Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dampak Positif Tangki Septik Komunal Biogas Di Jaktim
Lingkungan Lebih Bersih, Biaya Hidup Lebih Hemat
Senin, 1 Desember 2025 06:25 WIB
Sebelumnya
Suprapti warga Gang Delta, RT, 4 RW 8, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, bersyukur karena ada program ini. Meski awalnya ragu dan takut, kini dia merasa terbantu secara ekonomi dan lingkungannya menjadi lebih bersih.
“Tangki septik biogas dibangun persis di samping rumah saya. Banyak yang bilang, nanti bakal menimbulkan bau dan bahaya meledak,” kata wanita 53 tahun ini, Rabu (26/11/2025).
Suprapti bilang, meski memiliki toilet atau WC, banyak warga di wilayahnya yang tidak memiliki sepiteng. Mereka membuang limbah langsung ke saluran air atau got.
Pantauan Rakyat Merdeka, pemukiman warga di gang tersebut berjejer, membentuk blok-blok.
Baca juga : Geledah Perusahaan Penggarap Monumen Reog, KPK Sita Senjata Api
Blok paling depan berada persis di pinggir Kali Baru, yang melintas di sepanjang Jalan Raya Bogor. Blok rumah Suprapti berada di tengah. Depan rumahnya saling berhadapan dengan rumah blok depan. Jarak antar kedua blok tersebut dijadikan akses jalan. Tidak terlalu lebar, hanya bisa dilintasi sepeda motor.
Di belakang blok rumah Suprapti, ada blok permukiman yang posisinya agak lebih tinggi. Rumah-rumah di blok Suprapti dengan blok atas itu, saling membelakangi. Jarak blok tengah dengan blok atas, dijadikan saluran air. Di sinilah warga membuang limbah, termasuk tinja.
Selain kerap menimbulkan bau, kata Suprapti, sering terlihat tinja di selokan tersebut. “Di sana ada jembatan, kalau kita lewat situ, sering lihat kotoran ngambang di got,” cerita nenek dua cucu ini, sambil menunjuk ke arah jembatan yang menjadi penghubung ke blok atas.
Menurut Suprapti, belum semua warga yang tidak memiliki sepiteng, menyalurkan kotorannya ke tangki septik komunal biogas. Saat ini, dari 60 rumah, baru 11 yang pembuangan tinjanya tersambung ke tangki biogas.
Baca juga : Drama VAR Antar Milan Ke Puncak
“Ada saja alasannya. Ngaku tak punya duit untuk bobok tembok dan beli pipa guna menyambungnya,” ucap Suprapti yang menyebut, pipa untuk penyaluran limbah itu sudah dipasang mendekati rumah-rumah warga.
Dengan masih sedikitnya warga yang menyalurkan tinjanya, pasokan gas menjadi belum maksimal. Sore itu, sekitar pukul 15.10 WIB, meter control biogas yang terpasang di dinding rumah Suprapti dalam kondisi off atau mati.
Ketika katupnya ditekan ke on atau dihidupkan, jarum indikator hanya bergerak ke atas sedikit. Cuma naik satu titik. Saat kompor biogas dinyalakan, keluar api. “Ini kalau naiknya sampai ke garis angka empat, baru bisa dipakai semua warga yang sudah tersambung gasnya,” jelas Suprapti.
Sejak biogas mulai tersalurkan pada awal Oktober, Suprapti selalu memakainya untuk memasak. Sejak itu, dia jarang sekali membeli Liquefied Petroleum Gas (LPG). “Biasanya sebulan dua kali beli LPG. Tapi sejak ada biogas, baru kemarin saya beli LPG lagi. Untuk jaga-jaga ka lau biogas habis,” katanya.
Baca juga : Kalahkan Wakil Thailand, Dejan/Bernadine Juara Syed Modi International
Tangki septik biogas ini terdiri dari dua bagian. Pertama, tangki silinder, atasnya seperti kubah. Di sini, limbah organik difermentasi secara anaerobik selama 14-30 hari dengan bantuan bakteri metanogenik.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya