Dark/Light Mode

Masih di Depan Pintu Gerbang Kemerdekaan?

Selasa, 12 Agustus 2025 22:42 WIB
Makmur Sianipar (Foto: Dok. Pribadi)
Makmur Sianipar (Foto: Dok. Pribadi)

Di Bulan Agustus, langit Indonesia selalu menyala dengan merah dan putih yang tegas, seperti kanvas raksasa tempat sejarah dilukis berulang-ulang. Di setiap lorong kampung, anak-anak mengikatkan pita di pagar, ibu-ibu menjemur kue kering di teras, dan di balai desa, pengeras suara memanggil peserta lomba panjat pinang. Segalanya seolah menyanyikan satu lagu: kita telah merdeka.

Namun, ada nada lain yang mengalun pelan di bawah riuh itu, nada yang pahit, nyaris tak terdengar, seperti bunyi peluit jauh di dermaga pada malam berkabut. Nada itu pernah digemakan Tan Malaka (Muslihat, Politik & Rencana Ekonomi Berjuang, 2014), pada 24 Januari 1946, ketika ia masuk tanpa diundang ke sebuah ruangan yang penuh dengan nama-nama besar: Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim. Ia berdiri di sana, bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pengingat. 

"Kepada kalian para sahabat," katanya, suaranya berat, "tahukah kalian mengapa aku tidak tertarik kemerdekaan yang kalian ciptakan? Karena kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama".

Ia menatap Soekarno. Tatapan yang mungkin mampu membelah udara, dan menambahkan, "Kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen. Hari ini aku masih melihat kemerdekaan hanyalah milik kaum elite, yang mendadak bahagia menjadi borjuis, sukacita menjadi ambtenaar".

Baca juga : Obi dan Dairi Tunjukkan Jurus Tambang Ramah Lingkungan

Ia berbicara seperti seseorang yang sudah melihat peta masa depan, peta yang digambar dengan tinta kesenjangan. Dan sekarang, delapan puluh tahun kemudian, peta itu semakin jelas, dan kita berdiri tepat di atas garis-garisnya.

Data adalah angka, tetapi angka-angka ini seperti gemuruh yang tak henti. Global Wealth Report (Credit Suisse, 2016) menyebut: 1 persen penduduk memegang 49,3 persen kekayaan negeri. Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid (13/7/2025) menambahkan bab baru: 60 keluarga memiliki 48 persen tanah bersertifikat Indonesia.

Di pesta kemerdekaan ke-80 ini, kita seperti tokoh-tokoh di novel Francis Scott Fitzgerald, berdansa di aula yang diterangi lampu kristal, sementara di luar jendela, dunia retak. Kita tersenyum untuk foto, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, dan menatap kembang api yang meledak seperti karangan bunga raksasa di udara. Tapi di sela-sela dentuman itu, ada bisik-bisik dari masa lalu: “Kita hanya sampai di depan pintu gerbang kemerdekaan…?”

Pintu itu tinggi dan kokoh, dibuat dari janji-janji yang dulu terasa suci. Di baliknya, konon, ada negeri yang makmur, adil, merata. Namun, kuncinya dijaga oleh segelintir orang, dan rakyat hanya bisa mengintip melalui celahnya.

Baca juga : Rasmus Hojlund Disaranin Pindah Ke AC Milan

Tan Malaka mungkin akan berkata, kali ini dengan suara yang lebih dingin: “Kita telah berjalan terlalu jauh di jalan yang salah”. Dan jika nada suaranya semakin tajam, ia mungkin akan mengulang ancaman lamanya: “Jika kalian tetap seperti ini, maka inilah hari terakhir aku datang sebagai sahabat. Esok, aku akan datang sebagai musuh”.

Merdeka seharusnya berarti tak ada perut yang lapar, tak ada anak yang berhenti sekolah karena biaya, tak ada keluarga yang terusir demi proyek yang mereka tak pernah minta. Tapi kata “merdeka” kini terasa seperti gaun mewah yang hanya dipakai di hari-hari besar, indah untuk dilihat, tak nyaman untuk dipakai, dan tak dimiliki oleh kebanyakan orang.

Dan seperti pesta-pesta musim panas di Long Island yang ditulis Fitzgerald, kemerdekaan kita pun dirayakan dengan gelas-gelas penuh, meja yang melimpah, dan tawa yang menggelegar. Namun, di tepian ruangan, berdiri orang-orang yang tak mengenal rasa minuman itu, yang hanya menatap dari kejauhan.

Delapan puluh tahun adalah waktu yang cukup untuk memperbaiki arah. Namun, kita seakan terjebak dalam lingkaran yang sama: jurang kaya-miskin semakin dalam, tanah semakin sempit, laut semakin jauh, dan janji kemerdekaan semakin samar.

Baca juga : Timnas U-17 Siap Tempur, Ini Jadwal Piala Kemerdekaan 2025

Kita harus memilih, membuka pintu itu sepenuhnya, atau terus membiarkannya sebagai monumen dari sesuatu yang tak pernah benar-benar kita capai. Karena jika kita terus membiarkannya tertutup, suara dari luar akan semakin keras, dan pada suatu hari, pintu itu mungkin tak akan dibuka, tetapi didobrak.

Ketika hari itu tiba, pesta kemerdekaan mungkin akan tetap ada, bendera, lagu, kembang api, namun maknanya akan berubah. Ia akan menjadi perayaan yang dihadiri oleh mereka yang memenangkan pintu itu, bukan mereka yang mewarisinya. Dan kita akan tahu bahwa Tan Malaka benar: merdeka haruslah 100 persen, atau ia bukanlah merdeka sama sekali.

Dr. Makmur Sianipar
Dr. Makmur Sianipar
Advokat dan Konsultan Hukum, Senior Fellow Research Institute for Ethical Business and Political Leadership Development (Rebuild)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.