Dark/Light Mode

Kepala PCO Bicara Bahaya DFK: Bisa Hancurkan Bangsa!

Senin, 30 Juni 2025 21:30 WIB
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) Hasan Nasbi. (Foto: Ist)
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) Hasan Nasbi. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) Hasan Nasbi menegaskan, Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK) merupakan ancaman serius yang dapat merusak tatanan sosial dan bahkan menghancurkan bangsa apabila tidak dilawan secara bersama-sama.

“Pemerintah tidak bisa menangani DFK sendirian. Pelakunya bisa ratusan juta. Karena itu, semua elemen masyarakat, media, organisasi sipil, hingga kampus harus punya kesadaran dan komitmen yang sama bahwa DFK itu tidak boleh. DFK bisa menghancurkan bangsa,” kata Hasan saat berbicara dalam diskusi di Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta, Senin. (30/6/2025).

Baca juga : Kepala PCO Ajak Mahasiswa Kritis Hadapi Realitas Semu Media Sosial

Hasan mendorong masyarakat untuk aktif melakukan pengecekan fakta atau fact-checking demi menjaga akurasi informasi di ruang publik. Ia mengakui bahwa praktik tersebut tak jarang menimbulkan kegaduhan karena menyentuh kepentingan pihak tertentu, namun hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti.

“Cek fakta pasti berisik. Tapi harus tetap dilakukan sebanyak mungkin orang. Kalau kita terbiasa, lama-lama kegaduhan itu akan menjadi biasa, yang penting kebenaran tetap terjaga,” ujarnya.

Baca juga : Julio Cesar Bangga Bisa Bergabung Bareng Persib

Ia kemudian mengibaratkan DFK seperti hama burung yang menyerang tanaman pangan. “Satu ekor burung tidak akan merusak panen. Tapi kalau yang datang satu rombongan besar, habislah kerja keras petani. Begitu juga dengan DFK. Satu mungkin tidak terasa. Tapi kalau masif, maka objektivitas bisa hilang dari kehidupan kita,” jelas Hasan.

Dalam kesempatan tersebut, pendiri lembaga riset politik Cyrus Network itu juga memaparkan pemikiran sosiolog Prancis Jean Baudrillard mengenai konsep simulacra, yakni fenomena ketika batas antara fakta dan ilusi menjadi kabur akibat perkembangan teknologi dan budaya tontonan.

Baca juga : Paskibraka: Bibit Unggul Bangsa

“Ada tiga tingkatan simulakra. Pertama, representasi yang masih terkait dunia nyata. Kedua, distorsi realitas akibat teknologi. Ketiga, hiper realitas, di mana citra dan simbol tidak lagi mewakili kenyataan, malah menggantikan kenyataan itu sendiri,” terang Hasan.

Ia mencontohkan kecenderungan masyarakat yang lebih memilih merekam peristiwa kecelakaan daripada memberi pertolongan sebagai tanda pergeseran nilai. “Yang penting viral, bukan nilai kemanusiaannya. Ini tanda kita mulai kehilangan realitas,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.