Dark/Light Mode

Presuniv Gelar Sharing Session Bareng Bhikkhu Dhammasubho: Pentingnya Moralitas

Selasa, 3 Desember 2024 09:41 WIB
Presiden Unibersity saat menggelar sharing session Bareng Bhikkhu Dhammasubho. (Foto: Dok Presuniv)
Presiden Unibersity saat menggelar sharing session Bareng Bhikkhu Dhammasubho. (Foto: Dok Presuniv)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bhikkhu Dhammasubho Mahāthera memjadi pembicara di acara sharing session bertema Memupuk Rasa Ikut Memiliki yang diselenggarakan di President University Convention Center, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi.

Hadir dalam acara tersebut pendiri President University (Presuniv) yang juga Presiden Direktur PT Jababeka Tbk.  Setyono Djuandi Darmono, Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Universitas Presiden Prof. Budi Susilo Soepandji, dan jajaran pengurus lainnya, Rektor Presuniv Handa S. Abidin, dan seluruh jajaran rektorat, para dekan dan ketua program studi, dosen, serta ratusan staf dan mahasiswa.

Dhammasubho Mahāthera adalah bhikkhu senior di Saṅgha Theravāda Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Saṅghanāyaka atau Ketua Umum Saṅgha Theravāda Indonesia periode 2000-2006.

Bhikkhu Dhammasubho ditahbiskan menjadi bikkhu pada 27 Desember 1986 di Wat Bovoranives Vihara, Bangkok, Thailand, dengan nama penahbisan Dhammasubho.

Pada 11 Maret 2024, Bhikkhu Dhammasubho Mahāthera menerima gelar kehormatan Sri Dhammasobhana dari Sasanodaya Sangha Council Kandy, Srilanka.

Gelar yang diberikan atas atas jasa-jasa Bhikkhu Dhammasubho dalam menyebarkan ajaran Buddha melalui seni budaya di Indonesia dan Asia itu disampaikan di sela-sela rangkaian acara Peringatan Māghapūjā 2567 TB/2024 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Dalam sambutannya, Darmono mengatakan, bahwa Presuniv didirikan untuk mengajarkan berbagai materi kepada para mahasiswa. Mulai dari yang bersifat teknis hingga administratif.

Baca juga : Temui Menhan, Menteri Transmigrasi Bahas Pengembangan Wilayah Perbatasan

“Namun, dari seluruh materi tersebut, yang diutamakan Presuniv adalah pendidikan karakter. Ilmu pengetahuan memang penting, tetapi pendidikan karakter tidak boleh ditinggalkan,” ujar Darmono dalam keterangannya, Selasa (3/12/2024).

Menyangkut materi sharing session, menurut Darmono, permasalahan dalam suatu organisasi sering terjadi karena kurangnya rasa memiliki dari seluruh anggotanya.

Menurutnya, ini sering kali menyebabkan kinerja organisasi menjadi kurang efektif. Sebaliknya jika setiap anggota mempunyai rasa memiliki yang kuat, paparnya, organisasi akan mampu bekerja dengan baik.

"Setiap anggota akan berkontribusi sesuai bidangnya masing-masing. Kalau itu terjadi, kita pasti bisa meraih prestasi,” ucap Darmono.

Mengawali sharing session-nya, Bhikkhu Dhammasubho menegaskan bahwa, setiap orang itu ada zamannya, dan setiap zaman ada orangnya. Ini akan selalu terjadi, berganti-ganti.

"Karena perubahan inilah akan selalu ada perbedaan cara pemikiran," ujarnya.

Perbedaan ini terlihat jelas dalam berbagai bagian kehidupan. Misalnya, seperti yang ia tegaskan, spiritualitas dan ilmu yang tidak pernah bertemu.

Baca juga : Puan Salami & Foto Bareng Budi Gunawan Usai Pelantikan Kabinet Prabowo

Namun, Bhikkhu Dhammasubho juga menegaskan bahwa meski ada perbedaan cara berpikir, manusia tetaplah manusia.

“Manusia yang paling kuat, atau paling terkenal sekalipun, mereka pada dasarnya tetap sama dengan manusia lainnya,” kata Bikkhu Dhammasubho.

Ia menguraikan bahwa setiap manusia terdiri dari tiga hal, yakni pikiran, jiwa, dan raga. “Jika salah satunya tidak ada, manusia tidak dapat bertahan hidup,” ucapnya.

Paparnya lebih lanjut, dari tiga hal tersebut, masing-masing memerlukan asupan yang berbeda. “Misalnya, untuk menjaga raga agar tetap sehat, dibutuhkan asupan gizi, seperti nasi dan juga lauk pauk.

Kemudian, untuk menjaga agar pikiran tetap sehat, diperlukan asupan pengetahuan. Sedangkan untuk menjaga kesehatan jiwa, diperlukan asupan rasa,”ujar Bikkhu Dhammasubho.

Untuk menjadi individu yang sehat, ungkap Bikkhu Dhammasubho, tiga hal tersebut penting untuk dijaga dan dirawat.

“Untuk membangun pikiran, jiwa, dan juga raga yang sehat, itu bisa diperoleh jika manusia mampu menjaga keseimbangan,” ujarnya.

Baca juga : Kelar Pengumuman Menteri, Sri Mulyani Foto Bareng 3 Calon Pendampingnya

Setiap orang, ucap Bikkhu Dhammasubho, perlu memiliki keseimbangan perasaan dan kecerdasan.

Menurutnya, kalau hanya memiliki salah satunya, itu tidak baik. Jika seorang manusia memiliki perasaan yang terlalu tinggi, namun tidak memiliki kecerdasan, ia dapat dengan mudah dimanfaatkan orang lain.

“Semua yang kita inginkan itu memerlukan niat. Jadi, tidak ada hal yang tiba-tiba jatuh dari langit. Dan, untuk meraih sesuatu, diperlukan tak hanya niat, tapi juga upaya yang dilakukan dengan sepenuh hati,” papar Bikkhu Dhammasubho.

Begitu juga dengan kesuksesan. Paparnya, “Jika ingin sukses, kita harus bisa menjadi orang yang bijaksana dalam berpikir, dan mau berusaha. Kita boleh meminta bantuan orang lain, tapi jangan menggantungkan diri kepadanya. Sebab diri kitalah yang menentukan hasilnya,” kata Bikkhu Dhammasubho.

Ia juga mengingatkan, Jangan melupakan moralitasmu.” Merujuk ajaran para leluhur, menurut Bikkhu Dhammasubho, moralitas atau pagar hati sangat penting dimiliki oleh setiap orang.

“Moralitas harus menjadi dasar pengambilan keputusan seseorang. Sebab moralitaslah yang dapat melindungi dirinya," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.