Dark/Light Mode

Pesan Eks Napiter di Pilkada 2024: Jaga Kesatuan dan Persatuan NKRI

Rabu, 27 November 2024 12:30 WIB
Eks napiter Irhan Nugraha (Foto: Istimewa)
Eks napiter Irhan Nugraha (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Masyarakat Indonesia diajak untuk menjaga kondusivitas setelah Pilkada Serentak 2024. Pasalnya, Pilkada Serentak ini merupakan masa krusial dalam menjaga stabilitas sosial dan politik Indonesia. Hal itu karena saat pencoblosan dan setelah pemilihan berpotensi menimbulkan berita palsu, hasut, rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan terhadap hasil Pilkada 2024.

“Tetap jaga kesatuan dan persatuan NKRI, saling menjaga kesantunan adab setelah Pilkada,” ucap mantan narapindana terorisme (napiter) Irhan Nugraha, dalam keterangan yang diterima redaksi, Rabu (27/11/2024).

Irhan memiliki perjalanan hidup yang penuh pembelajaran. Ia pernah terjerumus dalam ideologi ekstrem yang bertentangan dengan prinsip demokrasi. Namun, setelah berkontemplasi dan mengikuti program deradikalisasi pemerintah, ia menyadari kekeliruannya dan memperbaiki diri. 

Baca juga : Raih Penghargaan Mitra Bakti Husada 2024, Pengamat Apresiasi PetroChina Turunkan Stunting

“Pemilu bukan perbuatan kesyirikan dan kekafiran. Kita harus intropeksi, yang salah harus diperbaiki,” ucap Irhan.

Dia menyatakan, perlunya mewaspadai ideologi khilafah dan takfiri, yang dapat memantik perpecahan dan disintegrasi bangsa di masa-masa ini. Untuk itu, Irhan menyerukan masyarakat untuk ikut memilih, dan mengajak kelompok-kelompok yang masih antidemokrasi, perlu mengaji dan mengkajinya kembali.

Menurutnya, syariat Islam mengatur kebebasan dalam memilih, sebagaimana dulu pada masa kekhalifahan, ada namanya ahlul halli wal aqdi, semacam sekumpulan orang yang diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk menentukan pemimpin. Bagi Irhan, demokrasi bukanlah ancaman, melainkan menjaga keberlangsungan untuk mempertahankan persatuan dan eksistensi sebuah negara. 

Baca juga : Kapolri: Jaga Persatuan & Kesatuan

“Demokrasi adalah bagian dari ajaran syariat Islam, jadi kita boleh memilih,” tegas Irhan, yang kini aktif di bidang pertanian dan peternakan. 

Ketua Yayasan Banten Peduli Umat (BPU) menekankan, saat ini masyarakat harus semakin cerdas dalam menyaring informasi, terutama di era digital yang sarat dengan hoaks dan provokasi. Masyarakat harus melek literasi dan menggali informasi pembanding untuk memfilter narasi provokatif yang dapat memecah belah anak bangsa. Hindari narasi atau postingan yang menggiring opini bahwa demokrasi adalah perbuatan kekafiran, syirik yang harus dijauhi.

Apalagi, kata Irhan, momen setelah Pilkada sering kali menjadi fase yang rawan konflik akibat ketidakpuasan atau manipulasi informasi. Diharapkan momen setelah Pilkada Serentak dapat dijadikan waktu untuk mempererat persaudaraan, bukan memupuk perpecahan. 

Baca juga : Yakes Pertamina Bangun Ekosistem Layanan Kesehatan Berkelanjutan

Menurutnya, perbedaan pilihan dalam pemilu adalah bagian dari dinamika demokrasi yang sehat dan harus disikapi dengan bijak. Ia percaya, dengan menjaga kesantunan, komunikasi yang baik dan mengutamakan rekonsiliasi, konflik yang mungkin muncul setelah pemilihan dapat diminimalisir. 

“Jangan mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang sengaja memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. NKRI harga mati!” tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.