Dark/Light Mode

Eks Gangster Ini Ajak Pelajar Stop Tawuran, Sebelum Hancur Masa Depan

Sabtu, 13 Desember 2025 18:10 WIB
Ray Valdo alias Sultan, mantan pelaku tawuran. Foto: Dok Istimewa
Ray Valdo alias Sultan, mantan pelaku tawuran. Foto: Dok Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Ray Valdo alias Sultan, mantan ganster yang hobi tawuran kini memilih jalan hidup positif. Dia mengajak para pelajar dan anak muda untuk menjauhi aksi anarkis, unjuk rasa berujung rusuh, tawuran, hingga vandalisme.

Sultan mengungkapkan, keterlibatannya dalam tawuran bermula dari ajakan teman dan rasa gengsi di masa sekolah. Menurutnya, ego dan tekanan lingkungan membuat seseorang sulit menolak, hingga akhirnya terjerumus semakin jauh.

“Awalnya cuma ikut-ikutan karena gengsi. Sekali ikut, besok diajak lagi. Kalau nolak dibilang cemen,” ujar Sultan di Kawasan Matraman, Jakarta Timur, Jumat (12/12/2025).

Ia menilai, tawuran di era sekarang justru lebih cepat meledak dibandingkan zamannya dulu. Media sosial, menurut Sultan, menjadi faktor pemicu utama.

Baca juga : Eks Gangster Jaktim Tobat, Rico Kate Ajak Pelajar Hindari Tawuran

“Sekarang tinggal live di TikTok, saling nantang di kolom komentar, emosi langsung naik. Musuh jadi gampang dicari,” katanya.

Sultan menegaskan, akar tawuran masih sama, yakni dendam antarsekolah dan fanatisme sempit. Namun kini, provokasi digital membuat konflik kecil cepat membesar.

“Dulu nyari musuh harus keliling. Sekarang cukup online,” ucapnya.

Keputusan Sultan untuk berhenti dari dunia tawuran muncul setelah dua peristiwa yang membekas. Ia pernah dipanggil pihak sekolah hingga membuat ibunya menangis, serta menyaksikan langsung temannya terkena bacokan serius.

Baca juga : BERSATU di Tangerang Raya Ajak Pelajar Jauhi Tawuran dan Narkoba Lewat Futsal

“Saat itu gue mikir, kalau orang tua gue yang ngalamin, pasti hancur. Dari situ gue berhenti,” ungkapnya.

Sebagai mantan pelaku, Sultan mengingatkan bahwa tawuran tidak memberi manfaat apa pun bagi masa depan. Ia menegaskan, nama yang dibangun lewat kekerasan hanya berujung penyesalan.

“Lebih baik berhenti sekarang sebelum nyesel. Fokus belajar, bangun skill, kejar masa depan. Tawuran cuma bikin orang tua sedih,” tegasnya.

Terkait upaya pencegahan, Sultan menilai penertiban tegas lebih efektif dibandingkan pendekatan persuasif semata. Namun, ketegasan tersebut harus menyasar konsekuensi pendidikan dan sosial, bukan kekerasan fisik.

Baca juga : Hyundai Dukung Inovasi Bobibos, Pelajari Performa Dan Durabilitas Mesin

Ia juga mendorong sekolah memperbanyak kegiatan positif sepulang jam belajar, orang tua memberi perhatian lebih, serta aparat rutin turun ke sekolah untuk memberikan edukasi langsung tentang risiko dan dampak tawuran.

“Jangan tunggu ada korban lagi. Tawuran itu bukan gaya hidup, tapi jalan pintas menuju kehancuran,” pungkas Sultan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.