Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Komnas Perempuan Ingin Hadirkan Inovasi Inklusif Cegah Kekerasan
Senin, 16 September 2024 22:01 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mendorong institusionalisasi pengetahuan dari perempuan.
Institusionalisasi ini dilakukan melalui penciptaan platform dan mekanisme kerja yang memungkinkan konsolidasi berbagai pihak atas pengetahuan yang telah dimiliki.
Sekaligus untuk memastikan sinergi mengembangkan pengetahuan untuk upaya penghapusan segala bentuk kekerasan berbasis gender terhadap perempuan.
Ketua Komnas Perempuan, Andy Yentriyani menuturkan, pihaknya mengejawantahkan upaya tersebut dalam bentuk Konferensi Pengetahuan dari Perempuan (PdP) yang telah digagas pada 2010. Dalam perjalanannya Konferensi PdP selanjutnya dilaksanakan pada 2012 dan 2017.
Baca juga : Desa Penglipuran Jadi Model Revolusi Mental di Era Digital
Pada tahun 2024 ini, bekerjasama dengan Forum Pengada Layanan dan Universitas Brawijaya dan Universitas Indonesia, Komnas Perempuan menyelenggarakan konferensi PdP IV pada 17-19 September 2024 di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.
"Tema konferensi adalah Inovasi yang Inklusif untuk Pencegahan, Penanganan, dan Pemulihan Korban Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan," katanya dalam keterangan persnya, Senin (16/9/2024).
Tema ini dipilih merujuk pada dinamika kekerasan terhadap perempuan setiap waktu berkembang, kompleks, dan bahkan bereskalasi secara ekstrem.
"Inovasi baik pada proses pencegahan, penanganan, serta pemulihan penting menjadi satu diskursus bersama dan dikuatkan melalui saling silang pengalaman untuk menciptakan kolaborasi bersama yang lebih baik lagi dalam penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan di Indonesia," jelas Andy.
Baca juga : Indo Water 2024 Hadirkan Solusi Tata Kelola Air
Secara rinci, Konferensi PdP IV ini bertujuan untuk mendiseminasikan pengetahuan terkait pencegahan, penanganan, dan pemulihan atas kekerasan berbasis gender terhadap perempuan; menemukenali ragam bentuk inovasi yang inklusif guna mencegah, menangani, dan memulihkan perempuan korban kekerasan berbasis gender.
Berikutnya, memetakan peluang mekanisme yang inovatif dan inklusif dalam mencegah, menangani, dan memulihkan perempuan korban kekerasan berbasis gender; mengkonsolidasikan rekomendasi dan saran tindak lanjut dalam penyikapan yang inovatif dan inklusif atas kekerasan berbasis gender terhadap perempuan.
Komnas Perempuan, lanjut Andy, membuka ruang pengiriman abstrak tulisan dari pengetahuan dari perempuan baik pada konteks artikel ilmiah maupun artikel populer. Hal ini dilakukan sebagai upaya fasilitasi penyampaian pengetahuan dari perempuan di luar koridor akademik.
"Kami mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam mengirimkan abstrak. Sebanyak 566 judul. Melalui proses seleksi ketat terpilih 61 judul yang diundang dalam konferensi untuk mempresentasikan hasil pengetahuannya," sebutnya.
Baca juga : Perempuan Mesti Pahami Perubahan Iklim
Unsur peserta panelis mencakup akademisi, Lembaga Negara, dan LSM/pendamping korban. Adapun representasi sebaran wilayah meliputi bagian Indonesia barat, tengah, dan timur dengan detail wilayah sebagai berikut: Aceh, Bali, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, dan Papua.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya