Dark/Light Mode

Eropa Dan AS Kepincut Investasi Di RI, 3.700 GW Energi Hijau Jadi Magnet Baru

Minggu, 29 Desember 2024 15:12 WIB
Direktur Promosi Wilayah Amerika dan Eropa, Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Sri Endang Novitasari. Foto: YouTube/Rakyat Merdeka TV
Direktur Promosi Wilayah Amerika dan Eropa, Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Sri Endang Novitasari. Foto: YouTube/Rakyat Merdeka TV

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia kini menjadi magnet investasi bagi negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat, terutama dalam sektor energi hijau. Ada ribuan Gigawatt listrik yang potensial digarap di sektor ini.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Promosi Wilayah Amerika dan Eropa, Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Sri Endang Novitasari. Menurutnya, potensi besar sumber daya energi terbarukan di Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor asing.  

"Dari Belanda, Jerman kemudian UK, dan Perancis itu kebanyakan adalah industri manufaktur. Tetapi yang semakin banyak juga sekarang adalah renewable energi, itu banyak rencana-rencana investasi baru yang berasal dari perusahaan-perusahaan Eropa. Karena kita juga kaya sekali akan
sumber-sumber untuk renewable energy," ungkap Sri dalam Podcast Ngegas di kanal YouTube Rakyat Merdeka TV.  

Ia menyebutkan, potensi energi seperti hydro, tidal, geothermal, hingga bahan baku solar panel menjadi incaran utama negara-negara Eropa. “Kalau enggak salah, kita punya resource sekitar 3.000 hampir 3.700 Gigawatt untuk renewable energy. Jadi itu menjadi sesuatu hal yang potensi untuk digarap dari investor-investor potensial di wilayah Eropa,” tambahnya.  

Selain energi terbarukan, Amerika Serikat masih fokus pada investasi di sektor pertambangan, manufaktur, dan jasa. Namun, kebijakan ekonomi Amerika di bawah Presiden terpilih yakni Donald Trump, akan membawa tantangan sekaligus peluang baru bagi Indonesia.  

Baca juga : 8 Keberhasilan PIS, Urat Nadi Energi yang Jadi Kebanggaan Indonesia

Salah satunya rencana Trump menaikkan tarif impor barang yang masuk ke Amerika antara 20 sampai 30 persen. Sementara khusus produk dari China akan dikenakan tarif impor yang lebih besar lagi, antara 60 sampai 100 persen. 

Trump juga disebutkan akan menarik kembali investasinya ke Amerika, dengan mendorong industri manufakturnya kembali ke Amerika. “Nah ini menjadi tantangan juga bagi kita," jelas Sri.  

Akan tetapi, ia juga mencatat bahwa di periode pertama kepemimpinan Trump, tantangan kebijakan politisi Partai Republik itu juga memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk memanfaatkan relokasi perusahaan dari China. Hal serupa diyakini akan kembali terjadi saat Trump kembali ke Gedung Putih.  

Terutama untuk di sektor investasi hijau atau green energy. Karena Trump tidak terlalu concern dengan isu-isu lingkungan. 

“Sementara memang banyak project-project dari Amerika yang juga terkait dengan energi hijau di Indonesia, tapi ya kita akan wait and see, bagaimana kita bisa mendapatkan peluang dari kebijakan tersebut, dari apa namanya kebijakan Donald Trump tersebut," ungkap Sri Endang.  

Baca juga : Transformasi Digital, DPLK BNI Hadir Dengan Website Baru

Sementara itu, dari sisi kebijakan pemerintah Amerika sebelumnya, Inflation Reduction Act (IRA) yang dikeluarkan di masa Presiden Joe Biden berhasil mendorong investasi kendaraan bermotor listrik. Jika kebijakan ini direvisi oleh Donald Trump, Indonesia bisa menarik investor ekosistem kendaraan listrik ke tanah air.  

"Artinya apa? Artinya dengan tadi potensi kita punya nikel, kemudian kita punya sumber daya lainnya, kita bisa mencoba menarik kembali yang tadinya akan masuk ke Amerika untuk kita dorong masuk ke Indonesia," ujarnya.  

Jika sebelumnya kebijakan Biden bisa menarik investasi kendaraan bermotor listrik ke Amerika lewat gula-gula insentif, tapi di era Trump yang akan mereview kembali kebijakan IRA tersebut, karena tidak ingin menghabiskan anggaran yang tidak sedikit untuk insentif itu, bisa menjadi peluang bagi Indonesia.

“Mudah-mudahan itu akan menjadi pertimbangan dari pelaku-pelaku usaha ekosistem kendaraan bermotor listrik untuk melihat Indonesia juga sebagai salah satu tujuan investasinya,” harapnya.

Di sisi lain, Sri Endang juga menyinggung kesuksesan kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Inggris pada November lalu. Dalam kunjungan itu, Prabowo berhasil membawa pulang oleh/oleh komitmen investasi sebesar 8,1 miliar dolar AS dari pelaku usaha Inggris.  

Baca juga : SimInvest Resmikan Galeri Investasi Di Universitas Kristen Petra

"Komitmen itu adalah hasil dari diskusi panjang dengan investor potensial. Sekitar 7 miliar dolar AS berasal dari BP, sisanya dari pelaku usaha lain," jelasnya.  

Kementerian Investasi, sebut Sri akan mengawal ketat dan mengambil sejumlah langkah konkret untuk memastikan komitmen investasi ini terealisasi. 

Tak hanya dari Eropa dan Amerika, Indonesia juga menjadi tujuan investasi utama bagi negara-negara Asia seperti Singapura, China, Hong Kong, Malaysia, Jepang, dan Korea. Namun, Eropa dan Amerika.  

"Kami masih optimis ya, dari Top 10 FDI yang masuk ke Indonesia, yang negara-negara sumber investasi, Amerika dan Eropa masih masuk. Walaupun sisanya itu berasal dari Asia," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.