Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Pengguna internet aktif di Indonesia mencapai 215 juta, dengan 192 juta lebih mengakses media sosial. Sayangnya, dari jumlah tersebut, masih banyak mereka yang belum sadar bahwa internet membuka peluang bagi kejahatan seksual.
Demikian disampaikan dosen Bisnis Digital Universitas Jambi Riyanto saat menjadi narasumber dalam webinar literasi digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Dinas Pendidikan Lampung, di Lampung Timur, Senin (19/8/2024).
Dalam diskusi untuk segmen pendidikan yang diikuti siswa dan tenaga pendidik itu, Riyanto mengatakan, penting untuk memahami bentuk-bentuk kejahatan seksual di ruang digital dan bagaimana melindungi diri sendiri dan orang lain.
”Bentuk-bentuk kejahatan seksual di ruang digital, misalnya cyber grooming atau membangun hubungan emosional degan anak atau remaja secara online dengan tujuan eksploitasi seksual,” jelas Riyanto, dalam diskusi online bertajuk ”Waspada Kejahatan Seksual di Ruangan Digital” yang dipandu moderator Nabila Amanda Putri itu.
Baca juga : TBIG Berikan Layanan Kesehatan dan Bantuan Sosial di 79 Desa
Kemudian, lanjut Riyanto, sexting yaitu mengirim, menerima, meneruskan pesan foto, video seksual secara elektronik; pelecehan seksual online; dan eksploitasi seksual online atau memaksa atau membujuk seseorang untuk melakukan aktivitas seksual secara online, seringkali dengan imbalan uang atau hadiah.
”Kejahatan seksual di ruang digital berdampak pada trauma psikologis, seperti kecemasan, depresi, stres, dan masalah kesehatan mental lainnya. Selain itu, juga dapat merusak reputasi hingga menimbulkan masalah hukum,” jelas Riyanto.
Tips melindungi diri dari kejahatan seksual online, sambung Riyanto, yaitu dengan membatasi informasi pribadi yang dibagikan secara online. Jangan pernah mengirim foto atau video intim kepada siapa pun, dan berhati-hatilah saat berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal.
”Blokir dan laporkan akun yang mencurigakan atau melakukan pelecehan. Gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun, dan aktifkan pengaturan privasi di media sosial,” tutup Riyanto, dalam diskusi yang diikuti para pelajar dengan menggelar nonton bareng (nobar) dari sekolah masing-masing.
Baca juga : CIMB Niaga Konsisten Kembangkan Layanan Digital di Manado
Sejumlah sekolah yang menggelar nobar diskusi online di Kabupaten Lampung Timur dan sekitarnya, antara lain SMPN 1 dan SMPN 2 Sukadana, SMPN 3 Way Jepara, SMP Darussalamah DTBS Braja Dewa Way Jepara, SMPN 2 Pekalongan, UPTD SMPN 1 Kibang, UPTD SMPN 1 dan SMPN 2 Marga Tiga, UPTD dan SMPN 1 Way Bungur.
Dari sudut pandang berbeda, Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Timur Eko Pamuji mengingatkan tentang bahaya algoritma di media sosial (medsos). Algoritma di medsos bisa menjadi malapetaka jika kita terus didera oleh konten-konten tertentu.
”Di balik media sosial ada algoritma. Dia bekerja menggiring kita pada konten, orang, dan group tertentu, serta mengarahkan pada hal yang kita sukai. Waspadai jebakan algoritma pornografi, tak perlu like, komentar di konten berbau pornografi,” terang Eko.
Sementara, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Timur Suprapto memberikan tips melindungi anak dari eksploitasi seksual dengan cara meningkatkan kesadaran publik tentang eksploitasi dan pelecehan seksual anak secara online.
Baca juga : Neng Eem: PBNU dan PKB Sama Sekali Tak Punya Hubungan Organisatoris
"Kemudian, dukung lingkungan yang membuat anak-anak merasa nyaman dalam mencari nasehat, bantuan dan percakapan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi. Lalu, sediakan pelatihan literasi dan keamanan digital, dan berdayakan guru untuk mengintegrasikan literasi dan keamanan digital dalam pembelajaran di sekolah. Terakhir, pastikan akses pendidikan yang inklusif dan menjangkau semua anak,” rinci Suprapto.
Nobar diskusi seperti digelar di Kabupaten Lampung Timur ini merupakan bagian dari program Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD). GNLD digelar sebagai salah satu upaya untuk mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan hingga kelompok masyarakat menuju Indonesia yang #MakinCakapDigital.
Sejak dimulai pada 2017, sampai dengan akhir 2023 program ini tercatat telah diikuti 24,6 juta orang. Kegiatan ini diharapkan mampu menaikkan tingkat literasi digital 50 juta masyarakat Indonesia hingga akhir 2024.
Kecakapan digital menjadi penting, karena menurut hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada 2024 telah mencapai 221,5 juta jiwa dari total populasi 278,7 juta jiwa penduduk Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya