Dark/Light Mode

Dari Jakarta untuk Indonesia, dari SEMMI untuk Persatuan Nasional

Jumat, 19 Juni 2026 22:33 WIB
Dwi Apriyanto (Foto: Dok. Pribadi)
Dwi Apriyanto (Foto: Dok. Pribadi)

Jakarta memiliki posisi yang istimewa dalam perjalanan sejarah Indonesia. Ia bukan hanya ibu kota administratif, melainkan ruang tempat gagasan Indonesia diperdebatkan, diperjuangkan, diproklamasikan, dan terus-menerus diperbarui. Jakarta adalah laboratorium kebangsaaan. 

Jakarta menjadi panggung utama tempat persatuan nasional dirumuskan. Dari Sumpah Pemuda 1928, detik-detik menjelang proklamasi 1945, hingga tugas sejarah abad ke-21 menuju Indonesia emas 2045. Jakarta selalu menjadi titik temu antara sejarah, ide, dan masa depan.

Di tengah perjalanan panjang sejarah itulah, Serikat Mahasiswa Musilimin Indonesia (SEMMI) memikul panggilan dan tugas sejarah. SEMMI sebagai organisasi yang berakar pada tradisi panjang perjuangan Serikat Dagang Islam dan Serikat Islam memiliki tanggung jawab historis untuk merawat persatuan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam kesadaran sejarah inilah yang membentuk saya di SEMMI Cabang Jaksel dan SEMMI Jakarta raya. Filosofi dan histori yang terkandung dalam perjalanan sejarah Republik ini yang terjadi di Jakarta menuntun proses saya berkanditat. Layaknya Jakarta yang menjadi kota lahirnya persatuan nasional dengan sumpah pemuda dan proklamasi. Seperti itulah tugas sejarah yang menjadi tugas SEMMI ke depan untuk membangun persatuan nasional untuk memenuhi cita-cita republik dan mewujudkan Indonesia Emas. 

Selayaknya pula, Jakarta menjadi kota pergerakan kaum muda. SEMMI perlu menjadi pionir kepemimpinan dan menghimpun energi kolektif generasi muda dengan gagasan dan politik kebangsaan untuk membawa Indonesia menjadi maju dan berjaya.

Mimpi Republik dan Fondasi Persatuan Nasional

Sebuah bangsa tidak lahir dari kesamaan darah, melainkan dari kesepakatan untuk berbagi masa depan. Pemikiran ini sejalan dengan teori bangsa dari Ernest Renan yang menyebut bangsa sebagai “a daily plebiscite,” kesediaan setiap hari untuk hidup bersama dalam satu komunitas imajinasi dan politik.

Jakarta menjadi ruang tempat kesediaan itu pertama kali menemukan bentuknya. 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul dalam Kongres Pemuda II di Batavia. Mereka datang dari latar belakang bahasa, agama, suku, dan organisasi yang berbeda. Namun di kota inilah mereka mengucapkan sebuah ikrar yang mengubah sejarah:"Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia." 

Sumpah Pemuda menjadi revolusi kultural terbesar dalam sejarah Indonesia. Dalam kacamata Benedict Anderson disebut sebagai Imagined Community, bangsa sebagai komunitas yang dibayangkan. Jakarta menjadi ruang lahirnya imajinasi tersebut.  

Jika Sumpah Pemuda adalah momen kelahiran kesadaran bangsa, maka Proklamasi menandai kelahiran negara Republik Indonesia. Pada pagi 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Proklamasi memotret dua premis besar untuk pendirian Republik. Peran orang muda dan Persatuan Nasional. Kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari keberanian politik, tetapi kemampuan menyatukan berbagai kekuatan sosial. Nasionalis, Islam, sosialis, Katolik, pemuda, Ulama, kaum terdidik, tentara rakyat hingga rakyat biasa bertemu dalam satu tujuan bersama: Kemerdekaan Indonesia. Dan dalam perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia, persatuan nasional menjadi fondasi utama republik ini. 

Premisi yang tak kalah menarik adalah peran pemuda yang seperti beresonansi dalam Indonesia hari ini. Dari buku "Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945"  terkisahkan: "Kira-kira jam 01.00, lewat tengah malam Iwa Kusumasumantri diantar Jusuf Kunto menemui para pemuda di Jalan Garuda 60. Di antara mereka ada Wikana, A.M Hanafi, Pardjono, Djohar Noer, hingga Pandu Kartawiguna." 

Baca juga : Ary Ginanjar Apresiasi Program SEHATI, Dorong Ekonomi Halal Nasional

"Iwa mengajukan pertanyaan sederhana namun mendalam kepada mereka yang hadir: Apa yang sekarang dimaui oleh para pemuda?"

Saat proklamasi dikumandangkan, peristiwa ini tak lepas dari peran pemuda. Mereka mengorganisir, mengkonsolidasikan gagasan dan barisan, hingga menjadi elemen pendukung untuk kemerdekaan diucapkan sebagai janji setia untuk republik. Ia cerminan dari filsafat kebangsaan yang dituturkan oleh Ki Hajar Dewantara:  

Ing ngarso sung tulodo. Di depan, memberi teladan. Ing madyo mangun karso. Di tengah, membangun kehendak. Tut wuri handayani. Di belakang, memberi semangat dan dorongan. 

Namun pertanyaan Iwa kepada para pemuda menjadi menarik untuk refleksi kita hari ini: "Apa yang sekarang dimaui oleh para pemuda?" akan senantiasa menjadi pertanyaan sejarah. 

Baca juga : Yulisman: Kenaikan Pertamax untuk Jaga Energi Nasional

Hari ini menjadi tanggung jawab sejarah SEMMI sebagai kelompok Pemuda dan Mahasiswa untuk memenuhi cita-cita republik sesuai spirit Founding Parents. 

SEMMI memiliki tugas sejarah untuk memastikan persatuan nasional, energi kolektif generasi muda, hingga visi Indonesia Emas 2045 terwujud untuk Indonesia yang adil, makmur, dan beradab.

Agenda Strategis SEMMI untuk Indonesia Emas

Dalam konteks ini, SEMMI dapat memainkan setidaknya lima peran strategis.

Pertama, memperkuat literasi kebangsaan berbasis sejarah. Generasi muda perlu memahami bahwa Indonesia lahir dari dialog dan kerja sama lintas identitas. Pendidikan sejarah harus menjadi instrumen pembentukan karakter kebangsaan.

Kedua, membangun kepemimpinan mahasiswa yang adaptif terhadap perubahan global. SEMMI perlu menjadi pusat pengembangan kepemimpinan dalam bidang teknologi, ekonomi digital, diplomasi internasional, dan kebijakan publik.

Baca juga : Timnas Futsal Indonesia Panggil 26 Pemain Buat TC Spanyol

Ketiga, memperkuat ekonomi kerakyatan.Warisan Serikat Islam tentang kemandirian ekonomi perlu diterjemahkan ke dalam pengembangan kewirausahaan, ekonomi kreatif, koperasi modern, dan inovasi berbasis teknologi.

Keempat, mengembangkan diplomasi generasi muda.Mahasiswa Indonesia harus menjadi aktor yang mampu membawa gagasan Indonesia ke panggung global melalui forum internasional, pertukaran budaya, penelitian, dan jejaring global.

Kelima, menjadikan Jakarta sebagai laboratorium persatuan nasional. SEMMI dapat menjadi jembatan antara pemerintah, kampus, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat sipil dalam membangun ekosistem kota global yang inklusif.

Di sini, SEMMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan penjaga estafet cita-cita Indonesia dan spirit founding parents. SEMMI menjadi pengemban kesadaran sejarah untuk menjaga persatuan nasional. Menjadi jembatan antara warisan Serikat Islam dan masa depan Indonesia.

Dwi Apriyan
Dwi Apriyan
Aktivis SEMMI dan Pemerhati Sosial Politik

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.