Dark/Light Mode

Haidar Alwi: Jalan Prabowo Harus Dijaga Dengan Nurani dan Kemandirian

Jumat, 24 Oktober 2025 21:57 WIB
Haidar Alwi (berkacamata). (Foto: Ist)
Haidar Alwi (berkacamata). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Founder Haidar Alwi Care, Haidar Alwi menegaskan inti keberhasilan pemerintahan terletak pada ketenangan hidup rakyatnya. Menurutnya, kemajuan ekonomi tidak cukup diukur dari pertumbuhan angka statistik, tetapi dari rasa aman masyarakat ketika memenuhi kebutuhan pokok tanpa ketakutan terhadap lonjakan harga.

"Kemakmuran sejati bukan sekadar angka di meja birokrat. Tanggung jawab pemerintah sejati adalah menenangkan rakyat dengan kepastian hidup yang adil,” ujar Haidar Alwi di Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Haidar Alwi menegaskan, tugas negara bukan sekadar menciptakan kebijakan, tetapi memastikan ketenteraman hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat. Ia mengingatkan, negara yang kehilangan empati terhadap kesulitan warganya sejatinya sedang kehilangan arah moral.

Dalam konteks itu, Haidar menyebut bahwa negara diuji bukan di podium, melainkan di meja makan rakyat tempat di mana keadilan ekonomi diuji melalui kemampuan rakyat memenuhi kebutuhan dasarnya.

“Negara tidak dinilai dari besarnya gedung atau banyaknya proyek, tetapi dari seberapa tenang rakyatnya makan tanpa takut harga naik. Bila dapur rakyat gelisah, maka sesungguhnya hati negara sedang kehilangan arah,” tegasnya.

Baca juga : Saatnya MBG Diperkuat dengan Edukasi, Transparansi dan Kualitas Gizi di Garis Depan

Ia menyoroti pentingnya pengawasan distribusi pangan dan stabilitas harga. Meski produksi beras nasional tahun 2025 mencapai lebih dari 35 juta ton, tertinggi dalam tiga tahun terakhir harga di tingkat konsumen masih fluktuatif. Menurut Haidar, persoalan utama bukan di sawah, melainkan di rantai distribusi yang panjang dan lemahnya pengawasan pasar.

“Negara harus hadir setiap hari, memastikan rakyat tidak menjadi korban permainan harga oleh segelintir pelaku pasar,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Haidar Alwi menilai arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sudah berada di jalur yang benar dengan menempatkan kemandirian pangan dan energi sebagai prioritas utama. Menurutnya, kebijakan ini bukan semata program ekonomi, melainkan wujud nyata semangat berdikari yang diwariskan para pendiri bangsa.

“Presiden Prabowo sedang membangun pondasi agar Indonesia tidak mudah diombang-ambingkan oleh tekanan global maupun ketergantungan impor,” tutur Haidar.

Ia menegaskan, keberhasilan sejati pemerintahan bukan diukur dari besarnya proyek atau panjangnya pidato, tetapi dari keberlanjutan moral dalam setiap kebijakan. Pemerintah boleh kuat secara politik, namun harus tetap lembut terhadap rakyatnya.

Baca juga : Pemprov DKI Cari Sebab Jalan Ambles Di Penjaringan Yang Picu Kecelakaan Massal

"Dukung pemerintah bukan berarti membenarkan semua kebijakan. Dukung pemerintah berarti menjaga nurani kebangsaan agar arah pembangunan tetap berpihak pada rakyat kecil. Kritik yang jujur adalah bentuk tertinggi dari kesetiaan,” ucapnya.

Haidar menambahkan, kemandirian energi menjadi pilar penting kedaulatan nasional. Indonesia memiliki potensi besar dalam energi terbarukan seperti panas bumi, surya, angin, hingga bioenergi berbasis rakyat.

“Kemandirian energi bukan hanya soal listrik dan minyak, tetapi soal martabat bangsa agar tidak tunduk pada tekanan global,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa kebijakan tersebut sejalan dengan semangat Pasal 33 UUD 1945, yang mengamanatkan agar cabang-cabang produksi penting dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Tantangan ke depan, menurut Haidar, adalah memastikan agar program kemandirian benar-benar menyentuh lapisan bawah masyarakat.

Sebagai wujud nyata semangat ekonomi moral, Haidar Alwi menginisiasi gerakan Rakyat Bantu Rakyat, yang dijalankan melalui Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute. Gerakan ini meliputi program sosial seperti santunan dua juta anak yatim dan dhuafa, serta program 1.000 ton beras untuk rakyat.

Baca juga : Azizah Salsha, Go Public Dengan Mantan Geraldine

“Kerja kemanusiaan tidak butuh tepuk tangan, tetapi ketulusan dan konsistensi,” tegas Haidar.

Menurutnya, gerakan rakyat saling menolong bukan sekadar bentuk kedermawanan, tetapi strategi kebangsaan untuk membangun ketahanan sosial dari bawah. Ketika rakyat saling menguatkan, ketahanan bangsa tumbuh jauh lebih kokoh menghadapi guncangan ekonomi apa pun.

Haidar menutup dengan penegasan moral: keberhasilan sejati bangsa tidak diukur dari kekuatan militer atau besarnya cadangan devisa, melainkan dari kemampuan negara menumbuhkan keadilan dan ketenangan di hati rakyatnya.

“Bangsa yang besar bukan yang sibuk menaklukkan dunia, tetapi yang sabar menyejahterakan rakyatnya. Kemandirian adalah martabat. Dan martabat bangsa hanya bisa dijaga bila pemerintah dan rakyat berdiri di sisi yang sama, bekerja, berbagi, dan berjuang demi keadilan yang bisa dirasakan hingga dapur-dapur rakyat,” pungkas Haidar Alwi. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.