Dark/Light Mode

Warga Tunggu Arahan & Bantuan Pemprov

Pemukiman Padat Butuh Tempat Kelola Sampah

Selasa, 19 Mei 2026 06:25 WIB
Gunung sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Foto: Rizki Syahputra/rm.id)
Gunung sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Foto: Rizki Syahputra/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Masyarakat di pemukiman padat penduduk belum memahami kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mengelola sampah secara mandiri melalui program Gerakan Pilah Sampah dari Rumah. Salah satu alasannya, tidak ada tempat untuk mengelola sampah.

Pemprov DKI Jakarta telah mencanangkan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah pada Minggu (10/5/2026). 

Namun, pengurus Rukun Te tangga (RT) masih belum mengerti betul, bagaimana teknis pelaksanaan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah. Mereka kini masih menunggu instruksi dan pelatihan resmi dari pihak Kelurahan. 

Hal itu disampaikan seorang Ketua RT di Kota Administrasi Jakarta Selatan yang tidak bersedia ditulis identitasnya, saat ngobrol dengan reporter Rakyat Merdeka, Minggu (17/5/2026). 

Baca juga : Parade Juara Inter Ejek Milan

Dengan demikian, menurut Sang Ketua RT, hingga hari itu, sampah masih diurus petugas sampah mandiri yang digaji per bulan oleh warga. “Masih seperti biasa,” katanya. 

Berdasarkan pengamatan reporter Rakyat Merdeka, petugas sampah mandiri ini, sejatinya sudah melakukan pemilihan sampah organik (terurai) seperti sisa makanan, dan sampah non-organik (tidak terurai). 

Sampah non-organik antara lain botol plastik, gelas plastik, kaleng kue, kaleng minuman, besi keropos dan patahan batang aluminium, dijual ke lapak rongsokan. Selanjutnya, sampah non-organik itu dijual bos-bos lapak rongsokan ke berbagai pabrik, untuk didaur ulang. 

Namun, karena ketiadaan tempat, petugas sampah mandiri ini, tidak mengolah sampah organik menjadi pupuk. Melainkan, membawanya ke pool truk sampah berwarna oranye, berlogo DKI. 

Baca juga : Klasemen Sementara Moto3, Veda Masuk Lima Besar

Selanjutnya, truk itu membawa sampah tersebut ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. 

Untuk mengurangi sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang, Pemprov DKI sudah mencanangkan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah. Bukan hanya memilah sampah nonorganik yang bisa cepat dijual. Tapi juga mengolah sampah organik yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menjadi pupuk (kompos). 

Suara masyarakat mengenai kendala gerakan itu pun sudah muncul. Namun, Ketua RT yang ngobrol dengan reporter Rakyat Merdeka, belum memastikan, apa saja kendala Gerakan Pilah Sampah dari Rumah. Karena, gerakan ini belum berjalan. “Baru sekadar potensi kendala,” katanya. 

Potensi kendala itu, antara lain, banyak rumah warga Jakarta yang sangat kecil, saling berhimpitan di lingkungan padat penduduk, dan tidak memiliki pekarangan sama sekali. 

Baca juga : Penjualan Senjata Ke Taiwan Jadi Alat Tawar Dengan China

Teras rumah yang kecil pun sudah dipakai untuk menjemur pakaian, memarkir motor atau sepeda dan barang-barang lainnya, sekaligus tempat menerima tamu. Mengingat, ruang tamu telah difungsikan sebagai kamar, karena saking kecilnya rumah petak seperti ini. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.