Dewan Pers

Dark/Light Mode

Setelah Disentil Presiden

Menteri ESDM Dan Mendag Langsung Action

Jumat, 8 April 2022 07:30 WIB
Presiden Joko Widodo. (Foto: ANTARA FOTO/HO-Setpres/Muchlis Jr/wpa/hp).
Presiden Joko Widodo. (Foto: ANTARA FOTO/HO-Setpres/Muchlis Jr/wpa/hp).

RM.id  Rakyat Merdeka - SETELAH Presiden Jokowi marah-marah tidak adanya empati dan diamnya para menteri terhadap kenaikan harga minyak goreng dan Pertamax berbuah manis. Mendapat sentilan keras presiden, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi langsung action.

Saat membuka Rapat Kabinet, Selasa (5/4) lalu, Jokowi kesal dengan kelakuan para menterinya. Salah satu yang disorot Jokowi ada tidak adanya penjelasan dari menteri terkait kepada rakyat kenapa harga Pertamax naik dan harga minyak goreng melonjak.

Jokowi menilai para menteri tidak memiliki empati terhadap masyarakat. Ia pun meminta menterinya memberikan penjelasan kepada rakyat. “Sikap-sikap kita, kebijakan-kebijakan kita, pernyataan-pernyataan kita harus memiliki sense of crisis, harus sensitif pada kesulitan-kesulitan rakyat,” tukasnya.

Berita Terkait : Suara Presiden 3 Periode Bukan Suaranya Istana

Sehari setelah video Jokowi marah-marah beredar, Menteri ESDM Arifin Tasrif dan Mendag Muhammad Lutfi langsung aksi.

Pertama, Menteri ESDM Arifin. Ia bersama Dirut Pertamina Nicke Widyawati melakukan inspeksi mendadak alias sidak di 5 SPBU di Samarinda, Kalimantan Timur. Tujuannya, melihat ketersediaan BBM yang beberapa hari lalu terjadi antrean panjang.

Arifin tampak mengenakan kemeja putih dengan celana panjang hitam. Dia juga mengenakan topi dan masker berwarna hitam.

Berita Terkait : Harga Pertamax Diusulkan Naik, Kementerian ESDM Masih Pelototi Harga Minyak Dunia

Di SPBU 63.706.01 di Kecamatan Astambul, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan, Arifin sempat berbincang-bincang dengan para sopir truk yang sedang mengisi bahan bakar. Dia menanyakan kepada mereka soal pasokan solar untuk mengetahui kondisi riil di lapangan.

Para sopir mengeluhkan soal antrean solar. Agar tidak antre, mereka juga mengaku rela beli solar eceran harga Rp 10 ribu per liter meski di SPBU lebih murah hanya sekitar Rp 5 ribu.

Saat sidak di SPBU Nomor 64.751.17, Jalan Sentosa, Samarinda, Arifin Cs mendapat laporan dari seorang supir truk yang mengatakan adanya kelangkaan di SPBU 61.751.02 di wilayah Loajanan. Arifin pun langsung bergerak melakukan sidak di SPBU tersebut. Namun, setibanya di lokasi tidak ditemukan adanya antrean dan kelangkaan.
 Selanjutnya