Dark/Light Mode

Prof. Hikmah Apresiasi Kebijakan Luar Negeri Presiden Prabowo

Selasa, 11 Maret 2025 22:45 WIB
Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia Prof. Hikmahanto Juwana saat menjadi pembicara di acara Ikatan Alumni (ILUNI) Universitas Indonesia yang digelar secara daring, Selasa (11/3/2025). Foto: Istimewa
Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia Prof. Hikmahanto Juwana saat menjadi pembicara di acara Ikatan Alumni (ILUNI) Universitas Indonesia yang digelar secara daring, Selasa (11/3/2025). Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia Prof. Hikmahanto Juwana mengapresiasi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto di dunia internasional. Kata Prof. Hikmah, di bawah kepemimpinan Prabowo, nama Indonesia nyaring di dunia internasional.

"Kita memahami Pak Prabowo intinya punya standing tinggi di mata internasional. Itu ditunjukan dari lawatan Pak Prabowo yang bukan cuma ke Asean, tapi ke negara besar seperti China, Amerika, Inggris, bahkan kita kedatangan tamu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan," kata Prof. Hikmah saat menjadi pembicara di acara Ikatan Alumni (ILUNI) Universitas Indonesia yang digelar secara daring, Selasa (11/3/2025).

Kendati demikian, Prof. Hikmah berpesan kepada Prabowo agar mencermati dinamika geopolitik internasional. Terutama saat Indonesia mengeluarkan pernyataan bersama (joint statement) soal kerja sama maritim usai Prabowo bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Diketahui, isi joint statement itu dinilai banyak pihak berkaitan erat dengan posisi RI terkait sengketa Laut China Selatan.

Baca juga : Safari Ramadan Ke Bireuen, Mardiono Sampaikan Program Kerja Presiden Prabowo

"Saya paham Laut China Selatan (LCS) dijaga perdamaian kalau dilakukan kerja sama. Namun, banyak negara terkejut dengan keputusan Indonesia yang sebelumnya tidak mengakui Sembilan Garis Putus-putus," tambah Prof. Hikmah.

Prof. Hikmah juga menyoroti keputusan Indoensia bergabung dalam organisasi antar-pemerintah yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Iran, Mesir, Etiopia, dan Uni Emirat Arab (BRICS).

"Saya setuju bila Indonesia mengikuti BRICS dan sudah dinyatakan sebagai anggota," ujarnya.

Akan tetapi, ia juga mengingatkan Prabowo terkait risiko setelah bergabung dengan BRICS. Di mana, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan melakukan penerapan tarif yang sangat tinggi bagi anggota BRIC apabila memunculkan mata uang selain dolar AS dalam perdagangan internasional.

Baca juga : LDII Harap Kebijakan Efisiensi Tak Berdampak Negatif pada Layanan Publik

"Ini yang harus kita cermati dan perhatikan betul jangan sampai ancaman Trump direalisasikan dan kita akan kehilangan pasar kita di AS, dan kalau bisa kehilangan pangsa pasar di AS akan berdampak pada ekonomi Indonesia," sebutnya.

Selain itu, Prof. Hikmah juga mengingatkan Prabowo untuk tidak terlena dengan keadaan dunia saat ini. Mengingat, perang terjadi di mana-mana sekalipun di Asean masih tergolong kondusif.

"Perang di Eropa dan Timteng serangan terhadap Gaza tidak bisa dielakkan. Di kawasan ada Taiwan yang mungkin hendak menyatakan kemerdekaannya. Maka itu perlu upaya-upaya untuk mencegah letusan perang panas di kawasan ini dengan serius," paparnya.

Di kesempatan sama, Ketua Umum ILUNI UI Didit Ratam menyampaikan diskusi ini akan menghasilkan rekomendasi yang akan diserahkan kepada Pemerintah.

Baca juga : Rektor Untad Minta Pemerintah Relaksasi Kebijakan Efisiensi

"Kita akan tuangkan di buku sebagai rekomendasi masukan ILUNI UI dari narasumber bagaimana kita mencapai apa yang kita cita-citakan Indonesia Emas 2045," pungkas Didit.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.