Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Demonstrasi yang terjadi sepanjang 25-31 Agustus 2025 harus dipandang sebagai denyut demokrasi. Mereka adalah bagian dari rakyat yang peduli, yang menyuarakan pendapat secara terbuka dan tegas. Menghargai mereka, berarti menghargai ruang kebebasan yang menjadi dasar demokrasi.
Namun, kerusuhan yang terjadi harus dibaca hati-hati. Jangan sampai, asumsi kekerasan itu justru digerakkan oleh aktor-aktor yang dibina oleh instrumen negara sendiri. Kerusuhan dengan pola seperti ini tidak lagi mewakili aspirasi rakyat, melainkan menjadi permainan kuasa yang mengaburkan pesan demokrasi dan menodai ruang kebebasan itu sendiri.
Dalam sejarah politik kita, ancaman disintegrasi kerap dipakai sebagai kartu tawar. Narasi bangsa akan pecah sering dimunculkan bukan oleh rakyat, melainkan oleh segelintir aktor politik dan bahkan oleh sebagian instrumen negara yang menggunakannya sebagai tekanan terhadap Presiden.
Pola itu selalu sama. Kerusuhan dipakai untuk menciptakan rasa takut, lalu rasa takut itu dikonversi menjadi nilai tawar politik. Yang lebih mengkhawatirkan, aktor yang meniupkan isu disintegrasi bahkan bisa berasal dari lingkaran dekat Presiden.
Bahkan, bisa saja rekan berjuang sejak lama, orang-orang yang seharusnya menjadi penguat justru berubah menjadi pengganggu, memakai bayang-bayang perpecahan sebagai alat tawar untuk mempertahankan kepentingan pribadi.
Baca juga : Presiden Prabowo Bertolak ke Beijing Penuhi Undangan Presiden Xi Jinping
Ini tidak boleh dibiarkan, sebab persatuan bangsa bukanlah komoditas politik, melainkan fondasi yang harus dijaga bersama.
Supremasi sipil adalah kedaulatan rakyat yang dijalankan melalui mandat Presiden. Dukungan penuh rakyat itulah yang memberi Presiden Prabowo legitimasi moral dan politik yang tidak tergoyahkan.
Dari mandat itu, Presiden seharusnya melangkah dengan yakin, tanpa gentar pada ancaman disintegrasi yang sengaja dihembuskan. Dukungan rakyat itu bukan retorika, dia hadir dalam kenyataan seperti kesabaran menghadapi kesulitan ekonomi, tetap bekerja meski dihimpit harga-harga, hingga menolak adu domba meski digoda kebencian.
Nah, energi sosial inilah yang harus diorganisasi menjadi kekuatan pembangunan. Supremasi sipil hanya nyata bila rakyat dipandang sebagai aktor utama, sebab merekalah sumber daya tahan bangsa.
Musuh bangsa datang dari luar maupun dari dalam. Dari luar berupa tekanan ekonomi global, perebutan sumber daya, dan intervensi yang berusaha melemahkan kedaulatan. Dari dalam berupa oligarki yang menghisap produksi rakyat, ketimpangan yang merampas keadilan, serta instrumen negara yang tidak selalu setia pada mandat konstitusi.
Baca juga : Gubernur Pramono Pastikan Jakarta Sudah Kembali Pulih
Dalam menghadapi semua itu, pertahanan terkuat adalah rakyat yang bersatu. Dukungan rakyat kepada Presiden menjadi barisan yang lebih kokoh daripada sekadar senjata atau manuver diplomasi.
Dengan rakyat yang bersepakat, Presiden tidak perlu ragu melangkah, karena yang dia bawa bukan kepentingan kelompok, melainkan kehendak bangsa. Karena itu, persatuan rakyat hari ini harus menjadi pegangan utama Presiden.
Indonesia tidak sedang runtuh, melainkan sedang diuji. Ancaman disintegrasi bukan kehendak rakyat, melainkan taktik dari segelintir yang ingin memperdagangkan persatuan, bahkan kadang datang dari lingkaran dekat kekuasaan.
Nyatanya, bangsa ini sedang menguat dalam solidaritas sipil. Supremasi sipil berarti Presiden teguh berdiri sebagai pemegang mandat rakyat, mengorganisasi energi rakyat menjadi pertahanan bangsa, dan memastikan tidak ada kekuatan dari luar maupun dari dalam yang bisa memecah barisan republik.
Bersama rakyat, Presiden memiliki pangkal kekuatan untuk menjaga Indonesia tetap tegak dan berdaulat. Dalam menjaga kekuatan itu, Presiden sebaiknya memastikan lingkaran terdekat tetap sejalan dengan mandat rakyat. Mereka yang dahulu menjadi rekan perjuangan belum tentu selaras hari ini.
Baca juga : Luna Maya, Sudah Siap Hamil 2026
Evaluasi jernih terhadap rekam jejak dan komitmen mereka pada supremasi sipil menjadi langkah penting agar persatuan tidak hanya terjaga di jalanan oleh rakyat, tetapi juga kokoh di pusat kekuasaan bersama para pembantu yang benar-benar setia pada mandat rakyat.
Komitmen mereka pada supremasi sipil adalah fondasi yang memastikan kekuatan rakyat dan Presiden tetap utuh.
Penulis adalah Ketua Umum (Ketum) Relawan Prabowo Budiman Bersatu (Prabu) Arvindo Noviar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya