Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Keren, Adam Alis Bisa Bersaing Bareng Cristiano Ronaldo
- Eriksen Kembali Kolaps, Laga Denmark Vs Ukraina Dihentikan
- Gempa M7,7 Guncang Mindanao Filipina, Tsunami Kecil Terdeteksi di Sulut & Malut
- Dramatis! Garuda Muda Lolos ke Semifinal ASEAN U-19 2026
- Peduli Sejak Dini, Siswa JIS Buat Proyek Air Bersih Water Guardian untuk Warga
Setelah Trump, Akan Terima Putin
Jinping Kini Jadi Penentu Kekuatan Diplomasi Dunia
Senin, 18 Mei 2026 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden China Xi Jinping kian menegaskan posisinya dalam menentukan masa depan dunia. Hal ini ditandai dengan merapatnya dua poros kekuatan dunia ke China. Setelah menjamu Presiden AS Donald Trump, Jinping akan segera menerima kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pertemuan antara Jinping dengan Putin akan digelar 19-20 Mei 2026 di Beijing, China. Kedatangan Putin ini, hanya selang 4 hari dari usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyelesaikan lawatannya ke Beijing.
Diketahui, Trump tiba di Beijing Rabu (13/5/2026) malam waktu setempat dengan memboyong sejumlah taipan papan atas AS. Setelah melakukan pertemuan bilateral dengan Jinping, Trump kembali ke Gedung Putih pada Jumat (15/5/2026).
Kunjungan Putin ke Beijing diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China. Kedatangan Putin disebut atas undangan langsung Jinping.
"Akan digelar pada 19-20 Mei 2026. China dan Rusia terus menjaga komunikasi erat terkait persiapan kunjungan ini," kata Juru Bicara Kemlu China Guo Jiakun, Minggu (17/5/2026).
Pada Kamis (14/5/2026), Rusia menyebut persiapan kunjungan Putin ke Beijing hampir rampung dan hanya tinggal menunggu pengumuman resmi. "Seluruh persiapan praktis untuk kunjungan pada dasarnya telah selesai," kata pejabat Kremlin Yuri Ushakov kepada Reuters, Kamis (14/5/2026).
Baca juga : Skema Murur Disiapkan Demi Keselamatan Jemaah Haji
Kremlin menyebut pertemuan Jinping dan Putin akan difokuskan pada penguatan kemitraan strategis komprehensif. Agenda pembahasan mencakup hubungan bilateral, kerja sama ekonomi, hingga isu internasional dan regional.
Kunjungan Putin ke Negeri Tirai Bambu juga bertepatan dengan peringatan 25 tahun Perjanjian Persahabatan China-Rusia yang ditandatangani pada 2001. "Ini bertepatan dengan peringatan 25 tahun perjanjian persahabatan dan kerja sama yang baik, yang menjadi dasar hubungan antarnegara," ujarnya.
Putin dan Jinping dijadwalkan menghadiri upacara pembukaan Tahun Pendidikan Rusia-China 2026-2027. Setelah pembicaraan selesai, delegasi kedua negara akan menandatangani pernyataan bersama serta sejumlah perjanjian bilateral.
Sekadar informasi, Jinping terakhir kali bertemu Putin dalam KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Tianjin pada Agustus-September 2025. Keduanya juga sempat melakukan pembicaraan virtual Februari 2026.
Jika kunjungan Putin terlaksana, China menjadi negara pertama yang menjamu para pemimpin dari seluruh anggota tetap Dewan Keamanan PBB dalam rentang beberapa bulan terakhir.
Sebelum Trump, Beijing telah menerima sejumlah pemimpin dunia lain. Presiden Prancis Emmanuel Macron berkunjung pada akhir 2025, disusul Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Januari 2026.
Baca juga : Hetifah Sjaifudian: Semangat Perubahan Perlu Diikuti Daya Saing
Dalam ulasannya, media internasional South China Morning Post (SCMP) menilai rangkaian kunjungan pemimpin dunia menunjukkan transformasi posisi China dalam tatanan global. Beijing dinilai bukan lagi sekadar kekuatan ekonomi, tetapi mulai menjadi pusat diplomasi kekuatan besar dunia.
"Kedatangan para pemimpin dunia ke Beijing menandai transformasi besar posisi China dalam tatanan global. Jika sebelumnya Beijing lebih dikenal sebagai kekuatan ekonomi dan manufaktur dunia, kini Xi Jinping mulai memainkan peran sebagai pusat diplomasi kekuatan besar," tulis media tersebut.
Peneliti Senior Shanghai Institutes for International Studies Zhao Long menilai, posisi China saat ini sangat strategis. Beijing dinilai berupaya menjaga keseimbangan hubungan dengan Washington dan Moskow di tengah dunia yang terbelah oleh perang, rivalitas dagang, krisis energi, dan ketidakpastian global.
"Menstabilkan hubungan dengan AS dan memperdalam kerja sama strategis dengan Rusia bukanlah pilihan yang saling bertentangan," kata Zhao, dikutip SCMP, Minggu (17/5/2026).
Menurut Zhao, China kini dipandang sebagai pemain utama dalam berbagai isu global. Mulai dari perang Ukraina, konflik Iran-Israel, keamanan energi, hingga stabilitas perdagangan dunia.
Dalam analisisnya, Reuters dan BBC menilai Jinping tengah membangun citra China sebagai kekuatan penyeimbang di tengah fragmentasi geopolitik global.
Baca juga : Feriansyah: Jangan Hanya Sebatas Berubah Nomenklatur
Senada, Al Jazeera menyebut kunjungan para pemimpin dunia ke Beijing menjadi bukti bahwa banyak negara kini membutuhkan negeri Tirai Bambu itu bukan hanya sebagai pasar ekonomi, tetapi juga mediator dan penentu stabilitas global.
Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun menilai pertemuan Jinping dan Trump memberi sinyal stabilitas bagi dunia di tengah ketidakpastian global.
Dia juga menyoroti kehadiran delegasi pengusaha AS yang mendampingi Trump ke Beijing.
"Itu menunjukkan arah kerja sama masa depan, mulai dari teknologi, kecerdasan buatan, rantai pasok, hingga sektor keuangan," tutur Djauhari di Beijing, Sabtu (16/5/2026), dilansir Antara. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya