Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kampanyekan Perdamaian, Dipo Alam Jadikan Lukisan Sebagai Alat Diplomasi
Rabu, 6 November 2024 22:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Atas kontribusinya dalam membangun dan memperkuat hubungan persahabatan antara Jepang dengan Indonesia, mantan Sekretaris Kabinet Dipo Alam, dianugerahi tanda jasa dari Pemerintah Jepang.
Acara pemberian bintang jasa “The Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star” dilakukan di Imperial Palace, Tokyo, Jepang, Rabu, (6/11/2024).
Dipo, yang menjabat Sekretaris Kabinet pada periode kedua pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dianggap punya kontribusi besar dalam memajukan hubungan kerja sama dengan Jepang.
Kiprah Dipo mempromosikan kerja sama Indonesia-Jepang bahkan telah dimulai sejak ia masih mahasiswa.
“Banyak fragmen kehidupan saya memang beririsan dengan Jepang. Relasi saya dengan Jepang bahkan telah dimulai jauh hari sebelum jadi pejabat," ungkapnya sebagaimana yang diceritakan dalam otobiografinya, “Dalam Pusaran Adab Dipimpin dan Memimpin” (Gramedia, 2022).
Sejak zaman mahasiswa di tahun 1970-an Dipo Alam telah menjalin kerja sama bisnis dan kebudayaan dengan seorang desainer terkemuka Jepang, Kansai Yamamoto.
Baca juga : Irjen Uden Dilantik Jadi Kepala Pusat Studi Diplomasi dan Industri Olahraga UI
Dipo, yang telah terjun ke dalam bisnis tekstil sejak masih kuliah di Jurusan Kimia FMIPA Universitas Indonesia (UI), sering bolak-balik ke Jepang untuk mengembangkan bisnisnya. Keterampilannya dalam melukis dan mendesain produk tekstil telah menarik perhatian Yamamoto.
Sesudah duduk di pemerintahan, Dipo telah menjembatani, sekaligus jadi motor sejumlah kerja sama antara Indonesia dengan Jepang.
Saat menjabat sebagai Kepala Biro Industri dan Pertambangan di Bappenas, misalnya, Dipo berhasil meminta bantuan Jepang untuk melengkapi sejumlah fasilitas dan perlengkapan untuk Museum Geologi di Bandung.
Namun, fragmen yang paling mengesankannya dalam membina kerja sama Indonesia dengan Jepang adalah pada saat proses membangun perdamaian di Aceh, dan saat rekonstruksi Aceh setelah dilanda tsunami tahun 2004.
“Dalam proses perdamaian di Aceh, Jepang punya kontribusi besar. Begitu juga dalam proses rekonstruksi pasca-tsunami, bantuan Jepang sangat luar biasa,” ungkap Dipo.
Begitu juga saat dirinya menjadi deputi di Kementerian Koordinator Perekonomian. Dipo melihat pembangunan ekonomi merupakan kunci untuk membangun perdamaian di Aceh.
Baca juga : Pertamina Eco RunFest 2024 Jadi Ajang Lari Karbon Netral Pertama Di Indonesia
"Kita harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan mendorong aktivitas perekonomian di sana, baru kita bisa bicara perdamaian. Nah, untuk menggerakkan kembali ekonomi Aceh, saya banyak meminta bantuan Jepang,” jelas Dipo.
Selain itu, Jepang juga telah menjadi sponsor penting, sekaligus menjadi negara tuan rumah dari sejumlah proses perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Jadi, peran Jepang dalam menciptakan proses perdamaian di Aceh, menurut dia, sangat besar.
“Hal itulah yang telah mendorong saya untuk terus membangun dan memperkuat kerja sama Indonesia dengan Jepang, meskipun tak lagi duduk di pemerintahan,” tambah Dipo.
Setelah tidak lagi menjabat, ia terus berkontribusi dalam membina hubungan baik dengan Jepang. Sebagai pencinta seni dan kebudayaan, ia kini menggunakan medium lukisan sebagai alat diplomasi.
Apalagi, setelah dia dipilih menjadi Ketua Institut Peradaban menggantikan almarhum Prof Salim Said, Dipo kian bersemangat menjadikan seni dan kebudayaan sebagai alat diplomasi peradaban.
Baca juga : KPK Nyatakan Penggunaan Private Jet Kaesang Bukan Gratifikasi
Ketika mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ditembak pada tahun 2022 lalu, misalnya, sebagai tanda belasungkawa sekaligus simpati, baik kepada keluarga Abe maupun kepada rakyat Jepang, Dipo menyumbangkan lukisan Shinzo Abe.
“Saya kini menjadikan karya seni, dalam hal ini lukisan, sebagai alat diplomasi. Saat politik dunia dipenuhi ketegangan, seperti sekarang ini, kita mungkin perlu menjadikan seni sebagai alat diplomasi penting. Agar suasana bisa jadi lebih cair dan sudut pandang kita mengenai apapun jadi lebih lembut,” ujar Dipo.
“Di tengah ancaman Perang Dunia III, di mana dipastikan akan jadi perang nuklir yang bisa memusnahkan peradaban, kita semua harus bekerja sama menyelamatkan peradaban manusia. Semua orang harus jadi diplomat perdamaian, apapun profesinya,” sambung Dipo.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya