Dark/Light Mode

Kurangi Impor, Bahlil: Kilang Minyak Kapasitas 1 Juta Barel Segera Dibangun

Selasa, 11 Maret 2025 14:29 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Foto: KESDM
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Foto: KESDM

RM.id  Rakyat Merdeka - Kilang minyak berkapasitas jumbo akan segera dibangun untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Kilang yang rencana awalnya hanya 500 ribu barel per hari itu, kini ditingkatkan menjadi 1 juta barel per hari. Kilang-kilang ini dibangun untuk memastikan pemerataan energi serta mengurangi ketergantungan impor.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, proyek kilang minyak ini akan tersebar di beberapa lokasi strategis di Indonesia. “Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Maluku-Papua sehingga terjadi pemerataan,” sebut Bahlil di Jakarta, Senin (10/3) malam.

Bahlil menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas kilang minyak ini merupakan hasil rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari implementasi Asta Cita Kabinet Merah Putih serta strategi untuk menghentikan ketergantungan Indonesia terhadap kilang minyak negara lain.

Baca juga : Kurangi Risiko Banjir, Jabar Lakukan Modifikasi Cuaca 10 Hari

Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik. Ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi ini menjadi alasan utama pemerintah menggenjot pembangunan kilang baru serta terminal penyimpanan BBM (storage) dengan kapasitas setara.

"Karena kita masih impor 1 juta barel per hari,” jelas Bahlil.

Selain pembangunan kilang dan penyimpanan minyak, pemerintah juga akan mempercepat hilirisasi energi lainnya. Salah satu program prioritas adalah pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). DME dipilih karena bisa diolah dari batubara, yang cadangannya melimpah di Indonesia.

Baca juga : Kinerja Barantin Dipuji DPR

Menurut Bahlil, Sumatera dan Kalimantan akan menjadi lokasi ideal untuk pengembangan DME karena memiliki sumber daya batubara yang besar. Proyek ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada LPG impor serta memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain fokus pada minyak dan gas, pemerintah juga berkomitmen untuk terus mendorong hilirisasi mineral strategis seperti bauksit, nikel, dan timah. Pemerintah menargetkan pengolahan pasir kuarsa sebagai bagian dari pengembangan industri solar panel, yang akan menjadi bagian dari mineral kritis nasional.

“Satu lagi, kita akan membangun solar panel dan pasir kuarsa yang akan kita tarik menjadi bagian dari mineral kritis karena ini menjadi potensi keunggulan komparatif bagi bangsa kita,” kata Bahlil.

Baca juga : Jepang Bantu Desa Kalangbancar Miliki Fasilitas Penjernih Air

Langkah ini merupakan bagian dari program hilirisasi nasional yang mencakup 26 sektor prioritas, termasuk mineral, minyak dan gas, perikanan, pertanian, perkebunan, serta kehutanan. Presiden Prabowo Subianto menargetkan hilirisasi sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.