Dark/Light Mode

Dongkrak UMKM, Bangun Ekosistem Yang Kuat

Rabu, 20 Agustus 2025 15:58 WIB
Pengamat ekonomi dari Politeknik Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta, Adelina Mariani Simatupang. Foto: Istimewa
Pengamat ekonomi dari Politeknik Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta, Adelina Mariani Simatupang. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengamat ekonomi dari Politeknik Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Jakarta, Adelina Mariani Simatupang menganggap penting peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendongkrak kekuatan ekonomi di Indonesia. Pun, beragam bantuan membangun UMKM mengalir deras.

Namun, Adelina memberikan pandangan, bahwa bantuan finansial saja tidak cukup.

“Memberikan bantuan keuangan itu penting, tetapi itu hanyalah satu bagian dari teka-teki. Tantangan sebenarnya adalah membangun sebuah ekosistem yang kuat di mana UMKM dapat tumbuh, berinovasi, dan terhubung,” ujar Adelina dalam keterangannya, Rabu (20/8/2025).

Mengulang pendapat peraih nobel ekonomi 2018 di BRI Microfinance Outlook 2025, Paul Romer, Adelina menyebut ekosistem tersebut harus mencakup tiga pilar utama. Yaitu, akses ke pasar, teknologi, dan pelatihan.

“Tanpa itu semua, suntikan modal berisiko hanya menjadi solusi sementara yang tidak berkelanjutan. Jika bantuan modal sering diibaratkan sebagai memberi kail, maka yang dibutuhkan adalah membangun jembatan,” katanya.

Baca juga : Kadin: UMKM Dan Koperasi Fondasi Ekonomi Rakyat

Nah, jembatan yang dianalogikan Adelina menghubungkan UMKM adalah menghubungkan pengusaha dengan pasar nasional maupun global. Misalnya, sebuah usaha kecil pengrajin rotan di Jepara tidak akan berkembang bila produknya hanya berputar di pasar lokal.

“Di sinilah peran Pemerintah, lembaga keuangan, dan swasta mmemberikan akses distribusi ke kota besar atau ekspor,” ujarnya.

Menurutnya, UMKM sering disebut tulang punggung perekonomian, namun kekuatan sejatinya tidak terletak pada kemandirian tunggal, melainkan pada sebuah jejaring penopang yang kompleks dan hidup. Yaitu, ekosistem UMKM.

Ekosistem ini adalah wujud gotong royong modern, setiap pihak memiliki peran krusial dalam memastikan UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh, berinovasi, dan naik kelas.

Sebagai arsitek utama, katanya, Pemerintah meletakkan fondasi melalui kebijakan yang pro-pertumbuhan. Peran ini tidak lagi sebatas retorika, melainkan terwujud dalam langkah-langkah konkret.

Baca juga : PGN Dorong Anak Muda Bangun Karier dan Kontribusi Nyata Lewat YOTNC 2025

Contohnya, peluncuran sistem Online Single Submission (OSS) yang memangkas birokrasi perizinan secara drastis, memungkinkan calon pengusaha mendapatkan Nomor Induk Berusaha (NIB) dalam hitungan jam.

Di sisi pembiayaan, program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan subsidi bunga menjadi andalan, sementara kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) mewajibkan instansi Pemerintah mengalokasikan anggarannya untuk membeli produk UMKM, memberikan kepastian pasar yang sangat dibutuhkan.

Namun, untuk memperkuat ekosistem UMKM, Pemerintah perlu memperluas kebijakan yang lebih inovatif dan inklusif. Pertama, dalam aspek pembiayaan, perlu dibentuk skema khusus berbasis sektor, misalnya KUR hijau bagi UMKM ramah lingkungan dan KUR digital bagi UMKM berbasis teknologi.

Kemudian, kolaborasi bank dengan fintech juga penting agar pembiayaan dapat menjangkau UMKM yang tidak memiliki agunan atau riwayat kredit formal. Selanjutnya, reformasi perpajakan perlu diarahkan agar lebih ramah UMKM.

Baginya, penyederhanaan pelaporan pajak melalui aplikasi otomatis akan sangat membantu pelaku usaha kecil yang masih awam administrasi. Insentif pajak juga dapat diberikan bagi UMKM yang berorientasi ekspor atau yang menghasilkan produk berbasis inovasi dan riset.

Baca juga : Cuaca Ekstrem Menerjang Dwarawati

Selanjutnya, penguatan rantai pasok nasional harus menjadi prioritas. Pemerintah dapat membuka ruang lebih besar bagi UMKM untuk menjadi pemasok resmi BUMN dan perusahaan besar melalui program link and match.

Selain itu, keberadaan e-catalog Pemerintah harus diperluas agar produk UMKM lebih mudah masuk dalam belanja pengadaan barang dan jasa negara. Terakhir, katanya, investasi pada pendidikan dan inovasi tidak boleh diabaikan.

“Perguruan tinggi perlu didorong membentuk business incubator yang langsung mendampingi UMKM di wilayahnya. Hibah riset terapan juga harus difokuskan untuk pengembangan produk, teknologi produksi, hingga inovasi pengolahan pascapanen yang relevan dengan kebutuhan UMKM,” tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.