Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- 7 Poin Penjelasan BMKG Soal Gempa Kepulauan Seribu, Tak Berpotensi Tsunami
- Gempa M5,9 Guncang Kepulauan Seribu Jakarta, Getaran Terasa Hingga Mentawai
- Sunderland Vs Arsenal, The Gunners Siap Buru Kemenangan Keempat
- US Open 2026, Sabalenka Dihadang Rybakina
- Muenchen, MU dan Como Pesta Gol di Liga Champions 2026/27
Dewan Ingatkan Mitigasi Harus Tetap Diperkuat
Abu Vulkanik Susut, Jakarta Mulai Plong
Sabtu, 12 September 2026 06:25 WIB
Sebelumnya
Menurutnya, berdasarkan hasil pemantauan pada 6-7 September 2026, terdapat indikasi perbaikan sebaran partikulat setelah dilakukan penyiraman. Perubahan paling jelas terlihat pada parameter PM10.
PM10 adalah partikel udara berukuran diameter 10 mikrometer atau kurang yang dapat terhirup ke dalam saluran pernapasan, sehingga menimbulkan penyakit.
“Sebaran PM10 dengan konsentrasi tinggi yang sebelumnya cukup luas di Jakarta, setelah penyiraman, menjadi lebih terbatas,” kata Dudi.
Saat itu, wilayah yang masih teridentifikasi mengandung partikel tinggi, terutama berada di bagian timur Cilincing, Jakarta Utara dan tenggara Cipayung, Jakarta Timur.
Baca juga : Sunderland Vs Arsenal, The Gunners Siap Buru Kemenangan Keempat
Penyempitan sebaran PM10 tinggi merupakan perkembangan yang menggembirakan. “Data ini membantu kami mengenali wilayah yang masih membutuhkan perhatian, sehingga penanganan berikutnya dapat lebih terarah,” ucap Dudi.
Dia menjelaskan, abu vulkanik yang mengendap di jalan dan permukaan lainnya, berpotensi kembali beterbangan ketika dalam kondisi kering. Angin dan lalu lintas kendaraan dapat mengangkat partikel tersebut ke udara.
Karena itu, pembasahan endapan, dilakukan sebelum proses pembersihan. Langkah tersebut sejalan dengan panduan penanganan abu vulkanik yang dipublikasikan United States Geological Survey (USGS).
Untuk PM2.5, hasil pemantauan juga menunjukkan berkurangnya area dengan konsentrasi tinggi di sejumlah wilayah. Namun, beberapa kawasan seperti Kembangan dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, masih memerlukan perhatian.
Baca juga : US Open 2026, Sabalenka Dihadang Rybakina
Sementara itu, perubahan sulfur dioksida (SO2) belum menunjukkan perbaikan yang merata. Kondisi ini membuat pemantauan terhadap setiap jenis pencemar tetap diperlukan, sebagai dasar menentukan langkah penanganan berikutnya.
Dudi menegaskan, evaluasi tidak hanya melihat dampak penyiraman. Faktor angin, hujan dan sumber pencemar lainnya juga harus diperhitungkan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh intervensi terhadap perubahan kualitas udara.
“Kami akan menggunakan hasil pemantauan untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan, sekaligus menyampaikan perkembangan kondisi udara secara terbuka,” jelasnya.
Pemprov DKI mengimbau warga tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, dan membatasi kegiatan luar ruangan apabila wilayahnya terdampak abu vulkanik.
Baca juga : Prabowo Pidato di HUT Demokrat: Demokrasi Banyak Warna, Tapi Rukun
Warga juga diimbau membasahi endapan abu sebelum membersihkannya, agar partikel tidak kembali beterbangan.
Informasi mengenai kualitas udara dapat dipantau melalui udara.jakarta.go.id, serta pembaruan resmi DLH, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Melalui kerja bersama lintas dinas dan pemantauan yang berkelanjutan, kami ingin memastikan respons pemerintah cepat, penanganannya tepat sasaran, dan masyarakat memperoleh informasi yang mudah dipahami,” ucap Dudi. [DRS]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya