Dark/Light Mode

Bonus Demografi: Peluang Emas atau Ancaman bagi Keberlanjutan?

Kamis, 10 Juli 2025 09:32 WIB
Bonus demografi (Foto: Dok. Bappenas)
Bonus demografi (Foto: Dok. Bappenas)

Indonesia tengah memasuki fase krusial dalam sejarah demografinya. Bonus demografi di mana jumlah penduduk usia produktif (15–64 tahun) jauh lebih besar dibandingkan penduduk usia non-produktif diprediksi mencapai puncaknya antara tahun 2020 hingga 2045. Ini disebut sebagai peluang emas untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan. Namun, seperti dua sisi mata uang, bonus demografi juga bisa menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan jika tidak dikelola dengan bijak dan visioner.

Antara Peluang dan Tantangan

Secara teori, dominasi usia produktif dalam struktur demografi akan meningkatkan produktivitas nasional. Lebih banyak tenaga kerja berarti lebih banyak potensi pertumbuhan ekonomi. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok telah membuktikan bahwa momentum ini bisa menjadi lompatan sejarah demographic dividend.

Baca juga : PT IIM Raih Penghargaan ESG: Inovasi Keberlanjutan Lewat Reksa Dana Peduli

Namun, realitas di Indonesia menunjukkan sinyal campuran. Masih tingginya angka pengangguran terbuka, ketimpangan pendidikan, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia menimbulkan pertanyaan besar: siapkah kita memanen bonus demografi, atau justru terjebak dalam demographic disaster?

Keberlanjutan: Dimensi yang Sering Terabaikan

Dalam euforia menyambut bonus demografi, isu keberlanjutan sering kali terpinggirkan. Padahal, keberlanjutan tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga menyangkut dimensi sosial, ekonomi, dan institusional. Apalah artinya memiliki angkatan kerja besar jika mereka tidak terserap oleh lapangan kerja yang layak dan berkelanjutan?

Baca juga : PLN Indonesia Power Sabet ESG Award atas Komitmen Energi Berkelanjutan

Pembangunan yang mengabaikan keseimbangan dengan daya dukung lingkungan justru berisiko menciptakan beban baru di masa depan. Ledakan konsumsi tanpa kontrol, urbanisasi masif tanpa perencanaan, serta eksploitasi sumber daya alam tanpa batas akan menggerogoti masa depan generasi berikutnya.

Strategi Menuju Keberlanjutan Demografis

Untuk mengubah bonus demografi menjadi dividen yang berkelanjutan, perlu strategi lintas sektor:

  1. Investasi dalam Pendidikan Berkualitas dan Merata. Meningkatkan kualitas pendidikan, terutama keterampilan abad ke-21, menjadi kunci utama. Pendidikan vokasi, digitalisasi, dan literasi ekologis perlu didorong secara masif.
  2. Penciptaan Lapangan Kerja Hijau dan Inklusif. Pemerintah dan sektor swasta harus mendorong pertumbuhan sektor ekonomi hijau yang ramah lingkungan dan menyerap banyak tenaga kerja. Ekonomi sirkular, energi terbarukan, dan agribisnis modern adalah beberapa potensi yang layak dikembangkan.
  3. Penguatan Layanan Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana. Keberlanjutan juga berkaitan dengan kualitas populasi. Akses layanan kesehatan dan pengendalian pertumbuhan penduduk harus terus diperkuat.
  4. Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Semua kebijakan pembangunan, baik nasional maupun daerah, harus merujuk pada kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai peta jalan keberlanjutan yang terintegrasi.

Baca juga : Elon Musk Umumkan Partai Baru, Namanya Partai Amerika

Bonus demografi adalah peluang langka yang tak datang dua kali. Namun, jika salah urus, ia bisa menjadi bumerang. Kunci keberhasilannya bukan semata pada jumlah penduduk usia produktif, tetapi pada kualitas, daya serap, dan kesinambungan antara pembangunan manusia, ekonomi, dan lingkungan.

Di tengah ancaman perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan ketidakpastian global, Indonesia membutuhkan arah kebijakan yang progresif dan berwawasan jangka panjang. Bonus demografi harus ditempatkan sebagai bagian dari agenda besar pembangunan berkelanjutan, bukan sekadar momentum sesaat yang berlalu tanpa bekas.

Dr. H. Suripto, S.E., M.Ak
Dr. H. Suripto, S.E., M.Ak
Ketua Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang, Peneliti Bidang Keberlanjutan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.