Dewan Pers

Dark/Light Mode

Nusantara Bermakna Spiritual Dan Historis Dalam Perkuat Persatuan Indonesia

Rabu, 26 Januari 2022 19:40 WIB
Budayawan Ngatawi Al Zastrouw (Foto: Istimewa)
Budayawan Ngatawi Al Zastrouw (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemilihan nama Nusantara untuk Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur masih menyisakan pro kontra. Beberapa pihak yang tidak setuju menyatakan, pemilihan nama Nusantara tidak relevan untuk ibu kota negara yang baru dan sarat akan kepentingan politik.

Benarkah demikian? Budayawan Ngatawi Al Zastrouw, menyangkal hal tersebut. Ia mengatakan, terdapat makna spiritual dan historis di balik pemilihan nama Nusantara.

"Secara spiritual, Nusantara memiliki makna perjuangan secara sungguh-sungguh dan tekad yang kuat untuk mempersatukan bangsa. Dari sisi historis, Nusantara bermakna mengingatkan bangsa ini akan sejarah kita yang terdiri dari berbagai pulau, suku, ras, agama dan budaya dari Sabang sampai Merauke yang bisa bersatu padu menjadi satu kesatuan,” ujar Ngatawi, Rabu (26/1).

Berita Terkait : Dubes Jerman Ina Lepel Saksikan Penyerahan Bantuan Covid-19 Untuk Indonesia

Selain itu, Ngatawi menilai, pemilihan nama Nusantara mengandung cita-cita dan optimisme untuk mengembalikan kejayaan nusantara. ”Sudah pasti merupakan doa dan harapan agar kejayaan nusantara sebagaimana yang terjadi pada zaman dulu bisa kembali diwujudkan oleh bangsa Indonnesia dalam konteks kekinian,” ungkapnya.

Ia lalu menyinggung terkait banyaknya opini dan sentimen negatif yang beredar di masyarakat. Ia menilai, situasi ini dapat menjadi ancaman ke depannya bagi bangsa yang dapat menggoyahkan semangat persatuan jika terlalu dibiarkan.

Menurutnya, pro kontra adalah hal yang biasa jika pemicunya karena perbedaan pemikiran, ketidakpahaman. Tapi, akan jadi berbahaya bila pemicunya mencari perhatian publik serta politik, apalagi alasan ideologis. "Ini yang bahaya,” jelasnya.

Berita Terkait : Sigap Adaptasi, Kiper Madura United Asal Korsel Belajar Bahasa Indonesia

Ia menjelaskan, kelompok yang berusaha menggiring opini berlandaskan alasan ideologis tersebut jika dibiarkan dan tidak dikelola dengan baik berpotensi akan mengalamai peningkatan eskalasi. Namun, ia melihat sejauh ini masih dalam taraf yang wajar saja. “Artinya, masih dalam taraf wajar sebagai perbedaan wacana tetapi tetap harus dipantau agar tidak menggoyahkan persatuan,” sarannya.

Dari kacamata budaya, Ngatawi memandang perlunya menumbuhkan spirit kejayaan Nusantara dengan cara mengajarkan kembali nilai-nilai sejarah Nusantara kepada generasi muda dengan cara kreatif dan menarik. Dengan begitu, mereka-mereka ini paham dan mengerti sejarah bangsanya. "Jika mereka mengerti akan sejarah Nusantara dan kejayaanya, maka akan bangga dan dapat mengambil nilai-nilai dan spirit dari sejarah itu,” jelasnya.

Jika generasi muda sudah memiliki pemahaman dan pengertian baik, kata Ngatawi  mereka dapat mengaktualisasikan nilai tersebut secara baik dan dapat menjadi inspirasi dalam menghadapi realitas kekinian. “Kedua, perlunya mengubah cara pandang sejarah di kalangan generasi muda bangsa ini. Bahwa sejarah bukan hanya kronologi peristiwa masa lalu semata, tetapi harus dipahami sebagai gerak dan rute peradaban suatu bangsa,” kata peraih Doktor bidang Sosiologi Universitas Indonesia ini.

Berita Terkait : Ada 40 Pekerja Sawit Yang Diduga Disiksa Dalam Kerangkeng Bupati Langkat

Untuk itu, Ngatawi mengimbau masyarakat untuk dapat mengingat dan mengambil hikmah sejarah di masa lalu yang pernah dicetus Mahapatih Gadjah Mada dengan Sumpah Palapa-nya yang ingin mempersatukan Nusantara. “Perlu adanya sosialisasi tentang sosok Gajah Mada itu sendiri beserta kiprahnya untuk mengiliminir kesalahpahaman terhadap makna dan spirit sumpah Palapa,” kata mantan asisten pribadi Presiden ke-4 RI KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) ini.

Ia pun mengimbau agar generasi muda dapat mengerti dan memahami spirit dan cita-cita yang ada di Sumpah Palapa dan mengambil hikmah dari peristiwa bersejarah tersebut. “Dengan begitu akan mengembalikan mentalitas bangsa ini sebagai bangsa yang unggul dan jaya yang dibangun oleh persatuan dalam keragaman,” tandas Ngatawi. [WUR]