Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio atau Hensat memaparkan prediksinya soal peluang Anies Baswedan bisa maju di Pilgub Jakarta yang akan digelar November mendatang.
“Sejak awal saya mengatakan belum menemukan alasan mengapa penguasa merasa perlu memberi jalan, membiarkan tiket Anies tersedia untuk Pilgub Jakarta, sebab ini akan terkait dengan kalkulasi politik kompetisi di Pilpres 2029,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (21/7/2024).
Menurut hipotesa dia, Anies hanya bisa mendapat tiket di Pilgub Jakarta bila mendapat restu dari Prabowo Subianto atau Jokowi.
Baca juga : Keyakinan Anies, Pilgub DKI Bukan Pilpres Jilid 2
Menurut dia, bila Anies ingin melenggang maju, maka dia harus bisa menduetkan PKS dan PDIP untuk mengusung dirinya. Bila Anies tidak bisa menyatukan PKS dan PDIP, harapannya tinggal dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) plus NasDem dan PKB.
Pernyataan politisi senior PKS Hidayat Nur Wahid (HNW) yang berharap Anies bisa meyakinkan partai lain dukung Anies-Sohibul Iman (AMAN) menggambarkan sulitnya situasi AMAN mendapatkan dukungan dari parpol lain. “Beresiko buat parpol lain mendukung AMAN,” ujarnya.
Kata dia, harapan Anies maju didukung kembali oleh NasDem, PKS dan PKB terkendala tiga alasan. Pertama, PKS memaksakan Sohibul Iman yang sulit diterima PKB dan NasDem. Kedua, PKB dan NasDem harus mendapat restu dari Prabowo dan Jokowi. Ketiga, Anies sendiri belum mendapat restu dari penguasa.
Baca juga : Gerindra Usung Nasir-Wardan Di Pilgub Riau
Maka yang akan terjadi di Pilgub Jakarta adalah tiga skenario. Pertama, Pilgub Jakarta tanpa Anies. Artinya akan ada konstelasi baru. Kedua, Anies akan diusung sebagai calon Koalisi Indonesia Maju (KIM) dan PDIP tidak bisa mengusung calon karena kurang kursi parpol yang mau bekerja sama. Ketiga, ada perjanjian politik antara Anies dan penguasa tentang Pilgub Jakarta dan Pilpres 2029.
“Semua partai politik menginginkan kemenangan dalam kontestasi Pilkada. Sebetulnya dengan Anies pemilik elektabilitas tertinggi, parpol yang mengusungnya sudah satu kaki terjejak di atas panggung, tapi hal ini sulit terjadi dalam demokrasi siasat yang saat ini sedang terjadi,” ujarnya.
Karena itu, Hensat menyarankan kepada PKS tidak ngotot majukan Sohibul sebagai wakil Anies. Dengan begitu peluang parpol lain mengusung Anies terbuka. “Tentu saja berkompromi dengan demokrasi siasat ini,” katanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya