Dark/Light Mode

Disampaikan Ahok Usai Ketemu Pram

Proyek Normalisasi Sungai Ciliwung Akan Digeber Lagi

Jumat, 29 Agustus 2025 06:25 WIB
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung (kiri), memantau kondisi sungai menggunakan perahu karet saat kegiatan susur sungai di Kanal Banjir Barat, Jakarta. (Foto: Rizki Syahputra/RM)
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung (kiri), memantau kondisi sungai menggunakan perahu karet saat kegiatan susur sungai di Kanal Banjir Barat, Jakarta. (Foto: Rizki Syahputra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Proyek mangkrak normalisasi Sungai Ciliwung bakal digeber lagi. Rencana itu ditandai dengan langkah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang sudah menerbitkan Penetapan Lokasi (Penlok) untuk pembebasan lahan.

Mantan Gubernur DKI Jakar­ta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menyambangi Balai Kota, untuk bertemu dengan Gubernur Pram. Mereka ngobrol tentang berbagai topik, antara lain nor­malisasi Sungai Ciliwung yang sudah mangkrak lama.

Pertemuan tertutup selama 30 menit di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (20/8/2025) ini, membahas sejumlah isu strategis terkait masa depan Jakarta, antara lain penanganan banjir.

Dalam kesempatan itu, Ahok menyinggung proyek normalisasi Sungai Ciliwung yang terhenti, setelah dia tidak lagi menjabat sebagai Gubernur Jakarta. “Dulu masih ada 16 ki­lometer yang belum dibebaskan. Laporan dari teman-teman di Badan Wilayah Sungai Cisadane Ciliwung (WSCC), sudah mulai berjalan lagi,” katanya.

Dia menjelaskan, sejak lama, lahan sepanjang 16 kilometer di tepi sungai itu, belum tuntas di­bebaskan. Namun, proses itu kini menunjukkan kemajuan setelah Pram menerbitkan Penetapan Lokasi (Penlok). “Pak Pram tadi cerita, ini akan dibereskan,” kata Ahok, seusai pertemuan.

Baca juga : Kalah Lawan Tim Divisi Empat, Setan Merah Makin Jeblok

Ahok optimistis, jika sisa 16 kilometer jalur sungai berhasil dibebaskan dan normalisasi di­lanjutkan, penanganan banjir di Jakarta akan jauh lebih efektif. “Lalu, tanggul dan Waduk Pluit berfungsi optimal, istilah Siaga 1 di Katulampa sudah tidak ber­pengaruh lagi,” tandas rekan Pra­mono Anung di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Sementara itu, Warga bantaran Kali Ciliwung, misalnya di Bi­dara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, berharap agar mereka menerima ganti untung, bukan ganti rugi, jika terkena proyek normalisasi Ciliwung.

“Kasihan rakyat kecil seperti kami. Apalagi, kami di sini sudah bertahun-tahun. Saya lahir di sini,” kata Tari (51), Ketua RT se­tempat kepada Rakyat Merdeka.

Menurut Pram, normalisasi Ciliwung merupakan langkah utama jangka menengah untuk mengatasi banjir, karena sungai ini menyumbang sekitar 40 persen dari penyebab banjir di Jakarta.

Sungai Ciliwung memiliki panjang sekitar 120 kilometer, berhulu di kawasan Gunung Pangrango, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lalu, mengalir mele­wati Kota Bogor, Depok, hingga bermuara di Teluk Jakarta.

Baca juga : Libas Miyazaki, Putri KW Tembus Perempat Final

Posisi strategisnya menjadi­kan Ciliwung sebagai sungai yang sejak lama menjadi urat nadi kehidupan sosial, ekonomi, sekaligus menimbulkan tantangan lingkungan.

Secara geografis, Ciliwung membelah Jakarta menjadi dua bagian besar, wilayah barat dan timur. Karena itu, sungai ini kerap menjadi perhatian utama dalam penataan ruang kota.

Aliran air Ciliwung melewati kawasan padat penduduk, se­hingga potensi dampak banjir dan kerusakan lingkungan, menjadi isu yang selalu hangat dibicarakan.

Sungai ini menyimpan nilai sejarah panjang. Menjadi salah satu rute penting perdagangan dan transportasi masyarakat tempo dulu. Namun, seiring pesatnya ur­banisasi, kondisi Sungai Ciliwung menghadapi tantangan serius.

Selain pencemaran, masalah besar lainnya adalah banjir. Sungai Ciliwung kerap meluap saat curah hujan tinggi di kawasan hulu Bogor dan Depok. Kapa­sitas sungai yang menyempit akibat sedimentasi, bangunan liar, serta kurangnya ruang re­sapan, membuat banjir hampir rutin terjadi di Jakarta.

Baca juga : Kasus LPEI, Tersangka Pakai Dana Kredit Rp 150 Miliar Untuk Berjudi

Di balik tantangan itu, Sungai Ciliwung tetap memiliki potensi besar sebagai ruang ekologis dan sosial. Berbagai komunitas warga, pegiat lingkungan, dan Pemerintah terus mendorong upaya revitalisasi sungai ini, agar bisa kembali menjadi sum­ber kehidupan yang sehat.

Harapan mereka, Ciliwung tak hanya bebas dari banjir dan pencemaran, tetapi juga menjadi ruang hijau yang bisa dinikmati generasi mendatang. [RAA]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.