Dark/Light Mode

Saksikan Premiere Film ”Negeri Para Ketua”, Bamsoet Ingatkan Persatuan dalam Perbedaan

Jumat, 6 Desember 2024 21:23 WIB
Anggota DPR/Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo (kedua kiri). (Foto: Istimewa)
Anggota DPR/Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo (kedua kiri). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota DPR sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi film drama komedi 'Negeri Para Ketua' yang disutradarai Agustinus Sitorus. Film yang juga dibintangi Gubernur terpilih Sumatera Utara, Bobby Nasution, ini mengambil latar belakang Kota Medan yang terkenal dengan keberagaman etnis dan budaya.

Film ini menggambarkan konflik yang terjadi antar lima kubu besar yang mewakili berbagai kelompok etnis di kota tersebut. Kubu-kubu yang digambarkan dalam film ini adalah Kubu Jawa, Kubu Melayu, Kubu Batak, Kubu India serta Kubu China.

Baca juga : Dampingi Prabowo Terima Pengusaha Jepang, Anindya Yakin Tingkatkan Investasi dan Perdagangan

Bamsoet menerangkan, film 'Negeri Para Ketua' mengeksplorasi bagaimana perbedaan budaya dapat menimbulkan konflik. Namun, di sisi lain, juga memungkinkan terjadinya dialog dan pemahaman di antara berbagai kelompok yang ada.

“Film ini mengingatkan kita bahwa, meskipun perbedaan mungkin menimbulkan gesekan, namun melalui dialog dan pemahaman bisa membuka jalan menuju persatuan," ujar Bamsoet, usai menyaksikan premiere film 'Negeri Para Ketua', di Jakarta, Jumat (6/12/2024). Hadir Sutradara Agustinus Sitorus serta para pemain 'Negeri Para Ketua' antara lain Aura Kasih, Leony Vitria serta Adi Sudirja.

Baca juga : Pesan Eks Napiter di Pilkada 2024: Jaga Kesatuan dan Persatuan NKRI

Ketua MPR ke-15 dan Ketua DPR ke-20 ini memaparkan, cerita film 'Negeri Para Ketua' berfokus pada perseteruan antara para ketua dari masing-masing kubu yang mewakili budaya dan tradisi yang berbeda-beda. Perseteruan dimulai ketika Acong, Ketua Kubu China, ingin memperluas kekuasaan dengan menjodohkan antara Kenzo dan Anjali, adik Rakesh dari Kubu India. Namun, hubungan rahasia antara Anjali dan Binsar, Ketua Kubu Batak, menambah kerumitan konflik ini.

Bamsoet memandang, sekalipun film ini berfokus pada kekuatan dan konflik antar kubu, cerita yang disajikan tetap ringan dan menghibur. “Setiap karakter memiliki motivasi dan tujuan masing-masing, yang pada akhirnya menggambarkan kompleksitas hubungan antar manusia yang tidak terlepas dari latar belakang budaya," jelasnya.

Baca juga : Fit and Proper Test Calon Dewas KPK, Bamsoet Soroti Aturan Penyadapan

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan, dengan penggambaran yang humoris, film ini mengajak penonton merenungkan pentingnya toleransi dan saling pengertian. Menyajikan sebuah karya yang mampu merangkul keragaman dengan penuh keharmonisan, dan menjadi titik tolak diskusi mengenai identitas dan persatuan di tengah perbedaan. 

Di akhir cerita, tidak hanya pertempuran yang digambarkan sebagai hasil dari ambisi dan ketidakpahaman, tetapi juga harapan untuk perdamaian yang dimungkinkan melalui dialog antar ketua kubu. “Pesan moral ini sangat relevan di tengah keragaman budaya Indonesia, dimana setiap individu merupakan bagian dari sebuah mozaik yang lebih besar," pungkas Bamsoet.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.