Dark/Light Mode

Bawa Pesan Soal Selat Hormuz Dan LCS

Menlu Amerika Sampaikan Warning Keras Di ASEAN

Kamis, 23 Juli 2026 06:10 WIB
Dari kiri, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow, Menteri Luar Negeri Timor Leste Bendito dos Santos Freitas, Menteri Luar Negeri Vietnam Le Hoai Trung, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn, Menteri Luar Negeri Brunei Pangeran Abdul Mateen Bolkiah, dan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono berpose untuk foto bersama selama Konferensi Pasca-Pertemuan Menteri ASEAN dengan Amerika Serikat di sela-sela Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Kota Pasay, Metro Manila, Filipina, Rabu (22/7/2026). Foto AARON FAVILA/POOL VIA REUTERS
Dari kiri, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow, Menteri Luar Negeri Timor Leste Bendito dos Santos Freitas, Menteri Luar Negeri Vietnam Le Hoai Trung, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn, Menteri Luar Negeri Brunei Pangeran Abdul Mateen Bolkiah, dan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono berpose untuk foto bersama selama Konferensi Pasca-Pertemuan Menteri ASEAN dengan Amerika Serikat di sela-sela Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Kota Pasay, Metro Manila, Filipina, Rabu (22/7/2026). Foto AARON FAVILA/POOL VIA REUTERS

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) Marco Rubio membawa dua pesan utama dalam Pertemuan Menlu ASEAN (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara) di Manila, Filipina, Rabu (22/7/2026). Washington menegaskan, Iran tidak boleh menguasai Selat Hormuz, sekaligus menekankan komitmennya menjaga kebebasan navigasi di Laut China Selatan (LCS).

Rubio mengatakan, jika dunia membiarkan Iran mengendalikan Selat Hormuz, itu akan menjadi preseden berbahaya bagi jalur pelayaran internasional. Termasuk di kawasan Asia.

“Jika kita menciptakan preseden di Timur Tengah, sebuah negara dapat menguasai jalur pelayaran internasional, memungut biaya dan meledakkan kapal yang tidak membayar, maka preseden itu dapat terulang di kawasan lain,” papar Rubio.

Baca juga : Aura Kasih Diam-diam, Sudah Lama Punya Pacar

Dia menegaskan, Iran tidak memiliki dasar hukum internasional untuk mengendalikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Menurutnya, prinsip kebebasan navigasi harus dipertahankan.

Menurutnya, AS tetap membuka pintu diplomasi dengan Teheran. Namun, Iran belum menunjukkan keseriusan dalam proses perundingan.

“Jika mereka serius, kami juga akan serius. Jika tidak, kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan dan para sekutu kami,” tegas Rubio.

Baca juga : Asing Borong Saham: IHSG Menanjak, Rupiah Menguat

Terpisah, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan, operasi militer terhadap sasaran Iran telah memasuki malam ke-11 berturut-turut.

Washington menyebut, operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Rubio juga mengaitkan isu Selat Hormuz dengan sengketa Laut China Selatan, salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia yang menjadi lokasi tumpang tindih klaim China dengan sejumlah negara ASEAN.

Baca juga : Pangkalannya Dirudal Iran, 100 Tentara AS Luka-luka

Dalam artikel opini yang diterbitkan media Filipina sebelum pertemuan, Rubio menuding Beijing menciptakan ancaman baru yang bersifat koersif terhadap negara-negara Asia Tenggara. Dia menegaskan, AS akan terus membela kebebasan navigasi dan memenuhi komitmen pertahanannya kepada sekutu di kawasan.

Di sela-sela forum ASEAN, Rubio dijadwalkan bertemu Menlu China Wang Yi. Pertemuan itu diperkirakan membahas persiapan kemungkinan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada September mendatang.

Meski hubungan Washington-Beijing masih diwarnai ketegangan, kedua negara belakangan berupaya menjaga stabilitas hubungan melalui dialog tingkat tinggi.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.