawan, 2024). Secara struktural, bobot demografi dan ekonomi Indonesia menjadikannya pemimpin de facto ASEAN.
Dengan populasi melampaui 280 juta jiwa dan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 1,3 triliun dolar AS, Indonesia merepresentasikan lebih dari 35 persen total kekuatan ekonomi ASEAN yang bernilai agregat sekitar 3,6 triliun dolar AS. Kapasitas kuantitatif inilah yang memberikan Indonesia daya ungkit diplomatik di forum G20 maupun di mata negara-negara BRICS. Bagi Jakarta, kemitraan ekonomi dengan kekuatan eksternal manapun termasuk BRICS hanya dapat diterima jika ia berkontribusi pada penciptaan stabilitas, bukan justru mengimpor rivalitas ke halaman depan kawasan (Maulana, Tonggo, & Darodjat, 2024).
Terkait pemetakan otonomi kawasan ini, teori Regional Security Complex (Kompleks Keamanan Kawasan) dari Buzan dan Wæver (2003) memberikan pijakan yang sangat relevan. Buzan menegaskan bahwa sebuah kawasan memiliki dinamika interaksi internalnya sendiri yang relatif mandiri, dan tidak melulu menjadi subordinasi dari persaingan negara-negara adidaya. Melalui kepemimpinan normatif Indonesia, ASEAN telah membuktikan kemampuannya sebagai entitas yang tangguh dalam mengelola kompleksitas tersebut.
Baca juga : Airlangga Optimistis RI Jadi Pusat MICE Global
Oleh karena itu, berinteraksi dengan platform seperti BRICS bukanlah bentuk penyerahan nasib kawasan kepada poros baru, melainkan langkah proaktif untuk mendiversifikasi opsi pembangunan. ASEAN tidak sedang bergeser dari poros Barat ke poros Timur, melainkan sedang memperluas ruang geraknya sendiri sebagai subjek penentu.
Realitas tatanan global saat ini juga bergerak sejalan dengan konsep Multiplex World (Dunia Multipleks) yang digagas oleh Acharya (2014). Berbeda dengan dunia multipolar yang sekadar membagi ruang kekuasaan kepada beberapa kutub hegemon, dunia multipleks ditandai oleh arsitektur kekuasaan yang berlapis. Di dalamnya, aktor kawasan memiliki daya tawar yang tak kalah pentingnya dengan negara adidaya.
Melalui tesis norm localization (lokalisasi norma), Acharya menjelaskan bagaimana ASEAN memiliki resiliensi kultural dalam menyerap inisiatif eksternal, lalu menyeleksi dan menyesuaikannya dengan nilai-nilai konsensus khas "Cara ASEAN" (ASEAN Way). Fleksibilitas inilah yang membuat identitas Asia Tenggara tetap kokoh.
Kehadiran arus investasi, teknologi, dan kemitraan perdagangan dari negara-negara BRICS pada akhirnya menyediakan instrumen baru untuk mengoptimalkan gagasan Dynamic Equilibrium (Keseimbangan Dinamis) yang dicetuskan oleh mantan Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa (2018). Keseimbangan dinamis bukanlah mekanisme balance of power tradisional gaya Perang Dingin yang berpotensi memicu perlombaan pengaruh secara destruktif (zero-sum game).
Baca juga : PT Lautan Luas Raih 87,13 Penilaian ASEAN Corporate Governance Scorecard 2025
Sebaliknya, konsep ini mensyaratkan pelibatan (engagement) multi-arah dengan berbagai pusat kekuatan untuk mencegah munculnya satu kekuatan hegemonik yang mendominasi kawasan. Keterlibatan aktif aktor-aktor BRICS di Asia Tenggara menjadi elemen penyeimbang yang rasional bagi arsitektur ekonomi peninggalan Barat, menciptakan struktur yang lebih inklusif dan membuka keran tata kelola global yang lebih berkeadilan.
Kendati prospek ekonomi ini sangat menjanjikan, cara pandang kritis mutlak dijaga. BRICS bukanlah entitas monolitik yang sepenuhnya solid; di dalamnya bernaung dinamika internal yang cukup tajam, seperti friksi perbatasan laten antara Tiongkok dan India, hingga beban geopolitik berupa sanksi ekonomi berlapis yang menjerat Rusia (Mbara & Graham, 2024). Mengelola hubungan dengan BRICS menuntut kecerdasan diplomatik agar ASEAN tidak terseret menjadi instrumen proksi atau terkesan mengadopsi postur anti-Barat. Analisis kuantitatif dari laporan survei tahunan ISEAS–Yusof Ishak Institute (2024) secara empiris mengonfirmasi hal ini.
Data menunjukkan sentimen mayoritas pembuat kebijakan dan elite di Asia Tenggara secara konsisten menolak pilihan biner yang eksklusif, serta mengedepankan strategi diversifikasi mitra. Angka-angka tersebut mencerminkan preferensi strategis ASEAN untuk mempraktikkan hedging tingkat lanjut: mengambil manfaat ekonomi yang maksimal dari kebangkitan Global South, namun di saat bersamaan tetap merawat dan memperdalam arsitektur kerja sama strategis dengan negara-negara Barat.
Proses navigasi ASEAN sebagai kekuatan menengah di era tatanan dunia yang terus bermutasi adalah tentang merawat ruang kemandirian strategis. Rangkulan kolaborasi ekonomi dengan BRICS harus diletakkan murni dalam kerangka untuk memperkuat sentralitas ASEAN. Kemitraan dengan koalisi Global South merupakan keniscayaan sejarah untuk mendongkrak pemerataan pembangunan regional. Namun, langkah tersebut hanya akan bermakna jika Indonesia terus mengambil peran kepemimpinan yang asertif, memastikan bahwa Asia Tenggara tetap menjadi arsitek bagi masa depannya sendiri.
Baca juga : ASEAN TUC Perkuat Kepemimpinan Perempuan
Daftar Referensi
Acharya, A. (2014). The end of American world order. Polity Press.
Buzan, B., & Wæver, O. (2003). Regions and powers: The structure of international security. Cambridge University Press.
Darwis, D., & Setiawan, A. A. (2024). Indonesia's Strategic Diplomacy and BRICS Membership: Opportunities and Risks in a Multipolar Global Order. Global South Review. DOI: 10.22146/globalsouth.106796
ISEAS–Yusof Ishak Institute. (2024). The state of Southeast Asia: 2024 survey report. ISEAS.
Lee, T. F., Sims, J. P., & Lee, Y. T. (2025). BRICS Expansion: Threat or Opportunity for ASEAN? India Quarterly: A Journal of International Affairs, 81(2), 130–157. DOI: 10.1177/09749284251328226
Maulana, M., Tonggo, C., & Darodjat, R. (2024). Legal Personality of BRICS and Implication Toward Indonesia's Foreign Trade Policy After Joining as New Member. Transnational Business Law Journal, 5(2). DOI: 10.23920/transbuslj.v5i2.2152
Mbara, G. C., & Graham, S. (2024). Is BRICS Losing its Global Relevance? A Retrospective View of the 2023 Summit in Johannesburg, South Africa. African Renaissance, 21(3), 123–146. DOI: 10.31920/2516-5305/2024/21n3a6
Natalegawa, M. (2018). Does ASEAN matter? A view from within. ISEAS–Yusof Ishak Institute.
Porca-Konjikusic, S., Hudson Jr., P. L., & Jain, H. L. (2024). Global Economic Integration: How do ASEAN and BRICS organizations contribute to the process? BRICS Journal of Economics, 5, 155-168. DOI: 10.3897/brics-econ.5.e121010
Adri Arlan Sinaga
Mahasiswa Doktoral (S3) Hubungan Internasional di University of International Business and Economics (UIBE), Beijing. Fokus kajiannya mencakup kebijakan luar negeri, keamanan global, serta dinamika geopolitik ASEAN dan BRICS. Kontak email: [email protected]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya