Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Industri Film Didorong Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Di Jakarta
Rabu, 6 Mei 2026 21:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta mendorong Industri Film sebagai strategi baru untuk memperkuat ekonomi kreatif dan mesin pertumbuhan ekonomi baru di Jakarta.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengungkapkan, industri perfilman dinilai resilien dan memiliki skalabilitas tinggi karena berbasis kreativitas, bukan sumber daya alam yang terbatas.
Data menunjukkan bahwa industri film nasional tengah naik daun dengan pangsa pasar film domestik mencapai 49 persen pada tahun 2025. Berdasarkan data Lembaga Sensor Film, pada tahun 2025 total ada 545 judul film yang tayang di bioskop, sebanyak 270 judul adalah film lokal.
Kemudian, ada 1.474 judul pada layanan over the top (OTT) atau platform streming. Sebanyak 1.321 merupakan produksi nasional dan sisanya impor.Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan total ada 229,43 juta pengguna internet di tanah air.
"9 dari 10 penonton netflix memilih konten lokal. Bahkan 35 film Indonesia masuk di global top 10 selama 2025," jelas Iwan.
Iwan menilai, Jakarta memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya sebagai pusat ekosistem perfilman nasional. Apalagi, Jakarta punya infrastruktur lengkap. Memiliki jumlah layar bioskop terbanyak di Indonesia.
Baca juga : Fornas PIM Dorong Perempuan Masuk Ekonomi Digital
Jakarta menjadi rumah bagi mayoritas rumah produksi, komunitas film, dan lembaga pendidikan seni. Jakarta juga memiliki sejarah panjang dalam industri perfilman nasional sejak era film klasik.
Dampak Ekonomi
Aktivitas Produksi Film dapat memberikan multiplier effect terhadap perekonomian, dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka Panjang (endogenous growth). Dampak ekonomi ini tersebar melalui berbagai kanal:
Direct Channel: Belanja produksi inti seperti sewa alat, honor kru/talenta, dan biaya penayangan. Indirect Channel: Sektor pendukung meliputi perhotelan, katering, transportasi, hingga UMKM. Induced Effects: Peningkatan pendapatan bagi aktor dan vendor yang mendorong konsumsi rumah tangga. Dan Extended Effects: Dampak jangka panjang pada pariwisata, city branding, serta hak kekayaan intelektual (IP).
Iwan mengungkapkan, BI DKI mengidentifikasi bahwa setiap Rp 1 belanja langsung dalam produksi film berpotensi menghasilkan Rp 1,38 total output ekonomi. Jika diasumsikan biaya produksi satu film berkisar Rp 8-25 miliar per film, maka perkiraan belanja langsung film pada 2024 adalah Rp 2,16 triliun hingga Rp 4,05 triliun.
"Dengan angka itu, total output ekonomi yang dihasilkan adalah Rp 2,98 triliun hingga Rp 5,59 triliun," jelasnya.
Iwan menegaskan, untuk mengoptimalkan dampak ekonomi di Jakarta, BI mendorong penguatan local capture agar aktivitas produksi dan belanja pendukung tetap berputar di wilayah DKI Jakarta. Tiga agenda intervensi utama yang diusulkan adalah: Penyederhanaan Perizinan: Melalui layanan satu pintu (one-stop service) untuk tahap produksi.
Baca juga : CapCut Dorong Kreator Lokal Jadi Motor Baru Ekonomi Kreatif Digital
Jakarta Film Commission: Pembentukan lembaga khusus untuk mengelola ekosistem perfilman. Insentif Berbasis Local Spend: Pemberian kemudahan bagi produksi yang menggunakan sumber daya lokal Jakarta.
"Industri film tidak hanya menciptakan dampak belanja jangka pendek, tetapi juga akumulasi talenta, inovasi, dan infrastruktur kreatif untuk pertumbuhan jangka panjang," tegasnya.
BI DKI memproyeksikan dengan terbentuknya Jakarta sebagai ekosistem perfilman nasional bakal terjadi peningkatan kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta secara signifikan. Selain itu, status sebagai Kota Sinema diharapkan mampu menarik investasi asing di sektor industri hiburan dan teknologi digital.
"Dengan sinergi antara kebijakan moneter, dukungan pemerintah daerah, dan kreativitas para pelaku industri, Jakarta optimis dapat bersaing dengan kota-kota sinema dunia lainnya seperti Busan atau Cannes dalam waktu dekat," harapnya.
Jakarta Youth Film Festival 2026
Sebagai langkah awal pengembangan, BI DKI Jakarta bersinergi dengan Pemprov DKI menggelar Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026. Festival ini menjadi ajang bergengsi bagi para sineas muda tingkat pelajar dan mahasiswa untuk memamerkan karya visual mereka di panggung profesional.
Tahun ini, JYFF mengusung tema "Lensa Kota: Cerita di Balik Beton", yang mengajak para peserta untuk menangkap sisi humanis, budaya, dan dinamika sosial Jakarta dari sudut pandang anak muda.
Baca juga : Industri Manufaktur Tetap Jadi Motor Ekonomi, Tumbuh 5,04% Di Awal Tahun
Festival tahun ini menghadirkan beberapa program unggulan yang dirancang untuk mengasah kemampuan teknis dan naratif para peserta:
Kompetisi Film Pendek: Kategori fiksi dan dokumenter yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai sekolah dan universitas di Jabodetabek.
Masterclass Sineas: Sesi berbagi ilmu bersama sutradara dan penulis naskah ternama Indonesia mengenai teknik bercerita (storytelling) dengan anggaran terbatas. Pop-up Cinema: Pemutaran film-film finalis di ruang publik dan taman kota Jakarta untuk mendekatkan karya peserta dengan masyarakat luas.
"Penyelenggaraan JYFF 2026 juga menjadi bagian dari peta jalan besar Bank Indonesia DKI Jakarta dan Pemprov DKI dalam mendorong Jakarta sebagai Kota Sinema Dunia," tutup Iwan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya