Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Dipimpin Menko Airlangga, Indonesia Sukses Jaga Keseimbangan AS & China
Selasa, 6 Mei 2025 22:28 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Strategi diplomasi dan negosiasi Indonesia dalam menjaga keseimbangan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok (Cina) menuai pujian dari sejumlah pengamat ekomomi dan pelaku hubungan internasional.
Mereka menilai strategi negosiasi yang dipimpin Airlangga Hartarto, selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian telah sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengedepankan prinsip perdagangan yang adil dan menjaga kedaulatan ekonomi nasional.
Dalam keterangannya usai bertemu Presiden di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/4/2025), Airlangga mengatakan, bahwa seluruh komunikasi perdagangan dilakukan secara bilateral, tanpa melibatkan negara ketiga.
"Sesuai arahan Presiden, semua pembicaraan dengan negara mitra bersifat bilateral, berlandaskan prinsip kesetaraan dan saling menguntungkan," kata Airlangga.
Menteri dari Partai Golkar ini juga menuturkan bahwa Presiden telah memberikan arahan agar dibentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk mengawasi tindak lanjut hasil negosiasi dan menjaga kesinambungan hubungan perdagangan jangka panjang.
Baca juga : Surveyor Indonesia Perkuat Kolaborasi Investasi Strategis dengan China
Sepanjang dua pekan lalu, Airlangga tercatat melakukan serangkaian pertemuan bilateral strategis, mulai dari diskusi dengan Denis Manturov, Wakil Perdana Menteri Rusia, perwakilan United States Trade Representative (USTR), Kamar Dagang dan Industri AS (Commerce Chambers), hingga Menteri Keuangan AS.
Pertemuan-pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan dagang dan membuka peluang investasi baru di tengah ketidakpastian global.
Sementara itu, hubungan Indonesia dengan China tetap menunjukkan tren positif. Pemerintah Tiongkok bahkan menyampaikan komitmen baru untuk meningkatkan investasinya di Indonesia, khususnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang dan pengembangan Pelabuhan Patimban. Ini membuktikan bahwa langkah diplomasi ekonomi Indonesia mampu menjaga kepercayaan semua mitra strategis.
Pengamat ekonomi, Joshua Breinhmamana menilai, bahwa strategi diplomasi ekonomi yang ditempuh pemerintah telah berhasil menjaga keseimbangan antara dua kekuatan besar dunia, tanpa mengorbankan kepentingan nasional.
"Ketika pemerintahan Trump menerapkan tarif tinggi ke beberapa negara, justru perkembangan ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok menunjukkan tren peningkatan, dari 4,28% di Februari 2025 menjadi 5,20% di Maret 2025. Ini menandakan bahwa hubungan ekonomi Indonesia dengan Tiongkok berjalan dengan baik," kata Joshua dikutip Selasa (6/5/2025)
Baca juga : PT Kliring Berjangka Indonesia Catat Pertumbuhan Kinerja Positif
Menurut Joshua, China masih menjadi pangsa pasar utama ekspor Indonesia, mengungguli negara-negara ASEAN dan bahkan Amerika Serikat. Namun, ia mengingatkan agar Indonesia tetap berhati-hati dalam menetapkan kebijakan tarif resiprokal.
“Jika Indonesia menetapkan tarif yang terlalu tinggi atau terasa menyudutkan China, maka ada potensi pembalasan berupa pengurangan impor komoditas unggulan dari Indonesia seperti CPO, batu bara, dan nikel,” ujarnya.
Lebih lanjut, Joshua juga mencermati sisi impor, khususnya dominasi produk nonmigas asal Tiongkok.
“Mesin, peralatan mekanis, perlengkapan elektrik, hingga kendaraan asal China masih mendominasi pasar impor dalam negeri dengan nilai mencapai 6,3 miliar dolar AS pada Maret 2025. Ini mencerminkan hubungan dagang yang timbal balik dan saling menguntungkan antara Indonesia dan Tiongkok,” jelasnya.
Pengamat ekonomi tersebut juga menegaskan, bahwa pendekatan bilateral yang konsisten, seperti yang dilakukan oleh Menko Airlangga, merupakan strategi jangka panjang yang mampu menghindari konflik kepentingan geopolitik sekaligus memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.
Baca juga : Gandeng,GSI Dan PT Freeport Indonesia, PSSI Terus Tempa Pembinaan Usia Dini
“Kecakapan diplomasi ekonomi kita bukan hanya soal menjaga relasi yang seimbang, tetapi juga mempertahankan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal,” tutup Joshua.
Melalui strategi yang sistematis dan diplomasi yang aktif, pemerintah optimistis Indonesia dapat mempertahankan stabilitas ekonomi nasional serta memperkuat posisinya di kancah perdagangan internasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya