Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka -
Oleh: Wakil Duta Besar Rusia Untuk Indonesia Veronika Novoseltseva
Pada April 1949, di Kota Washington, Amerika Serikat (AS), dilakukan penandatanganan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Dari sini dimulainya sejarah aliansi militer NATO.
Para politisi di waktu itu merancang NATO menjadi instrumen kunci membangun dan mempertahankan hegemoni AS dan sekutunya di seluruh dunia. Tujuannya tetap sama di hari ini.
NATO terus berupaya untuk menerapkan “tatanan baru”, berusaha untuk memperlibatkan sekutu-sekutunya dari Asia-Pasifik serta menyebarkan pengaruhnya ke wilayah-wilayah di luar Euro-Atlantik.
Setelah Uni Soviet bubar dan berakhirnya Perang Dingin, NATO dalam jangka waktu cukup lama menentukan “wacana” untuk dirinya, sambil melakukan operasi di Afghanistan (2001-2021), Irak (2003-2011), dan Suriah (sejak 2014). Maret 2024, genap 25 tahun NATO menyerang Yugoslavia. Selama 78 hari agresi militer ini, NATO melempar 14 ribu bom, 2 ribu rudal, digunakan bom klaster dan daya ledak tinggi.
Baca juga : Menkeu Untuk Profesional Ya
Dengan kedok “intervensi kemanusiaan” sebagai target tembakan pada umumnya obyek-obyek sipil: pemukiman, rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan-jembatan, angkutan umum, dan para konvoi pengungsi.
Akibat dari semua intervensi ini adalah sama: negara-negara yang dihancurkan dan disintegrasi, munculnya teritori-teritori raksasa yang berada di luar kontrol dari negara mananpun, kemiskinan, tajamnya masalah-masalah kemanusiaan, jatuhnya korban jiwa massal dan jutaan pengungsi.
Saat ini Rusia dijadikan NATO sebagai musuh utamanya, karena Rusia sangat membela tatanan dunia multipolar, berdasarkan pada hukum internasional, hak-hak sederajat dan saling menghormati kepentingan semua pihak. Semua pendekatan ini tidak diterima Barat.
Pada KTT NATO di Madrid, Spanyol, tahun 2022, NATO menyebut Rusia sebagai ancaman langsung dan paling besar untuk keamanan para sekutu, perdamaian, serta stabilitas di kawasan Euro-Atlantik. Perlawanan dilakukan lewat semua garis geografi. Laut Baltik dan Laut Hitam dijadikan zona persaingan geopolitik. Ketegangan terus meningkat di wilayah Arktik.
NATO terus melanjutkan perluasan anggota. Finlandia menjadi anggotanya pada 2023, dan pada Maret, 2024, Swedia ikut juga. Latihan militernya di dekat perbatasan Rusia semakin besar dan sering.
Baca juga : Maksimalkan Aset Investasi, IFG Life Gaet Bahana TCW
Kegiatan pelatihan NATO melibatkan pasukan yang tidak hanya berasal dari negara-negara anggotanya, tetapi juga dari mitra-mitra blok ini. Sementara itu, AS dan sekutunya tidak pernah mendukung prakarsa manapun dari Rusia untuk menciptakan ruang keamanan bersama dan tak terpisahkan di Eropa.
Mereka menolak untuk meratifikasi Perjanjian Angkatan Bersenjata Konvensional di Eropa (CFE), menghindari pembahasan rancangan Perjanjian tentang Dasar-Dasar Hubungan Rusia-NATO. Dan mengabaikan draf perjanjian yang kami usulkan pada Desember 2021 kepada AS dan NATO mengenai jaminan keamanan bagi Rusia.
Peranan utama dalam pengendalian Rusia diberikan kepada Ukraina. Negara ini dengan sengaja dan bertahap dijadikan sebagai “pelawan Rusia”. Selama tiga tahun operasi militer khusus, Washington dan satelit-satelitnya terus melimpahi rezim Kiev dengan tentara bayaran (ada fakta-fakta tewasnya dan korban luka para ahli militer asing di pos-pos komando tentara Ukraina).
Totalnya, negara-negara NATO dan mitranya telah menghabiskan lebih dari 132 miliar dolar AS untuk bantuan militer dan teknik militer kepada Kiev. Amerika saja mengalokasikan lebih dari 63 miliar dolar AS.
NATO memberikan perhatian besar untuk melatih para prajurit Ukraina sesuai dengan standarnya. Dengan tujuan mengganti para tentara yang tewas dan memastikan kemampuan angkatan bersenjata Ukraina menggunakan senjata dan peralatan militer buatan Barat. Sejak dimulainya operasi militer khusus, lebih dari 118 ribu prajurit Ukraina ikut pelatihan tersebut.
Baca juga : Benny Pastikan Tampung Aspirasi PMI Di Jerman
Pada waktu belakangan ini semakin banyak seruan dari para “elang” NATO untuk terus meningkatkan eskalasi konflik, yaitu mengizinkan rezim Kiev menyerang wilayah Rusia dengan senjata ampuh jarak jauh. Menurut Presiden Rusia Vladimir Putin, hal ini membuktikan keterlibatan negara-negara NATO pada perang melawan negaranya.
Keputusan-keputusan NATO yang berbahaya seperti disebut di atas merupakan satu langkah lagi yang bisa menimbulkan konflik besar di dunia dan dapat merusak keamanan internasional.
Kami yakin bahwa semakin banyaknya pusat-pusat pembangunan global dan regional, secara tak terelakkan menjadi alternatif bagi pola hubungan internasional yang sudah ketinggalan zaman, menunjukkan perlunya penyelesaian secara efektif.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya