Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Hari Kartini, Pengingat Perjuangan dan Kontribusi Perempuan dalam Pembangunan
Jumat, 18 April 2025 14:27 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April, merupakan momen penting dalam perjalanan perjuangan perempuan Indonesia.
Tokoh perempuan Indonesia, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo mengingatkan, Hari Kartini bukan sekadar memperingati sosok Raden Ajeng (RA) Kartini sebagai tokoh emansipasi perempuan.
“Tetapi juga sebagai pengingat atas perjuangan panjang dan kontribusi luar biasa perempuan dalam pembangunan bangsa,” ujar Giwo dalam keterangan tertulis, Jumat (18/4/2025).
Dia mengungkapkan, Kartini memang bukan satu-satunya pahlawan perempuan nasional. Indonesia memiliki total 16 pahlawan perempuan nasional.
Lima belas lainnya selain Kartini adalah Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, Nyi Ageng Serang, Rasuna Said, serta Maria Walanda Maramis.
Kemudian, Fatmawati, Roehana Koeddoes, Malahayati, Opu Daeng Risaju, Andi Depu, Ratu Kalinyamat, Siti Hartinah, Siti Walidah.
Namun demikian, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) periode 2014-2019 dan 2019-2024 ini mengungkapkan, RA Kartini menjadi ikon yang lebih dikenal luas, salah satunya karena warisan intelektualnya yang terdokumentasikan dalam surat-surat harian.
Baca juga : Syahganda: Prabowo Berpeluang Besar Jadi Pemimpin Baru Dunia
Surat-surat harian tersebut yang kemudian dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Surat-surat tersebut menyuarakan yang memfokuskan pentingnya emansipasi perempuan, serta perjuangan perempuan untuk mencapai kesetaraan gender.
Catatan-catatan ini bahkan disimpan di museum Belanda, menjadi bukti pemikiran Kartini yang melampaui zamannya.
“Kartini menginspirasi gerakan perempuan Indonesia hingga kini,” ucap Ketua Umum Gerakan Wanita Sejahtera (GWS) ini.
Indonesia juga memiliki peringatan ‘Hari Ibu’ setiap 22 Desember, sebagai bentuk penghargaan kepada seluruh pejuang perempuan dan para ibu bangsa yang mengorbankan waktu, tenaga, dan jiwa mereka demi masa depan anak-anak dan bangsa.
Hari ini, kata Giwo, semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” telah terwujud dalam banyak bentuk. Perempuan Indonesia telah menunjukkan kemampuannya dalam berbagai profesi dan bidang ilmu.
Berdasarkan data statistik 2024, rata-rata pelajar perempuan di Sulawesi Utara menempuh pendidikan selama 9,85 tahun, lebih tinggi dari laki-laki dengan angka 9,7 tahun. Di Sumatera Barat, perempuan juga lebih tinggi, yakni 9,3 tahun dibanding laki-laki 9,2 tahun.
“Artinya, perempuan kini tidak hanya memiliki akses pendidikan yang setara, tetapi juga menunjukkan capaian yang nyata,” ungkap Giwo.
Baca juga : Rocky Gerung dan Patriotisme Sufmi Dasco Ahmad dalam Pertemuan Sayur Lodeh
Selain itu, ditambahkannya kontribusi perempuan juga sangat kuat di bidang ekonomi.
Menurut Kementerian Koperasi dan UKM, dari 65 juta UMKM di Indonesia, sekitar 64 juta merupakan usaha mikro, dan dari jumlah itu, 60 persen dikelola oleh perempuan.
“Ini menunjukkan betapa perempuan menjadi tulang punggung perekonomian rakyat,” jelas Vice President International Council of Women (ICW) ini.
Giwo melanjutkan, dalam sektor pendidikan, data Kemendikbudristek mencatat bahwa 70 persen guru di Indonesia adalah perempuan.
“Artinya, perempuan turut berperan besar dalam membentuk karakter dan masa depan generasi bangsa,” ucapnya.
Namun, Ketua Umum Business and Professional Women (BPW) Indonesia ini menilai, perjuangan hak-hak perempuan belum selesai.
Di ruang publik dan dunia kerja, masih ada pandangan yang meremehkan kemampuan perempuan. Padahal, ditegaskan Giwo, perempuan adalah sosok multitalenta, mampu menjalankan banyak peran sekaligus dengan profesionalisme dan ketangguhan.
Baca juga : H-1 Lebaran, Tol MBZ Lengang, Bisa Ditempuh Hanya dalam 25 Menit
Bahkan, secara psikologis dan neurologis, perempuan lebih komunikatif. Data menunjukkan bahwa rata-rata perempuan menggunakan 6.000 hingga 8.000 kata per hari, sedangkan laki-laki hanya sekitar 2.000 hingga 4.000 kata.
“Ini menunjukkan kekuatan komunikasi dan empati perempuan yang menjadi modal penting dalam kepemimpinan, pendidikan, dan membangun relasi sosial,” terangnya.
Giwo berharap, perempuan Indonesia semakin berani bermimpi, mengambil peran, dan menjadi pemimpin dalam setiap lini kehidupan.
“Jadilah perempuan yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga mengeksekusi; tidak hanya bertanya, tetapi juga menjawab tantangan zaman,” pesan Giwo.
Selain itu, Giwo berpesan, perempuan Indonesia harus terus berjalan, menembus batas-batas lama, dan menciptakan ruang-ruang baru yang setara, inklusif, dan penuh harapan.
“Karena masa depan bangsa ini juga ditentukan oleh langkah perempuan hari ini,” ingatnya.
“Selamat Hari Kartini! Semoga semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” terus menerangi langkah perempuan Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah, adil, dan setara,” sambung Giwo, memungkasi pernyataannya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya