Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- BPK Hormati Proses Hukum KPK, Pegawai Terlibat Akan Disidang Etik
- Kejagung Ungkap Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Terima Suap Rp 4,3 Miliar
- Pramono Sediakan Ruang Nobar Piala Dunia, Asal Jangan Ganggu Jam Kerja
- KPK Sita Rp 200 Juta dan Mobil SUV dari Kasus Suap Audit BPK
- Nama Disebut di Sidang Bea Cukai, Ini Klarifikasi Raffi Ahmad
RM.id Rakyat Merdeka - Penyakit gusi jangan dipandang sepele. Karena di balik gejalanya, gangguan kesehatan ini menyimpan dampak serius, mulai dari menurunnya produktivitas masyarakat hingga meningkatnya risiko penyakit tidak menular dan beban ekonomi negara.
Unilever Indonesia menggelar Indonesia Hygiene Forum 2025 (IHF 2025) melalui brand Pepsodent, Kamis (18/12/2025).
Forum ini mengangkat hasil kajian ilmiah terbaru yang menunjukkan kuatnya korelasi antara penyakit gusi dan turunnya produktivitas, serta keterkaitannya dengan berbagai penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional The Journal of Dentistry berjudul “The Burden of Periodontal Disease in Southeast Asia (Indonesia and Vietnam): A Call to Action”. Data global menunjukkan skala masalah yang mengkhawatirkan.
Baca juga : Dembele Ungguli Mbappe Dan Salah, Raih The Best FIFA 2025
Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan Elvieda Sariwati mengungkapkan, bahwa berdasarkan Program Cek Kesehatan Gratis yang telah menjangkau 63,5 juta penduduk, masalah gigi dan mulut masuk dalam lima besar keluhan kesehatan di semua kelompok usia.
Elveida mengatakan, kondisi ini menandakan perlunya penguatan edukasi dan kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan gusi.
“Melalui Rencana Aksi Nasional dengan empat pilar utama, kami mendorong kolaborasi berbagai pihak untuk pencegahan dan penanganan kesehatan gigi dan mulut secara berkelanjutan,” ujar Elvieda dalam keterangan tertulisnya, Jumat (19/12/2025).
Sementara itu, Personal Care Community Lead Unilever Indonesia Ratu Mirah Afifah menegaskan, Unilever Indonesia berkomitmen dalam.melindungi kesehatan masyarakat.
Baca juga : Dukung Keberlanjutan, Mawatu Hadirkan Transformasi Arsitektur Di Labuan Bajo
Menurutnya, Indonesia Hygiene Forum menjadi wadah penting untuk menyebarluaskan fakta ilmiah tentang penyakit gusi yang selama ini luput dari perhatian publik.
“Penyakit gusi merupakan silent killer. Pada tahap awal sering tidak menimbulkan rasa sakit, sehingga banyak penderita datang berobat ketika kondisinya sudah parah dan membutuhkan perawatan kompleks,” ujarnya.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Amaliya memaparkan sejumlah faktor yang membuat masyarakat Indonesia rentan terhadap penyakit gusi.
Di antaranya adalah rendahnya literasi kesehatan gigi dan mulut, tingginya kebiasaan merokok, pola makan tidak seimbang, konsumsi gula berlebih, serta keterbatasan tenaga kesehatan gigi.
Baca juga : Bangun SDM Kompetitif dan Adaptif, INALUM Gelar ICLF 2025
Tak hanya berdampak pada produktivitas, penyakit gusi juga meningkatkan risiko penyakit tidak menular, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dicky Levenus Tahapary menjelaskan, adanya hubungan dua arah antara diabetes dan penyakit gusi.
"Penderita diabetes memiliki risiko hingga tiga kali lipat mengalami penyakit gusi yang lebih parah, sementara infeksi gusi juga menyulitkan kontrol gula darah,” ujar Dicky.
Ia menambahkan, selain itu bakteri penyebab penyakit gusi juga berpotensi memicu peradangan pada jantung dan pembuluh darah.
"Penting untuk edukasi sejak usia sekolah, hingga kampanye promotif-preventif di tingkat Posyandu dan Puskesmas.Edukasi menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoridejuga terus digalakkan sebagai langkah preventif sederhana namun berdampak besar," ujar Dicky.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya