Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Demokrat Dorong Reformasi DPR
Rakyat Tuntut Perubahan Bukan Sekadar Ganti Wajah
Jumat, 12 September 2025 06:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Peristiwa amuk massa pada akhir Agustus 2025 harus dilihat sebagai peringatan keras dan koreksi bagi legislatif. Tak ada jalan lain, kecuali DPR melakukan reformasi dan bukan sekadar ganti wajah dengan pergantianantar waktu (PAW) anggota parlemen.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Demokrat, Benny K Harman menyikapi peristiwa amarah massa yang terjadi sepanjang 25-31 Agustus 2025. Dia mengatakan, peristiwa Agustus kelabu itu harus disikapi dengan perbaikan-perbaikan lembaga legislatif.
“Amarah harus dilihat sebagai peringatan keras dan koreksi bagi Dewan,” kata Benny di Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Upaya reformasi kelembagaan DPR, kata Benny, merupakan jawaban atas aksi massa yang berbuntut pembakaran fasilitas publik dan penjarahan kediaman pribadi pejabat publik.
Baca juga : Dapat Tambahan Kuota KPR Subsidi, BTN Patok Kredit Tumbuh 9 Persen
Anggota Komisi III DPR ini menegaskan, kericuhan yang terjadi di Jakarta dan sejumlah daerah di Tanah Air, menjadi indikator bahwa lembaga legislatif harus berbenah. Rakyat, kata dia, menuntut perubahan, bukan sekadar pergantian wajah.
“Mereka (rakyat) ingin DPR kembali menjadi lembaga yang mewakili kepentingan rakyat, bukan perpanjangan tangan oligarki," tegasnya.
Menurut Benny, reformasi kelembagaan DPR dan partai politik (parpol), merupakan tuntutan rakyat. Yaitu, termasuk bagian dari tuntutan 17+8 yang digaungkan mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Univeristas Indonesia (UI) saat demonstrasi di depan Gedung DPR, Jakarta, Selasa (9/9/2025).
"Tuntutan itu bisa terealisasi jika internal DPR berbenah diri. Misalnya, Alat Kelengkapan Dewan harus dibenahi agar kondusif bagi anggota dewan menjalankan hak-hak konstitusionalnya dalam melakukan fungsi pengawasan," ujarnya.
Baca juga : Terus Tambah Lahan Pertanian, Pemerintah Pede 2025 Swasembada Pangan
Pemulihan kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif, kata Benny, menjadi bagian penting dari upaya menjaga demokrasi. Dia mengatakan, setiap kali parlemen kehilangan legitimasi, demokrasi berada di ujung tanduk.
“Menyelamatkan demokrasi berarti menyelamatkan DPR. Dan menyelamatkan DPR berarti mengembalikan kedaulatan kepada rakyat," katanya.
Benny juga mengomentari komposisi koalisi besar pendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di DPR. Koalisi gemuk, kata dia, semestinya tidak membuat DPR menjadi rubber stamp (tukang stampel) dan pasif dalam mengawasi kinerja Pemerintah.
"Fungsi representasi harus tetap dijalankan dengan memfungsikan alat kelengkapan Dewan yang sudah ada," katanya.
Baca juga : Tap In Sudah Normal Mushalla Masih Rusak
Meskipun mayoritas Fraksi di DPR adalah pendukung Presiden Prabowo, kata Benny, semestinya kemandirian DPR sebagai harus tetap dijaga dan dikawal. Kata dia, demonstrasi terjadi di DPR karena parlemen tidak bekerja maksimal.
"Ini yang dikhawatirkan, DPR menjadi mudah dimanipulasi dan rawan terjadi abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan," tandas Benny. [BSH]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya