Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
MASINDO Dorong Budaya Sadar Risiko untuk Bangun Masyarakat Tangguh
Selasa, 22 Juli 2025 17:50 WIB
Sebelumnya
Lebih lanjut, Dimas mengungkapkan dua tipe masyarakat dalam menyikapi risiko. Pertama, yang tidak sadar risiko dan cenderung bertindak impulsif.
Kedua, yang sadar risiko namun tetap mengabaikannya karena merasa aman secara pribadi.
“Padahal kalau kita tahu risikonya, kita bisa memitigasinya. Misalnya, saat berkendara motor tanpa helm, itu berisiko. Tapi kalau pakai helm, kita bisa mengurangi dampak negatif atau risikonya jika terjadi kecelakaan. Sama dengan penggunaan safety belt. Itulah prinsip pengurangan risiko—harm reduction,” jelasnya.
MASINDO juga menyoroti pentingnya strategi pengurangan bahaya (harm reduction), termasuk dalam kebiasaan merokok.
Baca juga : PGN Dorong Anak Muda Bangun Karier dan Kontribusi Nyata Lewat YOTNC 2025
Meskipun berhenti merokok adalah ideal, MASINDO mendorong penggunaan produk alternatif seperti rokok elektronik, produk tembakau dipanaskan, atau kantong nikotin yang memiliki risiko lebih rendah karena tidak melalui proses pembakaran.
“Idealnya berhenti merokok. Tapi faktanya, banyak yang kesulitan. Di situ kita dorong penggunaan produk alternatif yang risikonya lebih rendah, seperti rokok elektronik, produk tembakau dipanaskan, atau kantong nikotin,” kata Dimas.
“Produk ini tetap mengandung nikotin, tapi tidak melalui pembakaran, sehingga tidak menghasilkan tar dan ribuan zat berbahaya lainnya.”
Kampanye #KurangiRisiko menjadi pendekatan MASINDO untuk mendorong perubahan perilaku secara bertahap.
Baca juga : Skuad Maung Bandung Bangun Keakraban Di Thailand
“Kalau orang belum bisa berhenti, jangan dipaksa. Tapi beri jalan transisi yang realistis. Lebih baik ada progres kecil daripada tidak sama sekali,” tegasnya.
Menurut Dimas, budaya sadar risiko harus dimulai dari kebiasaan kecil, dilakukan secara konsisten, dan dimulai dari diri sendiri. Jika dilakukan secara luas, kebiasaan ini akan menjadi budaya kolektif.
“Maka, nantinya budaya sadar risiko ini akan jadi sesuatu yang besar,” kata Dimas.
Edukasi risiko, tambahnya, harus menitikberatkan pada manfaat jangka panjang, bukan rasa takut.
Baca juga : BUMD: Apa Kontribusi Untuk Pembangunan Daerah?
“Sadar risiko bukan tentang menjadi takut, tapi menjadi lebih bijak. Karena yang kita hadapi bukan sekadar kemungkinan, tapi masa depan,” tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya