Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Wawancara Khusus Dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung
Jakarta Menuju Kota Bisnis Internasional
Rabu, 28 Mei 2025 08:00 WIB
Sebelumnya
Ada beberapa daerah yang langganan banjir seperti Kalibata, Condet, dan Pasar Minggu. Apa upaya Pemprov DKI untuk menangani banjir di kawasan rawan tersebut? Bagaimana upaya merelokasi warga di sana?
Kalau ditanya titik rawan, ya pasti Kalibata, Condet, Pasar Minggu. Itu tiap ada kiriman dari hulu pasti banjir. Termasuk Manggarai. Kami sudah siapkan rusun-rusun untuk warga di bantaran sungai. Jadi kalau nanti normalisasi sungai berjalan, warga bisa pindah. Tapi memang, enggak gampang. Ada saja yang balik lagi ke bantaran karena merasa nyaman disitu, meski sudah direlokasi.
Saya selalu bilang, kami enggak mau menggusur. Karena masalahnya bukan cuma tempat tinggal. Tapi juga penghidupan. Dulu warga bantaran itu rata-rata berdagang. Begitu dipindah ke tempat baru yang enggak ada aktivitas ekonomi, ya mereka kesulitan.
Baca juga : Mohammad Toha: Jangan Sampai Rakyat Bingung Dan Terbebani
Waktu selesaikan kasus Kampung Bayam, kita kasih pekerjaan yang sesuai kemampuan mereka. Rata-rata petani kota, jadi kami berdayakan di situ. Produk mereka dibeli BUMD. Jadi mereka punya penghasilan tetap. Rata-rata sekarang bisa sampai Rp5 juta per bulan. Itu jauh lebih baik. Dulu bayar sewa Rp1,8 juta, sekarang aman karena ada kepastian pendapatan. Intinya, menyelesaikan persoalan Jakarta itu enggak bisa buru-buru, dan enggak bisa potong kompas. Harus sistematis dan manusiawi. Ya, harus diakui memang problemnya kompleks banget. Dan dulu tuh enggak transparan. Sekarang saya buat semuanya transparan.
Pemindahan ibu kota ke IKN direncanakan pada tahun 2028. Bagaimana masa depan Jakarta setelah tidak lagi menyandang status ibu kota negara?
Banyak kota-kota besar dunia yang dulunya pernah jadi ibu kota, tapi sekarang tidak lagi. Salah satunya New York. New York dulu ibu kota Amerika, sekarang bukan. Tapi justru sekarang New York jadi kota global nomor satu di dunia. Jakarta saat ini ada di peringkat 74 dari 156 kota global. Nomor dua London, nomor tiga Paris, lalu ada Singapura di posisi ketujuh. Kenapa New York bisa nomor satu? Karena ukuran utama kota global itu bukan sekadar jadi ibu kota. Tapi gimana sumber daya manusianya dimanfaatkan, infrastrukturnya lengkap, budaya berkembang, dan teknologi berjalan.
Baca juga : Aartje Tehupeiory: Sertipikat Elektronik Jadi Solusi Modern
New York sekarang malah jadi ibu kotanya PBB. Nah, Jakarta juga punya potensi itu. Markas ASEAN sekarang ada di kawasan Blok M. Makanya saya fokus betul menata Blok M. Kalau sekarang ke sana, Anda pasti kaget. Kita tata kawasan itu dengan serius. Dari industri, restoran, sampai ruang-ruang publiknya.
Kami baru resmikan ruang bawah tanah di Blok M, hasil desain seorang arsitek. Ternyata, baru disentuh sedikit aja, Blok M sudah ramai banget. Sekarang banyak pihak berlomba-lomba mau masuk ke Blok M lagi. Pencanangan HUT Jakarta ke-498 dilakukan di Blok M. Jadi ke depan, kalau Jakarta enggak lagi jadi ibu kota negara, menurut saya malah bisa lebih menguntungkan. Kalau Blok M bisa benar-benar jadi kawasan yang aman dan nyaman, dan Blok M Plaza terus tumbuh, saya yakin kawasan ini bakal makin ramai.
Maksudnya lebih menguntungkan bagaimana, Pak?
Baca juga : Gerindra Ajak Parpol Se-Asia Bangun Rasa Saling Percaya
Misalnya soal perpajakan. Memindahin pusat pajak dari Jakarta ke IKN itu enggak mudah. Sistemnya semua terpasang di sini. Jadi meskipun nanti pusat politik pindah, kontribusi Jakarta ke pusat justru tetap besar. Dan jujur, saya ingin Jakarta nanti bisa di-rebranding sebagai kota ASEAN. Karena markasnya di sini. Itu memberi peluang luar biasa. Jadi Jakarta ke depan harus jadi kota global. Pusat bisnis, bukan cuma nasional, tapi juga internasional.
Apakah ada kota tertentu yang menjadi tolok ukur (benchmark) Jakarta dalam menuju kota global?
Benchmarking-nya jelas, kota-kota besar dunia. Kalau saya pribadi, kita harus kejar Bangkok. Bangkok sekarang kota global peringkat 47. Jakarta di posisi 74. Padahal jumlah penduduk kita dan Bangkok itu kurang lebih sama. Bedanya, saat pagi hari jumlah orang di Jakarta bisa mencapai 14 juta karena banyak yang datang dari luar kota. Bangkok sekitar 10–11 juta. Kenapa benchmarking ke Bangkok? Karena kulturnya mirip. Mereka bisa manfaatkan budaya, makanan, dan pengalaman lokal jadi kekuatan. Kita juga bisa. Kuliner kita enggak kalah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya