Dark/Light Mode

2 Lukisan Di Ruang Kerja Prabowo Bikin Macron Takjub, Istrinya Terpukau

Rabu, 28 Mei 2025 13:31 WIB
Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5). Foto: YouTube/Sekretariat Presiden
Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5). Foto: YouTube/Sekretariat Presiden

RM.id  Rakyat Merdeka - Satu momen tak biasa terekam saat Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan kunjungan kenegaraan ke Istana Merdeka, Rabu (28/5). Di sela-sela prosesi formal dan deretan pertemuan strategis, Macron menyempatkan diri menanyakan dua lukisan yang terpajang di ruang kerja Presiden Prabowo Subianto.

Lukisan pertama menampilkan sosok Presiden pertama RI, Soekarno. Potret besar itu tergantung mencolok di dinding utama ruang kerja Presiden. Saat melangkah masuk, Ibu Negara Prancis Brigitte Macron tampak terpukau, berhenti sejenak memandangi lukisan penuh wibawa tersebut.

Presiden Macron saat menyusul masuk, langsung menunjuk ke lukisan dan bertanya dengan nada penasaran, “Aa… jadi ini?”

Dengan nada bangga, Prabowo menjawab, “Presiden pertama saya. Presiden pertama Indonesia. Presiden Soekarno.”

Baca juga : Tok, Wamen Komdigi Angga Raka Prabowo Jadi Komut Telkom

Macron mengangguk hormat. Ia menyampaikan bahwa dirinya merasa bangga bisa melihat langsung potret tokoh besar dunia tersebut. “Ya, bangga sekali bisa melihatnya,” ucapnya, sembari menatap sosok proklamator yang dikenal dunia sebagai pelopor gerakan non-blok dan simbol perlawanan terhadap kolonialisme.

Namun perhatian Macron tak berhenti di sana. Sebuah lukisan lain, terpajang di sisi ruang kerja, juga menyita pandangannya.

“So, who is that?” tanyanya sambil menunjuk lukisan lain.

“Itu adalah salah satu pahlawan kami yang gugur. Namanya I Gusti Ngurah Rai,” jawab Prabowo. Ia lalu mulai bercerita.

Baca juga : Resmikan Kantin Sehat, Pramono Sediakan Makanan Sehat Dengan Harga Murah

“Dia berasal dari Bali. Saat perang kemerdekaan, dia dan batalionnya dikepung. Amunisinya habis. Pasukan Belanda menawarkan agar dia menyerah, dan jika dia setuju, nyawanya akan diselamatkan,” ujar Prabowo.

“Tapi dia menolak. Dia tidak mau menyerah. Dengan bayonet terpasang, dia memimpin serangan. Mereka semua gugur. Satu batalion gugur semuanya,” lanjutnya.

Presiden Macron terdiam sesaat mendengarkan kisah heroik itu. Ia kemudian bertanya, “Kapan peristiwa ini terjadi?”

“Pada masa perang setelah kemerdekaan kami, tahun 1946,” jawab Prabowo.

Baca juga : Fraksi PKB Dukung Ajakan Prabowo Agar Negara Islam Bela Palestina

Peristiwa yang dimaksud ialah Puputan Margarana, pertempuran habis-habisan pada 20 November 1946 di mana I Gusti Ngurah Rai dan 96 pasukan Ciung Wanara gugur melawan pasukan kolonial Belanda. 

Puputan sendiri berarti perang sampai titik darah penghabisan, yang dalam budaya Bali dimaknai lebih baik mati daripada menyerah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.