Dark/Light Mode

Pesisir Utara Dan Pulau Seribu Terendam

Banjir Rob Makin Parah Akibat Penurunan Tanah

Rabu, 18 Desember 2024 06:50 WIB
Warga melakukan aktivitas saat banjir melanda Kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, Selasa (17/12/2024). (Foto: Putu Wahyu Rama/RM)
Warga melakukan aktivitas saat banjir melanda Kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, Selasa (17/12/2024). (Foto: Putu Wahyu Rama/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banjir akibat pasang air laut atau banjir rob di wilayah pesisir utara dan kepulauan seribu, kini semakin memprihatinkan. Permukaan air makin tinggi yang disinyalir akibat penurunan muka tanah.

Fenomena banjir rob yang terjadi di pesisir Jakarta beberapa waktu belakangan ini membuat sejumlah wilayah terendam air dengan ketinggian hingga 100 centimeter. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat, luapan air laut merendam sem­bilan Rukun Tetangga (RT) pada Senin (16/12/2024). Rincian­nya, sebanyak tiga RT berada di wilayah Jakarta Utara (Jakut) dan enam RT di Kepulauan Seribu.

Kepala Pusat Data dan Infor­masi (Kapusdatin) Kebencanaan BPBD DKI Jakarta Mohammad Yohan menuturkan, penurunan tanah mengakibatkan kawasan pe­sisir Jakarta semakin rentan alami banjir rob. Hal ini sulit diatasi tanpa perubahan signifikan dalam pengelolaan sumber daya air.

Yohan mengungkapkan, BPBD bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) te­lah melakukan beberapa penanganan banjir rob. Di antaranya, pembangunan infrastruktur tanggul laut, peningkatan sistem drainase, normalisasi sungai, pembangunan waduk dan sistem penampungan air.

Baca juga : Red Sparks Vs Pink Spiders, Megatron-Bukilic Menyala

“Selain itu, kami memberi­kan pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat, merelokasi dan penataan kawasan, serta berkolaborasi dengan pihak swasta,” imbuhnya.

Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum menjelaskan, banjir rob terjadi bersamaan dengan fase bulan purnama yang mengakibatkan pasang air laut meningkat secara maksi­mum. Sehingga, air laut pasang tersebut meluap ke daratan yang menyebabkan banjir rob.

Pasang air laut ini dipengaruhi gravitasi bulan dan matahari. Ketika bulan berada di titik purnama (posisi bulan terlihat bulat sempurna dengan seluruh permukaannya terlihat terang). Kondisi ini yang kemudian memicu banjir rob di wilayah pesisir pantai. Hal ini merupakan fenomena alam yang berkaitan dengan pasang air laut.

“Saat pasang air tinggi, terutama pada fase bulan purnama atau bulan baru, permukaan air laut naik dan bisa mencapai daratan rendah yang berada dekat dengan garis pantai,” jelas Ika di Jakarta, Senin (16/12/2024).

Baca juga : Nadia Vega, Sudah Menjanda

Ika menambahkan, durasi banjir rob bervariasi tergantung beberapa faktor. Seperti siklus pasang surut, topografi wilayah dan kondisi cuaca. Banjir rob biasanya berlangsung sekitar dua hingga enam jam saat pasang.

“Kondisi rob juga dipengaruhi faktor topografi wilayah. Di wilayah pesisir dengan permu­kaan tanah rendah atau di bawah permukaan laut, air rob bisa ter­perangkap lebih lama,” katanya.

Untuk mengurangi genangan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas SDA DKI mengoptimalkan opera­sional pompa stasioner maupun mobile untuk dapat mengalirkan air. Dan optimalisasi saluran drainase agar air mengalir dengan lancar.

Untuk langkah jangka pan­jang, papar Ika, Pemerintah terus menggenjot pembangunan tanggul pengaman pantai mela­lui program National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) Fase A sepanjang 39 kilometer (km). Program ini sinergi Pemprov DKI dengan Kementerian Pekerjaan Umum, untuk mencegah air laut masuk ke daratan saat pasang air laut. Selain itu, membangun sistem polder pengendali rob yang di­lengkapi bendungan karet untuk menahan air laut supaya tidak melimpas kembali ke daratan.

Baca juga : Sembako Rakyat Bebas Pajak

“Upaya pengendalian penu­runan muka tanah (land subsidence) juga terus digaungkan. Salah satunya dengan pem­batasan penggunaan air tanah melalui Zona Bebas Air Tanah yang akan diperluas wilayah­nya,” terang Ika.

Dinas SDADKI juga terus mengembangkan teknologi un­tuk memprediksi dan mitigasi kejadian banjir rob. Sehingga dapat memperingatkan warga kota ketika ada potensi akan terjadi banjir. Selain itu, melaku­kan pendekatan berbasis alam dengan penanaman mangrove yang merupakan kerja sama perangkat daerah terkait dengan pihak swasta.

“Upaya ini membutuhkan peran warga untuk menjaga in­frastruktur di pesisir seperti tang­gul dan tidak membuang sampah sembarangan,” kata Ika.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.