Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Inflasi Jakarta Maret 2026 Terkendali di Level 0,51 Persen Selama Ramadan
Kamis, 2 April 2026 08:19 WIB
RM.id Rakyat Merdeka -
Inflasi Provinsi DKI Jakarta pada periode Ramadan dan Idulfitri, Maret 2026, dilaporkan tetap terkendali. Berdasarkan data terbaru, Jakarta mencatat inflasi sebesar 0,51% (mtm), melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,63% (mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, mengungkapkan bahwa meskipun angka tersebut sedikit di atas laju inflasi nasional sebesar 0,41% (mtm), sinergi kebijakan antara pusat dan daerah berhasil meredam gejolak harga di tengah tingginya permintaan musiman.
"Tekanan inflasi pada Maret ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan selama periode Ramadan dan Idulfitri. Namun, melalui sinergi berbagai kebijakan pengendalian harga, kita berhasil menahan kenaikan yang lebih ekstrem," ujar Iwan Setiawan dalam keterangan resminya, Kamis (2/4).
Secara tahunan, inflasi Jakarta tercatat sebesar 3,37% (yoy), lebih rendah dibandingkan capaian bulan sebelumnya sebesar 4,91% (yoy) maupun inflasi nasional yang berada di angka 3,48% (yoy). Menurut Iwan, melandainya inflasi tahunan ini juga dipengaruhi oleh berkurangnya faktor base effect dari diskon tarif listrik pada awal tahun 2025 lalu.
Pemicu Utama: Pangan dan Transportasi
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan 1,46% (mtm). Komoditas seperti daging ayam ras, beras, dan cabai merah mengalami kenaikan harga akibat lonjakan konsumsi masyarakat dan terbatasnya distribusi dari sentra produksi selama libur Lebaran.
Selain pangan, kelompok transportasi juga mencatat inflasi sebesar 0,41% (mtm), berbalik arah dari deflasi pada bulan sebelumnya. Hal ini dipicu oleh penyesuaian harga BBM non-subsidi per 1 Maret 2026 serta kenaikan tarif angkutan antarkota.
"Kenaikan di sektor transportasi sedikit tertahan berkat dukungan insentif diskon tiket pesawat, kereta api, dan tarif tol yang diberlakukan selama periode mudik Idulfitri," tambah Iwan.
Waspada 'Godzilla El Nino'
Menatap sisa tahun 2026, Iwan Setiawan menekankan pentingnya penguatan strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif). Hal ini diperlukan untuk memitigasi risiko global seperti konflik geopolitik dan volatilitas nilai tukar.
Secara khusus, Iwan mengingatkan adanya tantangan dari fenomena alam yang ekstrem.
"Kami mengantisipasi potensi terjadinya Godzilla El Nino atau El Nino kuat yang diprediksi berlangsung Mei hingga November 2026. Ini berisiko memicu kekeringan panjang di Pulau Jawa yang dapat mengganggu produksi pangan kita," tegasnya.
Meski demikian, Bank Indonesia optimis dengan penguatan sinergi dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta, inflasi sepanjang tahun 2026 akan tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1%.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya