Dark/Light Mode

Diskon Tarif Listrik Bikin Jakarta Alami Deflasi Minus 1,50 Persen Pada Januari 2025

Senin, 3 Februari 2025 21:54 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Arlyana Abubakar. (Foto: Ist)
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Arlyana Abubakar. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menyatakan pada Januari 2025 mencatatkan deflasi sebesar -1,50 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month to month), setelah pada bulan sebelumnya mengalami inflasi 0,37 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Arlyana Abubakar menjelaskan, deflasi pada Januari 2025 terutama bersumber dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, kelompok transportasi, serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan.

Sementara itu, beberapa kelompok seperti makanan, minuman dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan inflasi. Dengan perkembangan tersebut, inflasi Jakarta pada Januari 2025 tetap terkendali, yakni sebesar 0,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year), serta lebih rendah dibandingkan inflasi Nasional (0,76 persen; yoy).

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat deflasi sebesar -9,20 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan lalu (-0,01 persen; mtm). Deflasi pada kelompok tersebut utamanya disebabkan oleh kebijakan insentif diskon 50 persen untuk listrik di bawah 2.200 VA yang berlaku pada Januari—Februari 2025.

Baca juga : BPBD Jakarta Mencatat Sebanyak 1.810 Kejadian Bencana Sepanjang 2024

"Meskipun demikian, terdapat komoditas pada kelompok tersebut yang mengalami inflasi, yakni sewa rumah seiring dengan pola siklikal terkait penyesuaian tarif sewa rumah di awal tahun," ungkap Arlyana dalam keterangannya, Senin (3/2/2025).

 Selanjutnya, kelompok transportasi mencatat deflasi sebesar -0,23 persen (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya (0,01 persen; mtm) seiring menurunnya harga tiket angkutan udara dan tarif kereta api terkait dengan normalisasi permintaan masyarakat pasca HBKN Nataru.

Meskipun demikian, terdapat komoditas pada kelompok transportasi yang mengalami inflasi, yakni bensin seiring dengan adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi. Kelompok lainnya yang menjadi penyumbang deflasi yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan deflasi sebesar -0,17 persen (mtm), utamanya disebabkan oleh penurunan tarif telepon seluler.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,82 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan lalu (1,33 persen; mtm). Tekanan inflasi pada kelompok tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas cabai merah dan cabe rawit yang disebabkan oleh keterbatasan pasokan dan gangguan produktivitas akibat gangguan cuaca di wilayah sentra.

Baca juga : Tarif Air PAM Jakarta Naik 71 Persen, Warga Rusun Protes Ngadu Ke Gubernur

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi sebesar 0,70 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan lalu (0,76 persen; mtm). Tekanan inflasi pada kelompok ini terutama bersumber dari kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan berlanjutnya tren kenaikan harga emas global.

Realisasi inflasi Jakarta yang masih terkendali tidak terlepas dari hasil sinergi, kolaborasi, serta koordinasi yang baik dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta.

Selama Januari 2025, TPID Provinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai kegiatan dalam rangka pengendalian inflasi, antara lain (1) Penyelenggaraan program Pasar Murah, Pangan Bersubsidi, dan SPHP sepanjang Januari 2025; (2) Penandatanganan MoU contract farming antara FS dengan lebih dari 9 (sembilan) mitra Gapoktan dan BUMD di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur; (3) Fasilitasi distribusi pangan pada program Pasar Murah yang diselenggarakan oleh Food Station di berbagai wilayah Jakarta;

(4) Kegiatan Penandatanganan Kerja Sama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur tentang Kerja Sama Pembangunan Daerah; serta (5) Capacity Building TPID Provinsi DKI Jakarta dengan tema “Sinergi Anggota TPID untuk Ketahanan Pangan, Stabilitas Inflasi, dan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif serta Berkelanjutan”.

Baca juga : MYOH Targetkan 35 Juta BCM Volume Overburden Pada 2025

Ke depan, sinergi antara Pemerintah Daerah dengan Bank Indonesia serta seluruh stakeholder terkait yang tergabung dalam TPID DKI Jakarta akan terus diperkuat untuk memastikan strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif) dapat berjalan baik dan efektif, utamanya melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Dengan berbagai upaya tersebut, inflasi Jakarta pada 2025 diharapkan dapat tetap dijaga dalam sasaran 2,5±1 persen.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.