Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
27 Dokter Dikirim Belajar Ke China Dan Jepang Demi Tekan Kematian Akibat Jantung
Senin, 6 Januari 2025 21:13 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Demi menutup kesenjangan layanan kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kembali mengirimkan dokter spesialis ke luar negeri untuk memperdalam keahlian. Sebanyak 27 dokter spesialis resmi diberangkatkan ke China dan Jepang dalam program fellowship yang difasilitasi oleh pemerintah.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa langkah ini penting untuk menekan angka kematian akibat penyakit jantung, yang menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia.
“Penyakit kardiovaskular itu paling banyak yang meninggal. Jadi, kita ingin secepatnya mempersiapkan layanan untuk bisa menyelamatkan ratusan ribu masyarakat kita yang meninggal setiap tahun,” ujarnya saat melepas para peserta di Kantor Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan, Jakarta, Senin (6/1).
“Kita mesti mempersiapkan alatnya, SDM kesehatan, dan pembiayaannya. Ini kita lakukan di level puskesmas, rumah sakit, dan level promotif preventif,” sambungnya.
Baca juga : Pantau Titik Keramaian, Menko Polkam Pastikan Keamanan Libur Nataru
Saat ini, dari 514 kabupaten/kota, sebanyak 372 daerah masih belum memiliki dokter spesialis atau alat medis yang diperlukan untuk layanan kardiovaskular seperti kateterisasi jantung dan trombektomi. Padahal, penanganan penyakit jantung harus dilakukan kurang dari dua jam agar peluang keselamatan pasien lebih tinggi.
“Ini adalah tantangan serius bagi sektor kesehatan kita. Program fellowship ini merupakan langkah strategis untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis jantung yang sangat dibutuhkan, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan jantung di Indonesia,” tegas Menkes.
Sebanyak 22 dokter spesialis kardiologi intervensi dan 5 dokter spesialis neurologi intervensiakan menempuh pendidikan intensif selama satu tahun di rumah sakit ternama, seperti Fudan University Zhongshan Hospital, Zhongda Hospital, dan Sapporo Cardiovascular Center. Program ini dibiayai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai bagian dari kolaborasi antara Kemenkes dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Demi meratakan akses layanan kesehatan, pemerintah menargetkan kuota 47 fellowship kardiologi intervensi dan 5 fellowship neurologi intervensi ke luar negeri setiap tahun. Langkah ini diyakini mampu mempercepat transformasi kesehatan, terutama dalam meningkatkan layanan di rumah sakit kabupaten/kota yang sebelumnya minim fasilitas dan tenaga medis.
Baca juga : Bertemu Silmy Karim, Bamsoet Minta Tingkatkan Keamanan & Ketertiban Lapas
Menkes pun berpesan kepada para dokter yang berangkat agar tidak hanya membawa pulang ilmu, tetapi juga berbagi pengalaman dengan rekan sejawat.
“Setelah ini dijalani, bagikanlah pengalaman Anda dan jika ada kekurangan, sampaikan kepada kami supaya bisa segera diperbaiki. Tapi kalau ada keindahannya, bagikan juga ke teman-teman, sehingga mereka tahu dan berani mencoba,” katanya.
Dengan langkah konkret ini, pemerintah optimistis masyarakat di seluruh Indonesia bisa mendapatkan layanan kesehatan jantung berkualitas, tanpa harus dirujuk jauh ke provinsi atau kota besar.
Plt. Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan, dr. Yuli Farianti mengatakan program fellowship ini bukan langkah pertama. Sebelumnya, pada 2024, batch pertama telah memberangkatkan 16 dokter ke Tiongkok. Program ini juga didukung oleh kerja sama dengan berbagai mitra internasional, termasuk lembaga pendidikan tinggi dan rumah sakit pengampu.
Baca juga : Pemantau Pemilu Gugat Kemenangan Paslon Tunggal
Ke depan, pemerintah akan terus memantau efektivitas program ini. Dengan total kuota 47 fellowship kardiologi intervensi dan 5 fellowship neurologi intervensi di luar negeri setiap tahunnya, diharapkan kesenjangan layanan kesehatan dapat semakin teratasi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya