Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo, Sinyal Kemerdekaan Kedua
Sabtu, 16 Agustus 2025 05:17 WIB
Delapan puluh tahun lalu, Indonesia lahir dari darah dan air mata. Bung Karno berdiri di Pegangsaan Timur, membacakan proklamasi, dan sejak itu kita menyebut diri “merdeka.” Tapi hari ini, 80 tahun kemudian, kita sadar: kemerdekaan itu belum tuntas.
Penjajah yang kita hadapi sekarang tidak memakai seragam militer. Tidak membawa senapan. Mereka berwajah lebih halus, lebih licik. Namanya: kemiskinan, kebodohan, korupsi, mafia pangan, mafia tambang, mafia hukum, dan serakahnomics. Mereka merampas tanpa mengangkat senjata, menguasai tanpa bendera.
Jumat 15 Agustus 2025, di podium Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD, Presiden Prabowo Subianto berdiri bukan sekadar sebagai kepala negara. Ia tampil seperti seorang panglima di depan pasukan. Bukan pidato basa-basi, bukan sekadar laporan tahunan. Yang keluar dari ucapannya adalah peta tempur, battle plan untuk memenangkan kemerdekaan kedua bangsa ini.
A. Merdeka dari Perpecahan dan Kemiskinan
Prabowo memulai dengan kabar yang jarang kita dengar: transisi kekuasaan dari Jokowi ke dirinya berjalan mulus, bahkan diakui dunia sebagai salah satu yang terbaik. Ini modal politik yang jarang dimiliki bangsa-bangsa lain. Demokrasi kita, katanya, adalah demokrasi khas Indonesia sejuk, kekeluargaan, gotong royong.
Lalu ia bicara soal angka yang langsung menusuk: Rp300 triliun APBN rawan diselewengkan berhasil diamankan di awal 2025. Bukan hanya diamankan, tapi dialihkan ke program yang rakyat bisa lihat: Makan Bergizi Gratis untuk puluhan juta anak. Bagi sebagian negara, ini proyek sepuluh tahun. Bagi Prabowo, ini tujuh bulan.
B. Merdeka dari Mafia Pangan
“Beras adalah kebutuhan pokok yang harus dijamin negara,” ucapnya. Sebuah kalimat sederhana tapi memukul telak.
Baca juga : Wamen Fajar: Pidato Kenegaraan Prabowo Bukti Komitmen Bangun SDM Unggul
2 juta hektar sawah baru dibuka. Harga gabah dinaikkan. Cadangan beras kini 4 juta ton rekor tertinggi sepanjang sejarah. Setelah puluhan tahun, Indonesia kembali mengekspor beras dan jagung. Penggilingan besar wajib berizin khusus atau dikelola BUMN/BUMD.
Ini bukan sekadar kebijakan pangan. Ini serangan langsung ke jantung mafia yang selama puluhan tahun mengatur urusan perut rakyat.
C. Merdeka dari Ketimpangan
80.000 Koperasi Merah Putih kemudian didirikan. Fungsinya bukan hanya jual beras murah, LPG, dan pupuk. Koperasi ini adalah benteng ekonomi desa, alat untuk memecah konsentrasi uang di kota, dan senjata melawan jurang kaya-miskin yang makin lebar.
Dengan Danantara, lembaga pengelola investasi lebih dari USD 1 triliun, ia ingin mempercepat hilirisasi SDA dan membuka jutaan lapangan kerja berkualitas. Tingkat pengangguran nasional kini terendah sejak krisis 1998.
Ini bukan angka. Ini dentuman meriam pertama di front kemerdekaan ekonomi.
D. Merdeka dari Kebodohan
Pendidikan tetap mendapat 20% APBN, tapi kali ini ia pastikan uangnya sampai ke guru, bukan hilang di jalan. Gaji guru ASN naik, guru non-ASN mendapat tunjangan layak. 13.800 sekolah direnovasi. Layar pintar dikirim ke pelosok. Sekolah Unggul Garuda dibangun di seluruh negeri.
Baca juga : Menag Ajak Kobarkan Semangat Pahlawan untuk Kemerdekaan Hakiki
Ini bukan sekadar infrastruktur pendidikan. Ini investasi untuk menghancurkan kebodohan sistemik.
E. Merdeka dari Mafia Sumber Daya Alam
Perpres No. 5 Tahun 2025 jadi pedang tajam: 3,1 juta hektar sawit ilegal ditertibkan. Targetnya 5 juta hektar. Tambang ilegal akan menyusul. Pesannya jelas: kekayaan alam hanya untuk kemakmuran rakyat, bukan segelintir orang.
F. Merdeka di Panggung Dunia
Prabowo mengumumkan Indonesia resmi bergabung dengan BRICS, menyelesaikan EU CEPA, memperkuat hubungan dagang dengan AS, menjadi tamu kehormatan India dan Prancis, dan tetap vokal memperjuangkan Palestina.
Ia paham: di dunia, kedaulatan hanya dihormati jika kita kuat. Itu sebabnya pertahanan diperkuat masif: Kodam baru, Kopassus bertambah, brigade teritorial, batalion marinir. Ia bicara ini dengan nada yang sama seperti bicara soal beras dan sekolah, sama seriusnya.
G. Mengapa Pidato Kenegaraan Ini Berbeda
Banyak presiden berdiri di podium MPR. Banyak yang membaca teks. Tapi kali ini, kata-kata Prabowo terdengar seperti komando tempur. Ia tahu medan perang kita: kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, mafia, korupsi. Ia tahu musuhnya tak kasat mata tapi mematikan. Dan ia memilih menyerang, bukan bertahan.
Baca juga : Prabowo Apresiasi Tujuh Presiden Pendahulu di Sidang Paripurna MPR
Kalau 1945 adalah kemerdekaan dari penjajahan fisik, maka 2025 adalah dimulainya Kemerdekaan Kedua, kemerdekaan dari penjajahan struktural dan sistem yang timpang.
Seperti dulu, perjuangan ini butuh komandan, butuh pasukan, dan di atas segalanya, butuh keberanian.
Di usia 80 tahun Indonesia merdeka, Prabowo berdiri di podium itu dan mengibarkan bendera perang yang baru.
Pertanyaannya sekarang: kita ikut berbaris, atau hanya menonton?
Merdeka!
Taufan Rahmadi
Dewan Pakar GSN, Analis Kebijakan BA Center
Dewan Pakar GSN, Analis Kebijakan BA Center
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya