Dark/Light Mode

Eks Pejabat BIN Gelar Silaturahmi, Tegaskan Tak Bahas Politik Praktis

Rabu, 13 Agustus 2025 07:46 WIB
Sejumlah mantan pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) menggelar acara temu kangen dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Ke-80 Republik Indonesia di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (12/8/2025). Foto: Istimewa
Sejumlah mantan pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) menggelar acara temu kangen dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Ke-80 Republik Indonesia di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (12/8/2025). Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah mantan pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) menggelar acara temu kangen dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Ke-80 Republik Indonesia di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (12/8/2025).

Tokoh-tokoh senior BIN yang hadir antara lain mantan Kepala BIN A.M. Hendropriyono serta mantan Wakil Kepala BIN KH. As’ad Said Ali.

Hadir pula mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Mahfud MD, Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO).

Baca juga : KPK Gelar OTT di Sultra, Amankan Bupati

Sekretaris Panitia, Chairoel Jul Naro, menuturkan bahwa kegiatan ini murni merupakan ajang silaturahim para tokoh yang telah lama tidak bertemu.

“Jadi kami ini sebenarnya temu kangen orang yang lama terpisah, bercerai-berai. Sekarang kami kumpulkan keping per keping, jadi seperti malam ini,” ujar Chairoel.

Dia menegaskan, tidak ada pembahasan politik dalam pertemuan tersebut. “Kami tidak ada sama sekali bicara perkara politik,” katanya.

Baca juga : Bahlil Dan Nusron Kompak Tegaskan Tidak Ada Munaslub Partai Golkar

Meski begitu, Chairoel menyampaikan pandangannya agar seluruh masyarakat memberi kesempatan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk bekerja.

"Kalau kami, melihatnya begini, Pak Prabowo ini mesti kita kasih kesempatan. Kita enggak boleh menghujat-hujat beliau," ucapnya.

Sementara itu, A. M. Hendropriyono mengapresiasi pertemuan ini. Dia berharap, intelijen saat ini semakin lebih baik. Dia juga berharap, filsafat intelijen masuk menjadi kurikulum pembelajaran pendidikan intelijen di Indonesia dan seluruh dunia.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Gelar Lomba Masak Bright Gas, Angkat Rasa Nusantara

"Karena intelijen global melakukan operasi di dunia internasional, sudah tidak lagi memegang etika intelijen. Misalnya penyebaran hoaks, semakin bohong semakin dipercaya," katanya.

Dia mengingatkan seluruh pihak untuk waspada dengan proxy war yang beragendakan infiltrasi dan adu domba. Misalnya isu dan hal yang mengemuka, terlihat lucu bagi publik. Padahal tidak lucu dan sebetulnya berbahaya.

"Ini menggejala. Bagian dari pelanggaran operasi intelijen tadi. Sehingga kita semua harus waspada. Jangan sampai seperti Suriah. Kalau kita lihat, dulu di Suriah sebelum hancur, sama gejalanya kaya di Indonesia sekarang," ingatnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.