Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kisah Haru Perjuangan Tim Kemanusiaan BAZNAS RI Saat Gempa Myanmar
Kamis, 3 April 2025 17:49 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sehari menjelang sidang itsbat Idul Fitri, Jumat (28/3/2025), gempa dahsyat 7,7 skala Richter (SR) mengguncang Myanmar. Bencana alam ini menghancurkan rumah, merenggut nyawa, dan meninggalkan luka yang dalam di hati para korban.
Lebih dari 2.000 orang meninggal dunia, seperti dilaporkan CNN Indonesia pada hari yang sama.
Ketika dunia bergemuruh dengan keprihatinan, ada salah satu tim yang cepat merespon dan bergerak tanpa kenal lelah, dengan misi mulia untuk membantu mereka yang sangat membutuhkan pertolongan.
Tim Kemanusiaan Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (BAZNAS RI), dengan semangat yang tak tergoyahkan, ikut serta dalam misi kemanusiaan ini.
Di bawah komando Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tugas mereka dimulai dari Jakarta, melalui perjalanan udara yang penuh tantangan, dan berakhir di Naypyidaw, untuk menyalurkan donasi kepada para penyintas.
Dengan penuh tekad dan harapan, memulai perjalanan panjang yang mengantarkan mereka ke pusat bencana.
Tidak hanya membawa bantuan logistik dan medis, namun juga semangat solidaritas yang tinggi. Ahad (31/3/2025) saat takbir menyongsong Lebaran berkumandang, adalah hari pertama perjalanan misi humanis Badan Amil Zakat Nasional.
Kepala Biro Urusan Rumah Tangga (URT) dan Protokol BAZNAS RI, Tito Kurniawan, mendapat tugas perdana, berangkat bersama Tim Aju Satgas Kemanusiaan Pemerintah RI yang dikoordinasi BNPB.
Lima orang tim SAR dari BAZNAS Tanggap Bencana (BTB), ikut diterbangkan ke Myanmar pada Senin (1/4/2025).
Mereka adalah Taufiq Hidayat (koordinator), Ade Hilman, Marwan, Sandi Setia Mihardja, dan Heru Jatmiko.
Baca juga : 12 Dukungan yang Diperlukan untuk Korban Gempa Myanmar
Pukul 09:00 WIB, Tito, bertolak dari rumah di Cibinong, Jawa Barat, ke kantor BNPB untuk menghadiri agenda briefing singkat dan pelepasan.
Ba'da zuhur, tim bergerak ke Lanud Halim Perdanakusuma, mengikuti apel kesiagaan yang dipimpin Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto.
Pada 15:30 WIB tim terbang dan transit di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh, untuk persiapan dan konsolidasi lanjutan.
Satgas Kemanusiaan bertemu dengan rombongan lainnya, saling memberikan semangat dan memastikan setiap kebutuhan logistik siap dikirim ke Myanmar.
“Keberangkatan ini bukan sekadar fisik-material, tetapi juga perjalanan spirit-emosional yang menguji ketangguhan mental setiap anggota tim dalam mengimplementasikan misi kemanusiaan,” ujar Tito dalam keterangannya, Kamis (3/4/2025).
Naypyidaw, Saksi Bisu Kegetiran Saat berada di udara Naypyidaw dan di atas negeri yang dulu bernama Burma ini, tim BAZNAS menyaksikan kenyataan memilukan dari dampak gempa yang baru saja melanda.
Pengganti Ibu Kota Negara Yangon sejak 2005 tersebut, yang kerap tampak sepi kian sunyi hingga menjadi saksi bisu kegetiran pascabencana.
Bangunan-bangunan yang runtuh, jalan-jalan yang retak, dan ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal.
Dalam sekejap, para anggota tim menyadari bahwa tugas mereka jauh lebih besar dari sekadar menyalurkan bantuan material.
“Kami harus memberikan harapan, mengingatkan para korban bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi cobaan ini,” kata Titu.
Baca juga : Menlu RI Lepas 124 Ton Bantuan Kemanusiaan Dan 157 Tim Penyelamat Ke Myanmar
Dari laporan lapangan tim lintas negara, mereka mendapatkan informasi tentang warga yang sebagian besar masih terkejut dan syok, akibat tragedi kemanusiaan tersebut.
Dari beragam rekaman video yang beredar, tampak ibu-ibu dengan anak-anak mereka terlihat duduk termenung dengan tatapan kosong, sementara banyak pria paruh baya dan renta, mencoba menenangkan istri, anak dan cucu mereka.
Mereka adalah wajah-wajah yang kini menjadi simbol dari kerentanan dan keputusasaan, yang muncul dalam waktu yang bersamaan.
Namun, kehadiran tim BAZNAS, BNPB dan segenap Satgas Kemanusiaan Pemerintah RI, dengan bantuan pangan, obat-obatan, dan logistik lain yang mereka bawa, memberi sedikit kelegaan.
“Kami datang untuk membantu, untuk merasakan apa yang kalian rasakan, dan kami berjanji tidak akan meninggalkan kalian sampai bisa tersenyum kembali,” ucap Tito.
Bantuan yang Penuh Harapan Donasi yang dibawa oleh tim BAZNAS bukan hanya dalam bentuk material. Mereka juga berusaha untuk membangun kembali semangat hidup para korban.
Para anggota tim bekerja tanpa lelah akan mendistribusikan makanan, pakaian, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya. BAZNAS juga menyiapkan tim medis untuk memberikan perawatan bagi penyintas yang sakit dan terluka.
Di tengah panas terik namun angin bertiup semilir, sebagai bagian dari Tim Kemanusiaan BAZNAS RI, Tito mendekati seorang warga yang tampak kebingungan.
Dengan senyum tulus, ia memberikan sekotak makanan, hadiah yang sederhana namun penuh makna. "Ini untukmu," kata pembina grup musik religi BAZNAS, Z-Band ini.
“Untuk mengingatkanmu bahwa masih ada yang peduli.” Air mata mulai mengalir di pipi sang penyintas, bukan karena kesedihan, tetapi karena dia merasa ada yang memperhatikan.
Baca juga : Jusuf Kalla Hadiri Pelepasan Bantuan Untuk Penanganan Gempa Myanmar
“Bantuan ini mungkin tidak bisa menggantikan apa yang telah hilang,” kata Taufiq Hidayat, Wakil Ketua BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) yang sudah terlibat dalam misi kemanusiaan selama bertahun-tahun.
“Namun, kehadiran kami di sini untuk mereka adalah bukti bahwa kasih sayang dan empati tak mengenal batas. Kami hadir untuk memberi harapan baru," ujar Taufiq.
Di balik kisah haru ini, ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh tim BAZNAS. Mulai dari kondisi cuaca yang panas, jalur logistik yang luas, hingga kendala komunikasi dengan pihak lokal.
Namun, semangat pantang menyerah dari setiap anggota tim memastikan bahwa segala tantangan tersebut dapat diatasi.
“Perjalanan ini bukan hanya tentang menyampaikan bantuan, tetapi juga tentang membangun kepercayaan,” kata Tim Kemanusiaan BAZNAS untuk Gempa Myanmar ini.
“Kami tidak datang untuk memberi, kami datang untuk berbagi, untuk menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Meski baru beberapa hari bekerja keras di Myanmar, selanjutnya BAZNAS terus melanjutkan misi dengan mengirimkan paramedis dan bantuan obat-obatan," ungkapnya.
“Kami bekerja keras membantu penyintas, hingga nanti kami bisa pulang dengan hati yang penuh keharuan, kenangan dan kebahagiaan telah membantu sesama. Meskipun misi kemanusiaan ini kelak akan berakhir, semangat yang ditinggalkan tetap hidup di hati setiap anggota tim dan setiap orang yang kami bantu," ujar Taufiq.
Lebih lanjut Taufiq mengatakan, ini bukan hanya tentang donasi yang diberikan, tetapi juga tentang keberanian, harapan, kebersamaan dan kepedulian pada kemanusiaan, yang menjadi kunci untuk mengalahkan segala kesulitan.
“BAZNAS dan Satgas Kemanusiaan Indonesia membuktikan bahwa di tengah bencana, ada kebaikan yang bisa dihadirkan, dan bahwa solidaritas antarbangsa adalah kekuatan terbesar yang dimiliki umat manusia,” ujar Taufiq..
Dengan tangan terbuka, hati yang tulus, dan niat yang ikhlas, Tim Kemanusiaan BAZNAS membawa secercah harapan bagi Myanmar, sebuah kisah yang akan terus dikenang sebagai perjalanan kemanusiaan yang penuh inspirasi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya