Dark/Light Mode

Road to ICFBE 2024, Presuniv Perkuat Hubungan Indonesia-Filipina

Senin, 26 Agustus 2024 13:35 WIB
Dalam meriahkan perayaan 75 tahun hubungan diplomatik tersebut, President University (Presuniv) akan menggelar ICFBE) di dua kota di Filipina, (Foto: Dok. Presuniv)
Dalam meriahkan perayaan 75 tahun hubungan diplomatik tersebut, President University (Presuniv) akan menggelar ICFBE) di dua kota di Filipina, (Foto: Dok. Presuniv)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia-Filipina secara resmi menjalin hubungan diplomatik pada 24 November 1949. Pada 2024 ini, hubungan diplomatik Indonesia-Filipina akan genap berusia 75 tahun.

Dalam tradisi perayaan ulang tahun, usia 75 tahun biasa juga disebut sebagai perayaan Tahun Berlian.

Untuk ikut memeriahkan perayaan 75 tahun hubungan diplomatik tersebut, President University (Presuniv) akan menggelar International Conference on Family Business and Entrepreneurship (ICFBE) di dua kota di Filipina, yakni Iloilo dan Roxas City, pada 9-10 Oktober 2024.

“Kami berharap konferensi internasional tersebut dapat semakin mempererat hubungan diplomatik Indonesia-Filipina. Apalagi momentum konferensi itu sangat tepat, yakni pada Tahun Berlian perayaan hubungan diplomatik Indonesia-Filipina," ujar Iman Permana, Chairman ICFBE 2024 dalam keterangannya, Senin (26/8/2024).

Iman menambahkan, pertengahan Agustus lalu. ICFBE adalah konferensi internasional yang diselenggarakan secara reguler oleh Fakultas Bisnis, Presuniv.

Hingga saat ini penyelenggaraan ICFBE sudah memasuki tahun ke-7 dengan total sudah melibatkan lebih dari 1.000 peserta dari 15 negara di dunia.

Pada ajang ICFBE, para peserta terdiri dari kalangan akademisi, praktisi bisnis, dan pemerintahan tersebut saling berbagi hasil-hasil riset terbaru mereka, bertukar informasi dan best practice dari masing-masing negara mengenai bisnis keluarga dan kewirausahaan, serta perubahan kebijakan dan kondisi perekonomiannya.

Baca juga : CORE: Kebijakan BMAD Bisa Picu China Retaliasi Perdagangan Indonesia

Filipina adalah mitra dagang yang penting bagi Indonesia. Dari peringkat 10 besar negara mitra dagang Indonesia dengan surplus terbesar, Filipina menempati peringkat ke-3.

Sebagaimana dilaporkan www.jabarprov.go.id, Duta Besar Republik Indonesia untuk Filipina Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo pada awal Juli 2024, misalnya, memfasilitasi pertemuan antara pelaku usaha kopi dan kakao di Jawa Barat dengan para pembeli dari Filipina.

Menurut Iman, langkah positif yang telah diambil Dubes Agus Widjojo perlu diimbangi oleh berbagai kalangan, termasuk kalangan akademisi.

Iman mengatakan, perguruan tinggi dapat melakukan diplomasi ilmiah melalui penyelenggaraan konferensi atau seminar internasional bersama, publikasi bersama, dan banyak lagi.

“Dengan cara seperti itu akan terbangun ruang-ruang dialog, pertukaran gagasan dan pengetahuan yang diharapkan akan mampu mendukung kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintah,” ujar Iman.

Lebih lanjut Iman mengatakan, masih banyak model kerja sama lain yang bisa dilakukan oleh kalangan akademisi. Misalnya, dengan melakukan pertukaran dosen dan mahasiswa, dialog kebudayaan, atau riset bersama.

Iman menambahkan, ndonesia dan Filipina sama-sama berstatus Isebagai negara sedang berkembang.

Baca juga : IKN Siap Jadi Pusat Perekonomian Baru

"Salah satu modal penting untuk melakukan lompatan menjadi negara berkembang atau negara maju adalah inovasi," ujarnya.

Menurutnya, kunci dari inovasi adalah riset. Itu sebabnya riset bersama antara Indonesia dengan Filipina ini menjadi sangat penting.

Co-Chair ICFBE 2024 Jhanghiz Syahrivar, mengatakan, salah satu keberhasilan riset sangat ditentukan oleh kapasitas SDM.

“Skill yang berbasis digital, termasuk pula Artificiall Intelligence dan Machine Learning, robotik, AR/VR, blockchain technology, dan masih banyak lagi lainnya,” papar Jhanghiz.

Jhanghiz, yang juga dosen di Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis, Presuniv, itu juga menyoroti pentingnya Indonesia dan Filipina untuk saling bertukar pengalaman dalam pengembangan industri kreatif.

“Industri kreatif ini sangat strategis untuk dikembangkan baik oleh Indonesia maupun Filipina,” tegasnya.

Menurut Jhanghiz, baik Indonesia atau Filipina bisa mempelajari kebijakan dan strategi Korea Selatan dalam mengembangkan industri kreatifnya.

Baca juga : Menteri AHY Sebut IKN Simbol Pemerataan Pembangunan Indonesia

“Kita bisa meng-ATM-kan strategi Korea Selatan dengan Amati, Tiru dan Modifikasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Lead Partnership ICFBE 2024 Maria Jacinta Arqusiola mengatakan, Indonesia dan Filipina sama-sama memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa

. “Dua kota yang menjadi tempat penyelenggaraan ICFBE 2024, yakni Iloilo dan Roxas City, terkenal dengan kekayaan alam, sejarah, budaya, dan wisatanya,” ungkap Jacinta, yang juga lahir di Filipina.

Senada dengan Jhanghiz, Jacinta juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas SDM dalam mengembangkan industri pariwisata baik di Indonesia maupun Filipina.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.