Dark/Light Mode

Aceh Besar Diguncang 47 Kali Gempa Beruntun Akibat Sesar Seulimeum

Selasa, 1 April 2025 22:37 WIB
Ilustrasi getaran gempa di Aceh Besar
Ilustrasi getaran gempa di Aceh Besar

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 47 kali gempa bumi mengguncang wilayah Aceh Besar. Gempa terjadi pada 30 Maret-1 April akibat pergerakan Sesar Seulimeum.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Aceh Besar, Andi Azhar Rusdin mengungkapkan, bahwa gempa pertama terjadi pada Minggu (30/3) pukul 09.58 WIB dengan magnitudo 5,2 dan hari ini, Selasa (1/4/2025), terjadi 46 gempa susulan dengan frekuensi yang bervariasi.

“Hingga 1 April 2025 pukul 13.00 WIB, gempa susulan terus terjadi dengan magnitudo maksimum 5,2 dan magnitudo minimum 1,2,” kata Andi dikutip dari Antara.

Andi menjelaskan, bahwa aktivitas gempa tersebut berkaitan dengan pola pergerakan Sesar Seulimeum, salah satu bagian dari Sesar Besar Sumatera.

“Jadi, pola pergerakan sesar besar Sumatera, salah satunya di patahan Seulimeum, itu memiliki pola pergerakan patahan mendatar menganan," katanya.

Baca juga : Kejagung: Kualitas BBM Pertamina Sesuai Standar

Menurut dia, hal ini terjadi ketika dua bidang batuan saling bergesekan secara horisontal akibat gaya gesekan yang membuat lempeng-lempeng bergerak berlawanan arah.

Sesar Seulimeum ini berada di jalur sebelah timur yang melewati lereng barat Gunung Seulawah Agam ke utara membelah Pulau Weh.

Lebih lanjut, Andi menjelaskan, gempa susulan yang terjadi hingga puluhan kali tersebut merupakan fenomena yang normal terjadi setelah terjadinya suatu gempa yang kuat atau signifikan.

“Gempa susulan merupakan wujud dari proses kembalinya posisi batuan di bawah permukaan bumi yang telah bergeser akibat gempa utama,” katanya.

Meskipun aktivitas seismik ini merupakan fenomena alami, Andi mengingatkan, bahwa gempa tetap menjadi ancaman bagi masyarakat setempat.

Baca juga : Info BMKG: Gempa Hari Ini Magnitudo 4,4 di Bantul DIY Akibat Sesar Aktif

“Ini merupakan suatu ancaman bagi masyarakat setempat, namun perlu kita ketahui bahwa gempa bumi itu tidak membunuh secara langsung, namun dampak-dampak sekundernya, misalnya bangunan roboh, itu yang dapat menimbulkan korban jiwa," katanya.

BMKG juga menegaskan, bahwa hingga saat ini gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti, baik dari segi waktu, besaran, maupun lokasinya. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat dan ketahanan infrastruktur menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman gempa bumi.

"Sampai saat ini gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat baik waktu, besaran, maupun lokasinya. Namun, yang perlu kita siapkan adalah kapasitas masyarakat serta infrastruktur dalam menghadapi kejadian gempa tersebut," katanya.

Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siap siaga menghadapi kemungkinan gempa.

“Jangan panik ketika terjadi gempa, serta jangan terpancing oleh isu-isu atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan," katanya.

Baca juga : Persebaya 4 Kali Keok Beruntun, Ini Penyebabnya

Ia juga mengingatkan, masyarakat agar hanya mengacu pada informasi resmi dari BMKG dan BPBD setempat untuk menghindari kepanikan akibat hoaks.

“Pastikan informasi gempa bersumber dari BMKG dan BPBD setempat,” katanya.

Sementara Husaini (44), warga Kota Banda Aceh membenarkan terjadinya  gempa. Namun saat  gempa, ia sudah mudik ke Pidie bersama keluarga. "Alhamdulillah aman waktu gempa, karena sudah mudik," katanya  

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.