Dark/Light Mode

PLN EPI dan KSBSI Dorong Budaya Kerja Berkeadilan dan Praktik ESG di Dunia Usaha

Sabtu, 31 Mei 2025 19:24 WIB
Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan
Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan

RM.id  Rakyat Merdeka - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) menekankan pentingnya penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta pembangunan budaya kerja yang berkeadilan dan berkelanjutan dalam dunia ketenagakerjaan.

Komitmen tersebut disampaikan dalam diskusi publik bertajuk “Fair Labour and ESG: Membangun Budaya Kerja yang Berkelanjutan” yang diselenggarakan oleh SocialImpact.ID, Kamis (8/5/2025).

Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan menjelaskan, meskipun baru berdiri secara resmi pada 2023, PLN EPI telah menjalankan berbagai inisiatif untuk membangun tata kelola perusahaan yang inklusif dan berorientasi keberlanjutan.

“Kami mengelola seluruh kebutuhan energi primer PLN Grup, mulai dari batubara, gas, bahan bakar minyak, hingga biomassa. Semua diarahkan untuk mendukung transisi energi dan pencapaian Net Zero Emissions 2060,” ujar Mamit.

Baca juga : PLN Icon Plus dan APKASI Dorong Pemerataan Digitalisasi dan Energi Terbarukan

Menurutnya, PLN EPI juga membentuk Direktorat khusus biomassa dan mendorong program cofiring berbasis limbah organik sebagai substitusi batubara.

Sementara itu, perusahaan juga memperkuat budaya kerja internal melalui integrasi nilai-nilai AKHLAK, pelatihan lintas unit, serta program sosial Employee Volunteering Program (EVP) seperti donor darah, penanaman mangrove, dan Jumat Berkah.

“Target kami bukan hanya efisiensi operasional, tapi juga menciptakan tempat kerja yang membahagiakan. Kami memiliki fasilitas penitipan anak, ruang laktasi, dan nilai engagement score kami tahun lalu mencapai 80,58,” kata Mamit.

Presiden KSBSI Elly Rosita Silaban menambahkan, penyelesaian isu-isu ketenagakerjaan perlu dilakukan dengan pendekatan kolaboratif melalui dialog sosial.

Baca juga : Di SIDSSA 2025, RI Dorong Infrastruktur Berkelanjutan Dan Transisi Energi

“Kita tak bisa terus menggunakan pendekatan naming and shaming. Perlu ruang dialog yang sehat agar pekerja merasa aman dan mau terlibat dalam serikat,” ujarnya.

Elly juga mengungkapkan masih adanya ketimpangan kapasitas antara serikat pekerja dan pengusaha dalam hal riset dan pelaporan publik.

“Buruh sering kalah dalam narasi karena tidak punya akses pendanaan untuk membuat kajian. Padahal banyak praktik baik di lapangan yang tidak terdokumentasikan,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengapresiasi perusahaan seperti PLN EPI yang membuka ruang kolaborasi dan melibatkan pekerja dalam proses pengambilan kebijakan.

Baca juga : PNM Siap Wujudkan Keuangan Syariah Berkelanjutan Lewat Program Mekaar

“Kami ingin hadir bukan sekadar menuntut, tapi juga memberi kontribusi untuk keberlangsungan bisnis,” tegasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.