Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Refleksi 2025, Menihilkan Serangan Teror untuk Jaga Indonesia Harmoni
Kamis, 9 Januari 2025 22:24 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Selama dua tahun terakhir, Indonesia meraih catatan baik dengan tidak ada aksi terorisme atau zero terrorist attack. Catatan harus dijadikan pedoman bagi seluruh pihak agar di 2025 kembali bersih dari aksi-aksi kekerasan.
Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof H Muammar Bakry, menyatakan bahwa masyarakat wajib bersyukur atas menurunnya tindak kejahatan terorisme. Namun, pencegahan radikal terorisme tidak boleh kendur dan lengah. Sinergi dan koordinasi harus terus ditingkatkan agar 2025 kembali zero terrorist attack.
“Memasuki tahun 2025 juga menjadi suatu capaian bahwa telah dua tahun Indonesia nol serangan teroris. Hal ini dapat dianggap sebagai prestasi tersendiri bahwa sentimen negatif terhadap perbedaan SARA semakin menurun,” terang Prof Bakry, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (9/1/2025).
Baca juga : Asta Cita: Reformasi Desa Dan Kecamatan Hulu Untuk Indonesia Raya
Menurutnya, semakin terbukanya pemahaman agama yang inklusif dan toleran menjadi faktor pendukung menurunnya angka tindakan kejahatan atas nama agama. Zero terrorist attack juga mampu menjadi indikator yang baik atas capaian kerja Pemerintah melalui berbagai instansi dalam menjembatani bahkan mempertemukan berbagai kelompok dan golongan yang berbeda.
“Saya kira, upaya Pemerintah untuk menghilangkan sekat-sekat perbedaan yang masih tersisa pada bangsa Indonesia adalah hal yang sangat baik dan konstruktif bagi penguatan kemajemukan dan heterogenitas bangsa kita," ucapnya.
Dia melanjutkan, momen tahun baru juga bisa menjadi refleksi untuk penguatan kebhinekaan. "Indonesia harus menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia karena kita mampu menjadikan perbedaan itu sebagai kekuatan dan kekayaan,” ujar Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini.
Baca juga : Presiden dan Menhan Sapa Ribuan Prajurit TNI yang Bertugas di Papua
Di! berharap, tidak ada lagi perbedaan-perbedaan dengan latar belakang yang macam-macam, termasuk agama, menjadi alasan dan pembenaran untuk melakukan tindakan kekerasan serta teror, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama yang bangsa Indonesia sangat hargai.
Terkait interaksi masyarakat secara luas pada perayaan-perayaan besar seperti Tahun Baru, Prof Bakry mengatakan, hal tersebut haruslah dilihat secara tepat. Hanya karena suatu perayaan tidak sesuai dengan keinginan sebagian pihak, tidak lantas menjadikan perayaan tersebut dilarang atau bahkan dikatakan sebagai “pendangkalan akidah”.
Prof Bakry juga berharap, Indonesia bisa selalu konsisten menjaga kerukunan antar golongan, sehingga kembali mampu mempertahankan nihilnya serangan teroris yang didasarkan atas nama agama. Dia menyerukan agar rakyat Indonesia kembali memahami agama dengan benar agar keutuhan Indonesia sebagai sebuah bangsa terus terjaga.
Baca juga : Bamsoet Akan Lantik PP Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia di Bali
“Saya kira kita harus kembali kepada ajaran agama yang benar. Agama kita mengajarkan kita untuk menjaga ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), dan ukhuwah Islamiyah. Kalau kita lebih kembangkan lagi menjadi ukhuwah imaniyah, yang dimaknai bahwa semua anak bangsa yang beriman itu tetap saudara kita,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya