Dark/Light Mode

Catatan Prof. Sukardi Weda

BPIP Emban Misi Asta Cita

Selasa, 2 September 2025 15:01 WIB
Prof. Sukardi Weda. (Foto: Ist)
Prof. Sukardi Weda. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Saya rasa, tak satu pun di antara kita yang tidak pernah mendengar Pancasila. Sebagai living ideology, Pancasila bukan hanya artefak sejarah masa lalu, tapi juga menjadi petunjuk arah bagi masa depan bangsa Indonesia. Menukil dari Prof. M. Amin Abdullah, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Pancasila itu bukan hanya sebagai Dasar Negara, melainkan pula budaya hidup bersama yang menubuh dalam keseharian.

Idealnya, Pancasila menjadi roh penyemangat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila menjadi sumber nilai kehidupan sehari-hari, baik dalam berperilaku atau bertutur. Namun, ada masanya, pemahaman dan aktualisasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari juga mengalami pasang surut. Misalnya saja, menurut As'ad Said Ali dalam buku berjudul 'Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa', bahwa dalam masa tertentu, ada saatnya Pancasila melekat kuat di benak masyarakat. Namun di lain kesempatan, pemahaman mengenai Pancasila mulai mengendur. Pendek kata, selalu ada pasang surut. 

Dari rezim yang satu ke rezim yang lain, dapat kita lihat dan rasakan betapa besar perhatian para tokoh bangsa agar Pancasila selalu menjadi dasar negara, pandangan hidup, dan fondasi ideologis nyata seluruh elemen bangsa tak terkecuali. 

Baca juga : Semoga BPIP Bisa Mempercepat Harapan Rakyat

Ironisnya, semua mimpi The Founding Fathers masih jauh dari harapan. Buktinya, kian marak terjadi perdebatan tak penting para elit, konflik komunal, dan konflik sosial. Belum lagi tingginya kasus kemiskinan korupsi, perampasan hak rakyat, dan segudang masalah klasik lainnya. 

Sebagai warga negara, kita memiliki pekerjaan rumah untuk senantiasa menanamkan nilai-nilai Pancasila di tengah kepungan globalisasi, modernisasi, dan teknologi tak ramah. Hantaman teknologi digital di tengah globalisasi dan modernisasi membuat kita semakin berwawasan global. Alhasil, segala informasi serta perilaku masyarakat global dari tontonan televisi dan media sosial, tak sadar sehari-hari kita tiru. Hal tersebut pertanda kita telah lupa dan abai dengan nilai kearifan serta budaya dalam Pancasila. 

Pancasila sebagai ramuan nilai-nilai indigenous-genuine Nusantara, ditopang oleh cross reference akademik kuat, menyerap dinamika geopolitik dunia. Secara filosofis, prinsip Ketuhanan dalam Pancasila menurut M. Amin Abdullah adalah Ber-Tuhan yang berkebudayaan atau berkeadaban, dan tidak ada egoisme agama. 

Baca juga : Yuk, Perkuat Narasi Kebangsaan Melalui Nilai Keagamaan

Bukan hanya bangsa Indonesia ber-Tuhan, tapi masing-masing orang hendaknya ber-Tuhan. Hendaknya Indonesia menjadi negara yang tiap warganya bisa menyembah Tuhannya dengan leluasa. 

Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, BPIP telah berperan penting sejak dilahirkan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018. Kontribusinya sudah cukup masif dan riil sebagai mercu suar dalam membangun bangsa yang berkeadaban. Namun, itu pun belum cukup. BPIP perlu legal standing dan kewenangan yang lebih kuat. Salah satu tujuannya, agar BPIP bisa berkolaborasi intens dan tanpa canggung dengan lintas Kementerian/Lembaga dalam membumikan Pancasila. 

Maka, harapan kita tertuju pada Baleg DPR (Badan Legislasi) yang sedang membahas RUU BPIP (Rancangan Undang-Undang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) sebagai Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2025. Para legislator terhormat, telah, dan akan terus menyerap masukan dari beberapa pakar hukum dan tokoh bangsa. 

Baca juga : BPIP Sebagai Wadah Pancasila Dalam Tata Kelola Negara

Kelak jika terlahir kembali dengan landasan Undang-Undang, saya yakin BPIP akan menjadi kompas masa depan bangsa ini. Bahkan secara riil, sesegera mungkin, BPIP bisa membantu Presiden Prabowo Subianto dan Kabinet Merah Putih dalam merealisasikan misi Asta Cita. Utamanya dalam prioritas pertama, memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan Hak Asasi Manusia (HAM).

 

*Penulis adalah Guru Besar Universitas Negeri Makassar dan Koordinator Garuda Asta Cita Nusantara (GAN) Sulawesi Selatan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.