Dark/Light Mode

Marak Kasus Dugaan Keracunan MBG

IDAI Tulis Surat Terbuka Untuk BGN, Begini Isinya

Jumat, 26 September 2025 14:09 WIB
Kepala BGN Dadan Hindayana saat mengunjungi Posko Penanganan Dugaan Insiden Keamanan Pangan MBG di Cipongkor, Bandung Barat. (Foto: IG BGN)
Kepala BGN Dadan Hindayana saat mengunjungi Posko Penanganan Dugaan Insiden Keamanan Pangan MBG di Cipongkor, Bandung Barat. (Foto: IG BGN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan surat terbuka kepada Badan Gizi Nasional (BGN), yang berisi keprihatinan mendalam atas maraknya kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di berbagai daerah.

"Program MBG sejatinya bertujuan mulia untuk meningkatkan status gizi dan kesehatan anak Indonesia. Namun, kejadian keracunan yang terus berulang menimbulkan risiko serius bagi keselamatan anak," demikian cuplikan isi surat terbuka IDAI untuk BGN yang dipublikasikan melalui Instagram, Jumat (26/9/2025).

IDAI juga menyoroti balita dan ibu hamil yang ikut terkena dampak. Sehingga, IDAI berpendapat, kelompok rentan ini sebaiknya turut dimasukkan dalam perhatian utama.

Berikut lima poin yang ditegaskan IDAI dalam surat terbuka untuk BGN:

1. Keselamatan Anak dan Kelompok Rentan

Baca juga : MBG Dihentikan, No! MBG Dievaluasi, Yes!

Anak, balita, dan ibu hamil merupakan kelompok rentan yang harus dilindungi dari risiko keracunan makanan.

2. Keamanan Pangan

Prosedur penyediaan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan wajib sesuai standar keamanan pangan untuk mencegah kontaminasi.

3. Kualitas dan Keseimbangan Menu

Menu MBG harus bergizi seimbang dan disusun oleh ahli gizi anak dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi.

4. Pengawasan

Pengawasan diperketat. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beserta seluruh kelengkapannya harus tersertifikasi, dimonitor, dan dievaluasi oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

5. Mitigasi dan Layanan Aduan

Baca juga : Bareskrim Polri Turun Tangan Selidiki Kasus Dugaan Keracunan MBG

Perlu disiapkan prosedur mitigasi kasus keracunan melibatkan pemerintah, sekolah, dokter spesialis anak, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Pemberdayaan layanan aduan masyarakat sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah yang ada. 

"IDAI siap bekerja sama dengan pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk memastikan Makan Bergizi Gratis benar-benar memberikan manfaat kesehatan, gizi, dan masa depan yang lebih baik bagi anak Indonesia," pungkas surat tersebut.

Sejak Januari hingga 22 September 2025, BGN mencatat setidaknya ada 4.711 orang mengalami kejadian luar biasa atau keracunan Makan Bergizi Gratis. Terbanyak ada di Pulau Jawa.

Baca juga : Prihatin Maraknya Kasus Dugaan Keracunan MBG, Dasco Minta BGN Serius Ambil Sikap

Sementara catatan Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya kesenjangan besar dalam penerapan standar keamanan pangan. Dari total 1.379 Satuan Pelayanan Penyuluhan Gizi (SPPG), hanya 413 yang memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) Keamanan Pangan. Dan yang benar-benar menerapkannya, hanya 312.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.